Prof Rochmat Wahab Dorong AYWS-HAWS Bentuk Tim Pengembang dan Talent Scouting untuk Perkuat Budaya Prestasi

  • Bangun Sistem Pembinaan Prestasi: Prof Dr H Rochmat Wahab menekankan pentingnya pembinaan terencana, terstruktur, dan berkelanjutan untuk mewujudkan AYWS-HAWS sebagai sekolah unggul.
  • Bentuk Tim Pengembang dan Talent Scouting: Kedua tim diusulkan untuk mengoordinasikan kebijakan pengembangan talenta sekaligus menemukan, memetakan, dan mengidentifikasi bakat serta minat setiap siswa.
  • Ciptakan Budaya Prestasi Berkelanjutan: Pembinaan mencakup bidang akademik dan nonakademik, disertai pelatihan, pendampingan, monitoring, dan evaluasi agar setiap siswa berkesempatan mengembangkan potensi terbaiknya.

AYWS – Penguatan prestasi di lingkungan Al Azhar Yogyakarta World School (AYWS)-HAWS membutuhkan sistem pembinaan yang terencana, terstruktur, dan berkelanjutan. Tidak cukup hanya mengandalkan program kompetisi atau mengejar capaian penghargaan, sekolah perlu memiliki mekanisme yang mampu mengenali potensi setiap siswa, mengembangkan bakat dan minat, sekaligus memastikan mereka memperoleh pendampingan yang tepat.

Gagasan tersebut disampaikan Prof Dr H Rochmat Wahab MPd MA, Dewan Pakar AYWS, saat berbicara dalam acara Penguatan Prestasi AYWS-HAWS di Auditorium Al Hafidh, Kampus 1 AYWS, Sabtu (31/10/2026).

Dalam paparannya, Rochmat Wahab menekankan bahwa membangun AYWS-HAWS menjadi sekolah unggul merupakan sebuah big dream yang harus ditopang strategi pembinaan budaya prestasi. Prosesnya mencakup identifikasi potensi, penumbuhan dan pengembangan kemampuan, hingga pendampingan secara konsisten.

Salah satu langkah strategis yang ditawarkan adalah membentuk Tim Pengembang dan Tim Talent Scouting. Keduanya dirancang menjadi bagian penting dari sistem yang menghubungkan perencanaan, pemetaan potensi siswa, pelaksanaan pembinaan, hingga evaluasi hasil pengembangan prestasi.

Tim Pengembang memiliki peran dalam mengoordinasikan arah dan kebijakan pengembangan talenta di lingkungan AYWS-HAWS. Dalam rancangan yang dipaparkan Rochmat, unsur tim ini melibatkan Dewan Pakar, Tim Pengembang Pendidikan, kepala sekolah jenjang TK, SD, SMP, dan SMA, wakil kepala sekolah bidang kurikulum dan kesiswaan, serta sekretariat.

Keberadaan tim tersebut diharapkan membuat pembinaan prestasi tidak berjalan sendiri-sendiri di setiap satuan pendidikan. Sebaliknya, seluruh unit memiliki arah, panduan, dan kerangka kerja yang saling terhubung. Panduan pengembangan talenta juga perlu disiapkan, meliputi pedoman umum, bidang akademik, seni dan budaya, olahraga, serta agama.

Sementara itu, Tim Talent Scouting berperan lebih operasional dalam menemukan dan memetakan potensi siswa. Tim ini dirancang melibatkan koordinator bidang akademik, agama atau Al-Qur’an, seni budaya, olahraga, dan bahasa, didukung sekretariat.

Proses penjaringan talenta dilakukan melalui nominasi, tes minat dan bakat, serta pendokumentasian, pengolahan, dan interpretasi data. Hasilnya menjadi dasar untuk mengidentifikasi kemampuan, bakat, dan minat siswa, sekaligus mengelompokkan mereka ke dalam bidang akademik maupun nonakademik sesuai potensi masing-masing.

Dengan mekanisme tersebut, pembinaan diharapkan tidak hanya diberikan kepada siswa yang sejak awal telah menonjol atau memiliki rekam jejak prestasi. Potensi yang mungkin belum terlihat juga dapat dikenali dan memperoleh kesempatan untuk berkembang.

Setelah pemetaan dan penempatan dilakukan, tahapan berikutnya adalah pembinaan dan evaluasi. Rochmat memasukkan sejumlah langkah, antara lain penyediaan layanan pendidikan dan pembelajaran, pengaturan kegiatan pelatihan, pemberian bimbingan dan advokasi, serta monitoring dan evaluasi.

Rangkaian ini menunjukkan bahwa pengembangan prestasi tidak berhenti pada proses seleksi atau penentuan siswa untuk mengikuti kompetisi. Ada tanggung jawab berkelanjutan untuk menyiapkan program latihan, memberikan dukungan, memantau perkembangan, dan mengevaluasi efektivitas pembinaan.

Fokus pengembangan pun tidak dibatasi pada capaian akademik. Rochmat memetakan pembinaan ke dalam dua ranah besar, yakni akademik dan nonakademik. Pada bidang akademik, jalurnya mencakup Olimpiade Sains Nasional (OSN), International Science Olympiades (ISO), riset dan inovasi, literasi dan esai internasional, pembelajaran STEM berbasis pola pikir kritis, serta Cambridge Center dan penguatan bahasa.

Adapun bidang nonakademik mencakup pengembangan potensi siswa di berbagai bidang, sehingga prestasi dapat tumbuh melalui beragam jalur sesuai kemampuan dan ketertarikan masing-masing.

Gagasan pembentukan Tim Pengembang dan Tim Talent Scouting menjadi penting karena budaya prestasi tidak dapat dibangun hanya melalui kegiatan yang bersifat insidental. Diperlukan organisasi yang memiliki pembagian peran jelas, data potensi siswa yang terkelola, program pembinaan yang terarah, serta evaluasi yang dilakukan secara berkesinambungan.

Dengan demikian, setiap siswa memiliki ruang untuk menemukan dan mengembangkan keunggulannya. Pada saat yang sama, sekolah mempunyai sistem yang dapat memastikan proses pembinaan berlangsung secara terukur dan berkelanjutan.

Acara tersebut dihadiri Ketua Yayasan Asram/BPPH AYWS Drs HA Hafidh Asrom MM, Wakil Ketua Bidang Akademik BPPH AYWS Suhartini MPd, Wakil Ketua Bidang Keagamaan Dr Yogi E Ginanjar, Wakil Ketua Bidang Hukum dan SDM Drs H Haryanto MSI Psikolog, serta para kepala satuan pendidikan dan wakil kepala satuan pendidikan seluruh unit AYWS-HAWS.

Melalui gagasan tersebut, penguatan prestasi AYWS-HAWS diarahkan tidak sekadar menghasilkan siswa berprestasi, tetapi membangun ekosistem yang mampu menemukan, menumbuhkan, dan mengantarkan potensi setiap anak menuju capaian terbaiknya. Sebuah ikhtiar untuk menjadikan prestasi bukan hanya hasil akhir, melainkan budaya yang tumbuh dan mengakar di lingkungan pendidikan AYWS-HAWS. (Chaidir)