- Kenes Pelipurlara Putri meraih dua medali emas dalam sepekan, yakni di Malaysia dan Universitas Indonesia (UI), dengan karya tentang perundungan dan aksara Jawa.
- Kenes memperoleh Golden Ticket untuk kuliah di UI tanpa tes serta dinobatkan sebagai Duta Putri Pelajar Anti Narkoba Indonesia periode 2026–2027.
- Hingga April 2026, Kenes telah mengoleksi lebih 60 medali dan meraih berbagai prestasi nasional serta internasional di bidang akademik, sains, inovasi, seni, dan literasi.
AYWS – Usia muda bukan batas untuk menorehkan prestasi besar. Kenes Pelipurlara Putri membuktikannya melalui sederet pencapaian di tingkat nasional dan internasional. Siswi SMA Islam Al Azhar 34 Internasional Yogyakarta ini kembali mengukir prestasi membanggakan dengan meraih dua medali emas dalam sepekan, sekaligus memperoleh Golden Ticket untuk melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia (UI) tanpa melalui tes.
Prestasi terbaru tersebut diraih melalui dua ajang berbeda. Satu medali emas diperoleh dalam kompetisi di Malaysia dengan mengangkat isu perundungan atau bullying, sedangkan medali emas lainnya diraih dalam kompetisi di Universitas Indonesia (UI) pada Sabtu, 17 Oktober 2026, melalui karya bertema JAWIR yang mengangkat aksara Jawa atau Hanacaraka.

Kenes Pelipurlara Putri raih Golden Ticket ke Universitas Indonesia tanpa tes.
Pencapaian itu bukan sekadar menambah koleksi penghargaan Kenes. Karyanya yang mengangkat persoalan perundungan dan kekayaan aksara Jawa menunjukkan dua perhatian penting generasi muda yakni membangun lingkungan sosial yang lebih baik sekaligus menjaga warisan budaya agar terus dikenal lintas generasi dan negara.
Keberhasilan membawa aksara Jawa ke panggung kompetisi internasional menjadi kebanggaan tersendiri bagi Yogyakarta. Di tengah perkembangan teknologi dan budaya global, Kenes memperlihatkan bahwa warisan lokal tetap memiliki ruang untuk diperkenalkan melalui kreativitas dan inovasi anak muda.
Ayah Kenes, Kelik Pelipurlara, mengungkapkan rasa syukur atas pencapaian putrinya tersebut. “Alhamdulillah dalam seminggu meraih dua Gold Medal. Satu di Malaysia dan satunya pada Sabtu, 17 Oktober 2026, diraih di UI (Universitas Indonesia). Sembah nuwun atas doa dan support. Semoga berkah dan semoga ke depannya akan lebih baik lagi,” ujar Kelik, Senin (19/10/2026).
Bagi keluarga Kenes, pencapaian itu menjadi kebahagiaan sekaligus motivasi untuk terus mengembangkan potensi dan meraih prestasi yang lebih baik pada masa mendatang.
Golden Ticket UI, Buah Prestasi dan Inovasi
Salah satu kabar paling menarik dari prestasi terbaru Kenes adalah kesempatan memperoleh Golden Ticket untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Indonesia tanpa tes. Kesempatan tersebut menjadi pencapaian penting dalam perjalanan akademiknya. Selain penghargaan berupa medali emas, prestasi yang diraih melalui kompetisi juga membuka peluang bagi Kenes untuk melangkah ke jenjang pendidikan tinggi.

Terlepas dari itu, prestasi Kenes memperlihatkan bagaimana kompetisi dapat menjadi ruang bagi pelajar untuk mengembangkan kemampuan sekaligus memperluas kesempatan pendidikan.
Karya JAWIR yang mengangkat aksara Jawa juga memberikan warna tersendiri. Hanacaraka bukan sekadar rangkaian aksara tradisional, melainkan bagian dari identitas budaya yang perlu terus dikenalkan kepada generasi muda.
Ketika kekayaan budaya tersebut diangkat melalui sebuah karya inovatif dan dibawa ke kompetisi berskala internasional, terbuka kesempatan untuk memperkenalkan warisan Indonesia kepada khalayak yang lebih luas.
Sementara itu, isu perundungan yang diangkat Kenes dalam kompetisi di Malaysia memperlihatkan kepeduliannya terhadap persoalan sosial yang dekat dengan kehidupan pelajar. Dua tema tersebut menghadirkan pesan yang berbeda, tetapi sama-sama relevan: inovasi dapat digunakan untuk memperkenalkan identitas budaya sekaligus mendorong perubahan sosial yang positif.
Dinobatkan sebagai Duta Putri Pelajar Anti Narkoba Indonesia 2026–2027
Prestasi Kenes tidak berhenti pada medali emas dan kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi. Ia juga terpilih dan dinobatkan sebagai Duta Putri Pelajar Anti Narkoba Indonesia tingkat nasional periode 2026–2027.
