SLEMAN – Riuh tepuk tangan, gemerlap panggung, dan wajah-wajah penuh harap menyatu dalam suasana Malang Edu Fest 2026. Para pelajar dari berbagai penjuru daerah hadir, membawa mimpi besar dan karya terbaik mereka. Dari Malang, Nusa Tenggara Timur, Gorontalo, hingga Bone di Sulawesi Selatan, semua berkumpul dalam satu ruang yang sama yakni ruang kompetisi, sekaligus ruang pembuktian diri.
Di tengah keramaian itu, berdiri seorang pelajar dari Yogyakarta, Kenes Pelipurlara Putri. Namanya mungkin tak langsung mencuri perhatian di awal. Namun, ketika pengumuman pemenang dibacakan, namanya menggema – bukan sekali, tetapi dua kali. Kenes pulang tidak sekadar sebagai peserta. Ia pulang dengan dua medali emas nasional.
Sebagai siswa SMA Islam Al Azhar 34 Internasional Yogyakarta, Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS), Kenes menunjukkan kapasitasnya di dua ranah berbeda sekaligus. Ia meraih emas pada Olimpiade Bahasa Inggris, sekaligus menorehkan prestasi tertinggi pada Naturaco Essay Competition Tingkat Nasional.
Sebuah pencapaian yang tidak hanya menunjukkan kecerdasan akademik, tetapi juga kedalaman cara berpikir. Kenes kembali mengharumkan nama AYWS yang sebelumnya juga banyak meraih prestasi gemilang di kancah nasional maupun internasional.
Babak final yang digelar pada Sabtu, 23 Mei 2026, di Kampus 1 Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, menjadi momen penentuan. Sehari setelahnya, Minggu (24/5/2026), hasil diumumkan. Di antara ratusan peserta dari berbagai daerah, nama Kenes muncul sebagai salah satu yang terbaik.
Namun, bagi Kenes, kemenangan itu bukan sekadar tentang skor atau peringkat. Ada sesuatu yang lebih besar yang ia bawa—sebuah gagasan.
Sebuah Esai, Sebuah Realitas
Melalui esai berjudul “Niatnya Komedi Malah Jadi Tragedi: Optimalisasi Media E-book dalam Mengedukasi Generasi Z”, Kenes mengangkat isu yang sangat dekat dengan kehidupan generasinya: cara manusia menggunakan kata-kata di era digital.
Di dunia yang serba cepat dan terbuka, candaan sering kali kehilangan batas. Apa yang dianggap ringan oleh satu pihak, bisa meninggalkan luka bagi pihak lain. Kenes merangkumnya dalam satu kalimat yang sederhana, namun menghentak: “Kata-kata yang dianggap candaan hari ini, dapat menjadi luka dan trauma bagi seseorang di masa depan.”
Kalimat itu bukan sekadar kutipan. Ia adalah refleksi dari realitas yang sering terjadi, namun kerap diabaikan. Bahwa jejak digital bukan hanya soal apa yang kita bagikan, tetapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan orang lain melalui kata.
E-book sebagai Jembatan Zaman
Berangkat dari pemahaman bahwa Generasi Z hidup dalam ekosistem digital, Kenes menawarkan solusi yang relevan: pemanfaatan e-book sebagai media edukasi. Baginya, e-book bukan sekadar format digital dari buku. Ia adalah jembatan yang menghubungkan edukasi dengan dunia generasi masa kini.
Dengan akses yang fleksibel—dapat dibuka kapan saja dan di mana saja—serta dukungan visual interaktif dan bahasa yang komunikatif, e-book dinilai mampu menyampaikan pesan dengan cara yang lebih dekat dan mudah diterima.
Namun, yang membuat gagasan ini lebih bermakna adalah pesan yang dibawanya. Melalui e-book tersebut, Kenes tidak hanya ingin mengedukasi, tetapi juga membangun kesadaran tentang kesetaraan gender.
Ia menekankan bahwa kesetaraan bukan tentang siapa yang lebih kuat atau lebih unggul, melainkan tentang saling menghargai, menghormati, dan melengkapi.
Generasi Emas Butuh Karakter
Bagi Kenes, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual. Lebih dari itu, bangsa ini membutuhkan generasi dengan karakter yang kokoh.
Dalam esainya, ia menegaskan bahwa empati, moralitas, adab, serta literasi digital adalah fondasi utama dalam membentuk individu yang berintegritas. Ia bahkan mengingatkan bahwa kecerdasan dan kemampuan tidak akan berarti jika tidak diiringi dengan adab yang baik. Ketidakmampuan menjaga lisan, menurutnya, justru mencerminkan kualitas diri yang lemah.
Pesan itu ia sederhanakan dalam satu prinsip yang mudah diingat, tetapi sering dilupakan: “Saring sebelum sharing.”
Prinsip “3S” tersebut diharapkan mampu menjadi pegangan bagi Generasi Z dalam bermedia sosial, agar ruang digital tidak lagi menjadi tempat saling melukai, melainkan ruang yang sehat, inklusif, dan penuh penghargaan. Rupanya inilah rahasia yang membuat Kenes sukses meraih penghargaan sekaligus membuat para juri kagum atas gagasan anak muda yang cemerlang.
Di tengah ketatnya persaingan nasional, capaian Kenes terasa semakin istimewa. Ia menjadi satu-satunya pelajar dari Yogyakarta yang berhasil menembus babak final sekaligus meraih kemenangan.
“Finalis yang hadir tidak hanya dari Malang dan Jawa Timur, tetapi juga dari NTT, Bone, Gorontalo, Kudus, dan Semarang. Kenes menjadi satu-satunya pelajar dari Yogyakarta yang lolos dan meraih kemenangan,” ujar Endah Saraswati, ibunda Kenes.
Tak Sekadar Prestasi
Prestasi Kenes bukanlah sesuatu yang datang secara tiba-tiba. Ia dikenal sebagai pelajar dengan segudang prestasi, baik di tingkat nasional maupun internasional. Kemampuan akademik yang kuat berpadu dengan cara berpikir yang visioner menjadikannya sosok yang menonjol. Namun, yang membuatnya berbeda bukan hanya pencapaiannya, melainkan cara ia memaknai prestasi itu sendiri.
Dua medali emas yang ia bawa pulang memang berkilau. Tetapi lebih dari itu, Kenes membawa pulang sesuatu yang jauh lebih berharga—sebuah pesan. “Tentang pentingnya menjaga kata. Tentang bijak dalam bermedia. Tentang menjadi manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga beradab”.
Di tengah gemerlap panggung Malang Edu Fest 2026, kisah Kenes menjadi pengingat bahwa kemenangan sejati bukan hanya tentang menjadi yang terbaik, tetapi tentang memberi arti dan dampak bagi sesama.
Dan dari sana, harapan tentang Generasi Emas Indonesia 2045 terasa bukan sekadar wacana—melainkan sesuatu yang benar-benar sedang tumbuh, satu langkah, satu karya, dan satu suara bijak pada satu waktu. (Chaidir)







