SLEMAN — Di tengah perubahan besar dalam sistem penilaian pendidikan nasional melalui Tes Kemampuan Akademik (TKA) dan Tes Kemampuan Akademik Daerah (TKAD), SD Islam Al Azhar 31 Yogyakarta justru menunjukkan capaian yang melampaui ekspektasi.
Bukan sekadar berprestasi, sejumlah siswanya berhasil meraih nilai sempurna 100—angka tertinggi—baik di tingkat nasional maupun daerah. Namun, ada fakta yang membuat capaian ini terasa jauh lebih Istimewa yaitu para peraih nilai 100 di TKA Matematika ternyata adalah para penghafal Alquran.
Mereka adalah Muhammadi Kyozie Ammar AM, Ameera Khadija Arvianto, dan Zufar Faruq Marufi, seluruhnya dari kelas 6 Ibnu Fadlan—kelas Tahfidz. Kyozie telah menghafal 10 juz, Zufar 11 juz, dan Ameera 7 juz.
Di tengah aktivitas menghafal Alquran yang menuntut konsistensi tinggi, ketiganya justru mampu menaklukkan matematika dengan nilai sempurna. Ini bukan sekadar prestasi akademik, melainkan perpaduan antara kekuatan spiritual dan intelektual.
Matematika dan Hafalan, Dua Dunia yang Menyatu
Kyozie, salah satu peraih nilai 100, mengaku sempat merasa gugup sebelum mengerjakan soal. “Agak takut dikit ya,” ujarnya jujur saat diwawancarai pada Sabtu (30/5/2026). Namun, rasa itu segera hilang begitu ia mulai mengerjakan.
Bagi Kyozie, matematika bukan pelajaran yang menakutkan. Justru sebaliknya, ia sudah terbiasa meraih nilai sempurna sejak kecil. “Saya sering dapat seratus, Pak,” katanya santai.
Kecintaannya pada matematika sudah tumbuh sejak kelas satu SD. Ia bahkan telah mengikuti berbagai kompetisi, termasuk OSN, KMNR, hingga OSA, dengan koleksi medali dari bronze hingga gold. Strateginya sederhana namun efektif yakni fokus, kerjakan soal berurutan, dan jika menemui kesulitan, lewati terlebih dahulu. “Kalau bingung, saya skip dulu. Nanti dicek lagi di akhir,” jelasnya.
Di balik itu semua, kesehariannya juga diisi dengan menghafal Alquran—sebuah disiplin yang tanpa disadari turut membentuk ketajaman fokus dan daya ingatnya.
Ketelitian Jadi Kunci di Bahasa Indonesia
Prestasi gemilang juga hadir dari mata pelajaran Bahasa Indonesia. Lima siswa berhasil meraih nilai 100, salah satunya adalah Sheena Dzakira Basalamah.
Bagi Sheena, kunci keberhasilan bukan pada kecerdasan semata, tetapi pada kebiasaan belajar yang konsisten. Ia terbiasa membaca buku dan mengerjakan latihan soal dari berbagai sumber seperti Algendon, Siap Uji, dan Ultra.
“Lumayan gampang-gampang sih, tapi ada juga yang menjebak,” ujarnya.
Salah satu soal yang cukup menantang baginya adalah soal cerita bertema wayang. Namun, ia tidak panik. Ia memilih membaca ulang soal dengan tenang hingga menemukan jawaban yang tepat. Strateginya jelas yaitu dahulukan soal mudah, sisihkan yang sulit, lalu kembali lagi di akhir.
Menjelang ujian, ia sempat merasa deg-degan. Namun, keyakinan menjadi penenangnya. “Insya Allah bisa,” ucapnya.
Disiplin dan Konsistensi di TKAD IPAS
Prestasi juga berlanjut di tingkat daerah melalui TKAD IPAS. Tiga siswa berhasil meraih nilai 100, salah satunya Denandra Iqbal Alvano Rasya. Bagi Alvano, IPAS adalah soal ketekunan. “Kalau IPAS itu memang harus dihafal, nggak mungkin salah terus,” katanya.