Penobatan ini melanjutkan rekam jejak Kenes dalam kegiatan edukasi antinarkoba. Pada November 2025, ia sebelumnya meraih gelar The Winner of Duta Pelajar Anti Narkoba Indonesia 2025 dan Duta Intelegensia Pelajar Anti Narkoba Indonesia 2025.
Melalui peran tersebut, Kenes memiliki kesempatan untuk ikut menyuarakan pentingnya pencegahan penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar. Edukasi, komunikasi yang tepat, serta keterlibatan anak muda menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran tentang risiko narkoba dan pentingnya lingkungan pergaulan yang sehat.
Penobatan sebagai duta nasional juga memberikan dimensi berbeda pada profil prestasinya. Ia tidak hanya berkompetisi untuk mendapatkan penghargaan, tetapi juga memperoleh peran yang berkaitan dengan tanggung jawab sosial.
Dengan demikian, perjalanan Kenes memperlihatkan perpaduan antara pencapaian akademik, kreativitas, pelestarian budaya, dan kepedulian terhadap persoalan yang dihadapi generasi muda.
Mengoleksi lebih 60 Medali, dari Olimpiade hingga Kompetisi Internasional
Sebelum meraih dua medali emas terbaru, Kenes telah memiliki rekam jejak prestasi yang mengesankan. Hingga kini ia tercatat mengoleksi lebih dari 60 medali terdiri emas, perak, perunggu, dan Honorable Mention.
Medali-medali tersebut diperoleh melalui berbagai kompetisi akademik dan bidang lain yang menguji kemampuan pengetahuan, penalaran, bahasa, serta kreativitas.
Dalam bidang akademik, Kenes meraih medali emas antara lain pada Indonesian Youth Science Olympiad (IYSO), National Science Olympiad Biru, dan Brains Science Olympiad. Ia juga memperoleh emas dalam Independence Creation Olympiad (ICO) untuk bidang Fisika.
Di bidang matematika, Kenes meraih medali perunggu dalam International Kangaroo Mathematics Contest (IKMC) 2025. Sementara itu, kemampuannya dalam bahasa Inggris membawanya meraih sejumlah penghargaan dalam kompetisi akademik tingkat nasional.
Rentang prestasi tersebut menunjukkan bahwa Kenes tidak membatasi diri pada satu bidang. Ia menjajal berbagai kompetisi sebagai ruang untuk mengembangkan kemampuan dan menguji hasil belajarnya.
Emas ISIF 2025, Tonggak Prestasi Sains Internasional
Salah satu pencapaian internasional Kenes sebelumnya adalah medali emas dalam International Science and Invention Fair (ISIF) 2025 di Bali. Kompetisi tersebut menjadi salah satu ajang bagi pelajar untuk menunjukkan kemampuan dalam sains dan inovasi. Keberhasilan Kenes di ISIF memperkuat rekam jejaknya dalam kompetisi yang menuntut pemikiran analitis dan pengembangan gagasan.
Pengalaman mengikuti kompetisi sains juga menjadi bekal untuk mengembangkan karya yang tidak hanya berorientasi pada hasil perlombaan, tetapi juga mengangkat persoalan yang dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Perjalanan itu kemudian berlanjut melalui berbagai kompetisi berikutnya, termasuk ajang yang mengangkat isu sosial dan budaya.
Dua Emas Malang Edu Fest 2026, Mengangkat Isu Perundungan
Pada Malang Edu Fest 2026, Kenes meraih dua medali emas tingkat nasional melalui Olimpiade Bahasa Inggris dan Naturaco Essay Competition. Dalam kompetisi esai, ia mengangkat pemanfaatan buku elektronik untuk mengedukasi Generasi Z mengenai dampak candaan yang dapat melukai orang lain.
Gagasan tersebut relevan dengan kehidupan remaja yang semakin akrab dengan komunikasi digital. Sesuatu yang dianggap sebagai lelucon oleh satu orang belum tentu diterima dengan cara yang sama oleh orang lain.
Melalui pendekatan literasi, isu tersebut dapat dibahas secara lebih luas, mulai dari pentingnya empati hingga tanggung jawab dalam menggunakan media digital. Tema ini memiliki keterkaitan dengan perhatian Kenes terhadap persoalan perundungan yang kembali muncul dalam karya terbarunya di Malaysia. Keduanya menempatkan komunikasi, kesadaran sosial, dan penghormatan terhadap orang lain sebagai hal penting dalam kehidupan generasi muda.
Membawa Gagasan Dukungan Emosional ke Panggung Dunia
Pada World Invention Competition and Exhibition (WICE) 2026 di Malaysia, Kenes menjadi anggota tim pengembang NEST (*Network for Emotional Support and Trust*), yang meraih medali emas. Karya tersebut mengangkat gagasan mengenai dukungan emosional dan ruang aman yang dibangun atas dasar kepercayaan.
