- Santri sekaligus dalang cilik: Tanoyo Jalunindyo menunjukkan bahwa santri juga dapat mengembangkan bakat seni dan budaya.
- Wakili Gunungkidul: Tanoyo dipercaya tampil dalam Lomba Dayang Wayang Golek Anak Tingkat Provinsi DIY.
- Melestarikan budaya: Keberanian Tanoyo memainkan wayang menjadi bagian dari upaya generasi muda menjaga seni tradisional Jawa.
AYWS – Suasana panggung berubah ketika seorang anak berdiri di balik wayang. Di tangannya, tokoh-tokoh wayang bukan sekadar benda yang dimainkan. Mereka seolah memiliki cerita, karakter, dan kehidupan sendiri. Suara, gerakan, serta keberaniannya tampil membuat siapa pun yang menyaksikan ingin tahu, siapa sebenarnya anak yang mampu memainkan wayang dengan begitu percaya diri itu?
Dialah Tanoyo Jalunindyo, seorang santri Pondok Pesantren Islam Al Azhar Wonosari, Gunungkidul, yang memiliki kecintaan terhadap seni dan budaya Jawa.
Menariknya, di tengah kesehariannya sebagai santri, Tanoyo juga menekuni dunia pedalangan. Bukan sekadar mengenal wayang, ia berani tampil sebagai dalang cilik dan membawa kemampuannya hingga ke panggung tingkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Kesempatan itu hadir ketika Tanoyo dipercaya mewakili Kabupaten Gunungkidul dalam Lomba Dayang Wayang Golek Anak Tingkat Provinsi DIY yang digelar Kundha Kabudayan Daerah Istimewa Yogyakarta pada 23–24 Juli 2026 LALU di Societeit Militair, Taman Budaya Yogyakarta.
Di ajang tersebut, Tanoyo menjadi salah satu dari lima peserta yang mewakili kabupaten/kota di DIY. Ia membawa nama Gunungkidul, berdiri di antara para peserta dari Kota Yogyakarta, Bantul, Sleman, dan Kulon Progo.
Bagi seorang anak, tampil dalam panggung seperti itu tentu bukan perkara sederhana. Ada keberanian yang harus dibangun, ada kemampuan yang harus dilatih, dan ada tanggung jawab ketika nama daerah dibawa ke tingkat provinsi. namun Tanoyo menjalaninya.
Ia tampil sebagai seorang dalang cilik dengan kemampuan yang membuat perjalanan tersebut menjadi lebih dari sekadar pengalaman mengikuti perlombaan.
Santri yang Tidak Hanya Belajar di Ruang Kelas
Kisah Tanoyo sekaligus memperlihatkan bahwa dunia santri memiliki ruang yang begitu luas. Menjadi santri tidak berarti hanya berkutat dengan buku pelajaran dan aktivitas keagamaan. Di pesantren, anak-anak juga memiliki kesempatan untuk mengenali potensi dirinya, mengembangkan bakat, berani tampil, sekaligus belajar mencintai kebudayaan yang tumbuh di sekitarnya. Tanoyo menjadi salah satu gambaran dari semangat tersebut.
Di satu sisi, ia menjalani kehidupan sebagai santri. Di sisi lain, ia menekuni seni pedalangan dan berani tampil membawa kesenian tradisional Jawa ke hadapan publik.
Perpaduan itu menjadi menarik. Seorang anak dari Gunungkidul, yang tumbuh dalam lingkungan pesantren, justru ikut mengambil peran dalam menjaga seni tradisi agar tetap memiliki tempat di tengah generasinya. Sebab wayang bukan hanya tentang tokoh-tokoh yang dimainkan di atas panggung. Di dalamnya terdapat cerita, nilai, karakter, filosofi, dan warisan budaya yang telah melewati perjalanan panjang.
Ketika anak seusia Tanoyo mau mempelajarinya, kemudian berani tampil sebagai dalang, ada sebuah pesan penting yang ikut dibawa: budaya akan terus hidup ketika generasi muda mau mengenal dan meneruskannya.
Dari Gunungkidul, Membawa Cerita ke Panggung Provinsi
Keikutsertaan Tanoyo di tingkat provinsi menjadi pengalaman berharga dalam perjalanan seninya. Ia tidak hanya tampil untuk dirinya sendiri. Di balik penampilannya, ada nama Gunungkidul yang dibawanya ke panggung. Ada pula pesan bahwa anak-anak dari daerah memiliki kesempatan untuk tumbuh, berkarya, dan menunjukkan kemampuan mereka di ruang yang lebih luas.
Lebih dari itu, keberanian Tanoyo tampil sebagai dalang cilik menunjukkan bahwa seni tradisional masih bisa menemukan tempat di hati anak-anak.
Di tengah dunia yang semakin dekat dengan teknologi dan hiburan modern, Tanoyo justru memilih menekuni salah satu kesenian tradisional yang membutuhkan ketekunan dan keberanian untuk memainkannya.
Inilah yang membuat sosoknya menarik untuk dikenang bukan hanya karena pernah mengikuti sebuah lomba. Tanoyo menunjukkan bahwa menjadi santri dan mencintai budaya bukanlah dua hal yang harus dipisahkan. Keduanya bisa berjalan bersama.
Dari lingkungan pesantren, ia belajar berilmu dan berakhlak. Dari seni pedalangan, ia belajar keberanian, kreativitas, sekaligus mencintai warisan budaya. Dan dari Gunungkidul, seorang dalang cilik sedang belajar menapaki panggungnya sendiri.
Mungkin perjalanan Tanoyo sebagai dalang masih panjang. Namun satu hal sudah dimulainya: berani memegang wayang, berani tampil, dan berani membawa budaya Jawa ke hadapan generasinya. Sebab siapa tahu, dari tangan kecil seorang santri hari ini, kelak lahir seorang dalang besar yang bukan hanya memainkan wayang, tetapi juga ikut menjaga agar cerita dan budaya Jawa tetap hidup. (Ichya’ul Haqiqi)