Ia menjalani proses belajar yang intens, mulai dari program pendalaman materi di sekolah hingga bimbingan belajar dan les privat di rumah. Kombinasi ini membuat pemahamannya semakin kuat.
Meski demikian, ia tetap santai saat ujian. “Kalau susah, saya lewatin dulu,” ujarnya.
Di luar akademik, Alvano aktif di dunia olahraga dan bercita-cita menjadi atlet. Ia membuktikan bahwa prestasi akademik dan minat pribadi bisa berjalan beriringan.
Didukung Capaian Akademik yang Merata
Menurut Wakil Kepala Satuan Pendidikan, Norma Widayati SPT Mpd, capaian ini bukan hanya prestasi individu, tetapi hasil dari sistem pembelajaran yang kuat.
Pada pelaksanaan TKA yang berskala nasional, terdapat tiga siswa yang berhasil meraih nilai sempurna 100 pada mata pelajaran Matematika. Mereka adalah Muhammadi Kyozie Ammar AM, Ameera Khadija Arvianto, dan Zufar Faruq Marufi, yang seluruhnya berasal dari kelas 6 Ibnu Fadlan. Ternyata mereka merupakan para murid pengahafal quran (hafidz). Kyozie hafal 10 juz, Zufar hafal 11 juz, dan Ameera hafal 7 juz. Kelas Fadlan adalah kelas Tahfidz di SD Islam Al Azhar 31 Yogyakarta.
Sementara itu, pada TKA Bahasa Indonesia, capaian nilai 100 diraih oleh lima siswa, yakni Mevlidta Aerilyn Nareswari (kelas 6 Ibnu Haitsam), Mahdiyah Raziq Aidan Hanania (kelas 6 Ibnu Fadlan), Griselda Kariza Nafilma (kelas 6 Ibnu Rusyd), Sheena Dzakira Basalamah (kelas 6 Ibnu Sina), serta Valerie Gweneysha Adistian (kelas 6 Ibnu Khaldun).
Tak hanya di tingkat nasional, prestasi serupa juga ditorehkan pada TKAD Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta. Tiga siswa yang berhasil meraih nilai sempurna adalah Avisenna Raditya Somasta (kelas 6 Ibnu Rusyd), Nabila Aiko Mikhayla (kelas 6 Ibnu Khaldun), serta Denandra Iqbal Alvano Rasya (kelas 6 Ibnu Haitsam).
Rata-rata nilai siswa menunjukkan performa yang konsisten:
- TKA Matematika: 73,21
- TKA Bahasa Indonesia: 85,35
- TKAD IPAS: 80,95
Distribusi nilai pun sangat kompetitif. Sebanyak 81 siswa meraih nilai di atas 240, 67 siswa di atas 250, hingga 7 siswa menembus angka 280, dengan nilai tertinggi mencapai 290. “Ini menunjukkan kualitas siswa yang merata, tidak hanya unggul di beberapa individu,” ungkapnya.
Prestasi ini bukan hanya tentang angka 100. Ia adalah cerminan dari proses panjang bahwa disiplin belajar, kekuatan mental, dukungan lingkungan, serta nilai-nilai spiritual yang tertanam kuat.
Khususnya pada para siswa Tahfidz, keberhasilan ini menjadi pesan kuat bahwa menghafal Alquran tidak menghambat prestasi akademik—justru dapat berjalan seiring dan saling menguatkan.
Di tengah perubahan sistem pendidikan, siswa-siswa SD Islam Al Azhar 31 Yogyakarta membuktikan satu hal bahwa keunggulan sejati lahir dari keseimbangan antara ilmu, usaha, dan nilai-nilai yang dipegang teguh. Dan dari sana, lahirlah generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter kuat. (Chaidir)







