- Belajar sehat dan kuat: Anak-anak diajak mengenal anggota tubuh serta pentingnya menjaga kesehatan dan kebugaran sejak dini.
- Polisi jadi sahabat anak: Kehadiran polisi, boneka polisi dan polwan membuat pembelajaran berlangsung akrab, ceria, dan menyenangkan.
- Belajar keselamatan: Anak-anak mengenal rambu lalu lintas, cara menyeberang jalan dengan aman, serta pentingnya memakai helm.
AYWS – Ada yang berbeda dari suasana belajar anak-anak KB Islam Al Azhar 31 Yogyakarta. Kali ini, bukan hanya guru yang berdiri di depan kelas. Sosok polisi hadir menyapa mereka. Bahkan, suasana semakin meriah ketika boneka polisi dan polwan ikut menemani. Senyum, tawa, dan rasa penasaran pun langsung terlihat dari wajah anak-anak.
Bagi mereka, kehadiran polisi bukan lagi sesuatu yang terasa jauh. Polisi hadir begitu dekat, mengajak bermain, berbincang, sekaligus belajar bersama. Dari suasana yang menyenangkan itulah, anak-anak diajak mengenal satu hal penting: bagaimana menjaga tubuh agar tetap sehat dan kuat.
Kegiatan ko-kurikuler bertema “Mengenal Profesi Polisi” yang digelar Jumat lalu, 18 September 2026, tersebut menghadirkan narasumber dari Polresta Sleman. Kegiatan menjadi bagian dari pembelajaran tema “Diri Sendiri” yang mengajak anak mengenal anggota tubuh, memahami pentingnya kesehatan, serta membangun kebiasaan menjaga tubuh sejak usia dini.
Di tengah keceriaan itu, anak-anak diperkenalkan dengan sosok polisi sekaligus tugas yang diembannya. Mereka belajar bahwa menjadi polisi tidak hanya membutuhkan keberanian, tetapi juga tubuh yang sehat dan kuat.
Kompol Riski Adrian SIK MH, Kasubbag Mutjab Bag Binkar Ro SDM Polda DIY sekaligus wali murid, menjelaskan bahwa kondisi fisik menjadi bagian penting dalam menjalankan tugas kepolisian.
“Anak-anak perlu belajar mengenal anggota tubuhnya dan bagaimana cara menjaga kesehatan serta kekuatan tubuh. Tubuh yang sehat dan kuat sangat penting karena seorang polisi dalam menjalankan tugasnya membutuhkan kondisi fisik yang baik,” ujarnya.
Pesan tersebut kemudian terasa semakin dekat dengan dunia anak. Mereka tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga diajak mengenal anggota tubuh dan memahami bahwa tubuh yang sehat membuat mereka lebih leluasa bermain, belajar, bergerak, dan melakukan berbagai aktivitas.
Keseruan belum berhenti di sana. Anak-anak juga diajak mengenal rambu-rambu lalu lintas, belajar cara menyeberang jalan dengan aman, serta memahami pentingnya memakai helm ketika berkendara.
Semua disampaikan dengan cara yang ringan dan menyenangkan. Kehadiran boneka polisi dan polwan membuat suasana semakin akrab. Anak-anak pun bisa belajar tentang keselamatan di jalan tanpa merasa sedang menerima pelajaran yang kaku.
Bagi anak-anak, pengalaman tersebut menjadi sesuatu yang berbeda. Mereka bisa melihat sosok polisi dari dekat, berinteraksi, tertawa bersama, sekaligus mendapatkan pengetahuan yang dapat mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Di sinilah pesan “Polisi Sahabat Anak” terasa nyata.
Ketut Titi Alawiyah SAg SPd, Kepala Satuan Pendidikan KB Islam Al Azhar 31 Yogyakarta, mengatakan kegiatan tersebut tidak sekadar mengenalkan profesi polisi kepada anak, tetapi juga membangun hubungan positif antara anak dan polisi.
“Melalui kegiatan Polisi Sahabat Anak ini, kami ingin anak-anak mengenal polisi lebih dekat. Dengan hadir dan berinteraksi langsung bersama anak-anak, diharapkan muncul rasa nyaman sehingga anak tidak lagi merasa takut terhadap sosok polisi. Justru anak dapat mengenal polisi sebagai sahabat yang bertugas membantu dan melindungi masyarakat,” ungkapnya.
Bagi sekolah, pengalaman seperti ini menjadi bagian penting dari pembelajaran anak usia dini. Sebab, anak tidak hanya belajar melalui kata-kata, tetapi juga melalui pengalaman, interaksi, dan suasana yang mereka rasakan secara langsung.
Hari itu, polisi hadir bukan sekadar memperkenalkan seragam dan profesinya. Ada pesan sederhana yang dibawa pulang anak-anak: tubuh harus dijaga agar tetap sehat dan kuat, keselamatan harus diperhatikan, dan aturan lalu lintas perlu dipatuhi.
Sementara boneka polisi dan polwan menghadirkan keceriaan yang membuat pesan-pesan tersebut lebih mudah diterima. Dari sebuah kegiatan sederhana, anak-anak mendapatkan pengalaman yang cukup berarti. Mereka belajar tentang profesi, kesehatan, keselamatan, sekaligus mengenal polisi sebagai sosok yang dekat, ramah, dan siap membantu.
Sebab, belajar bagi anak-anak tidak harus selalu duduk diam di dalam kelas. Kadang, pelajaran paling berkesan justru hadir ketika mereka bisa tersenyum, tertawa, bermain, dan bertemu langsung dengan sosok yang selama ini hanya mereka lihat dari kejauhan. (Fadhil)