Bersama Aurora Wishly, Raffa Hudha, Daffa Almair, Syailendra Satriya Sularso Narendra, dan Divo Excel Marvian, Kenes mengembangkan gagasan yang berkaitan dengan kebutuhan generasi muda untuk memperoleh dukungan, merasa didengar, dan membangun hubungan yang suportif.
WICE 2026 diselenggarakan oleh Indonesian Young Scientist Association (IYSA) bekerja sama dengan SEGi University, Malaysia. Ajang tersebut menjadi ruang bagi pelajar untuk memperkenalkan karya dan inovasi kepada lingkungan internasional.
Selain mengikuti kompetisi, para murid juga berkesempatan mengenal lingkungan pendidikan tinggi melalui kunjungan ke Monash University Malaysia.
Prestasi NEST menunjukkan bahwa inovasi pelajar dapat berangkat dari persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Gagasan ilmiah tidak selalu harus membahas teknologi atau persoalan teknis, tetapi juga dapat diarahkan untuk memahami kebutuhan manusia dan lingkungan sosialnya.
Berprestasi dalam Seni Vokal dan Literasi
Kenes juga menunjukkan kemampuan di luar bidang sains dan akademik. Pada Festival dan Lomba Kreasi Al Azhar Indonesia (FELKA) 2026, ia meraih Juara 1 Solo Vocal. Pencapaian itu menjadi debutnya dalam kompetisi tersebut. Keberhasilan meraih posisi tertinggi memperlihatkan sisi lain dari kemampuan Kenes dalam mengembangkan potensi diri melalui seni.
Sebelumnya, ia juga tercatat meraih juara dalam lomba membaca puisi tingkat provinsi dan menjadi finalis lomba pidato bahasa Inggris tingkat nasional. Sejumlah puisinya disebut pernah dimuat dalam antologi pelajar.
Pengalaman di bidang seni dan literasi melengkapi rekam prestasinya dalam olimpiade dan kompetisi inovasi. Kemampuan berpikir analitis, kreativitas, dan komunikasi menjadi bagian dari proses pengembangan diri yang saling melengkapi.
Mengenal Dunia Internasional Sejak Dini
Pengalaman Kenes dalam kegiatan internasional telah dimulai sebelum berbagai prestasi terbarunya. Pada 2024, ia terpilih mengikuti Japan Short Course Program. Dalam program tersebut, Kenes juga tampil sebagai *student performer* untuk memperkenalkan budaya Indonesia. Pengalaman ini memberinya kesempatan untuk berinteraksi dengan lingkungan yang berbeda sekaligus membawa identitas budaya Indonesia ke hadapan peserta lain.
Di sekolah, Kenes tercatat pernah menjadi ketua kelas selama tiga tahun berturut-turut serta menjadi pengurus OSIS bidang Pengembangan Karakter. Pengalaman tersebut melengkapi pencapaian kompetitifnya. Jika kompetisi menguji kemampuan individu dan kerja tim, organisasi memberikan ruang untuk belajar memimpin, berkomunikasi, serta menjalankan tanggung jawab.
Lebih dari Sekadar Deretan Medali
Kisah Kenes Pelipurlara Putri memperlihatkan bahwa prestasi pelajar dapat tumbuh melalui beragam jalur. Ia berkompetisi dalam sains, matematika, dan bahasa; mengembangkan kemampuan melalui seni; serta terlibat dalam karya yang mengangkat isu sosial dan budaya.
Dua medali emas dalam sepekan, Golden Ticket menuju Universitas Indonesia, dan penobatan sebagai Duta Putri Pelajar Anti Narkoba Indonesia periode 2026–2027 menjadi pencapaian terbaru yang memperkuat perjalanan tersebut.
Sementara itu, rekam jejak lebih dari 60 medali hingga kini menunjukkan bahwa berbagai keberhasilan itu dibangun melalui proses panjang, bukan hanya satu momentum kompetisi.
Kenes juga memperlihatkan bahwa pelajar dapat mengambil peran dalam memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia. Melalui JAWIR dan Hanacaraka, ia membawa aksara Jawa ke ruang kompetisi yang lebih luas, sekaligus mengingatkan bahwa warisan budaya memiliki peluang untuk terus berkembang melalui kreativitas generasi muda.
Dari Yogyakarta, perjalanan Kenes menghadirkan gambaran tentang anak muda yang terus berusaha mengembangkan kemampuan di berbagai bidang. Prestasi menjadi penanda perjalanan, sedangkan pengetahuan, kreativitas, karakter, dan kepedulian sosial menjadi bekal untuk melangkah lebih jauh.
Deretan penghargaan yang telah diraihnya membuka banyak kemungkinan untuk masa depan. Tantangan berikutnya bukan sekadar menambah koleksi medali, melainkan bagaimana pengalaman dan gagasan yang dikembangkan dapat memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat. (Chaidir)






