- Perkuat kualitas sekolah: Etos kerja, budaya mutu, kepemimpinan, dan kualitas guru menjadi fondasi sekolah unggul.
- Hadapi perubahan zaman: AYWS-HAWS perlu membekali siswa dengan kompetensi abad ke-21, termasuk kreativitas, kolaborasi, komunikasi, dan literasi teknologi.
- Bangun generasi emas: Pendidikan diarahkan untuk membentuk peserta didik yang utuh, produktif, mampu mengaktualisasikan diri, dan tidak tertinggal.
AYWS — Pendidikan berkualitas menjadi salah satu kunci penting untuk mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045. Karena itu, lembaga pendidikan dituntut tidak hanya mampu menjawab perubahan zaman, tetapi juga membangun kualitas sumber daya manusia yang berkarakter, kompetitif, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Pandangan tersebut disampaikan Prof Dr Rochmat Wahab MPd MA, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) periode 2009-2017 sekaligus Dewan Pakar Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS), dalam Kajian Rutin Sabtu Wage AYWS di Masjid Al Hafidh, Kampus 1 AYWS, Sabtu (19/9/2026).
Mengangkat tema “Dari Amanah Menjadi Prestasi: Menguatkan Etos Kerja, Menjaga Kualitas, Meningkatkan Daya Saing AYWS-HAWS”, Rochmat menekankan pentingnya kualitas institusi pendidikan, kepala sekolah, dan guru dalam menghadirkan pendidikan yang bermutu.
Menurutnya, Indonesia Emas 2045 membutuhkan Indonesia yang beradab, maju, berdaya, adil, dan makmur. Kondisi tersebut, kata dia, sangat membutuhkan kehadiran pendidikan yang berkualitas.
“Untuk mewujudkan pendidikan berkualitas sangat diperlukan institusi pendidikan, kepala sekolah dan guru yang berkualitas,” menjadi salah satu pokok pemikiran yang disampaikan dalam materi tersebut.
Rochmat juga mengingatkan bahwa dunia pendidikan menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Secara global, tantangan itu antara lain kesadaran diri dan kesejahteraan dalam pendidikan, perkembangan kecerdasan buatan, konflik dan keamanan global, keberlanjutan lingkungan, literasi media dan berpikir kritis, redefinisi pengetahuan, serta penguatan karakter, etika, dan kewargaan global.
Sementara di Indonesia, tantangan pendidikan mencakup kesenjangan akses dan infrastruktur, relevansi kurikulum dan sistem pembelajaran, angka putus sekolah dan faktor sosial, globalisasi serta era kompetisi, perkembangan teknologi informasi dan digitalisasi, Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0, hingga kualitas dan kesejahteraan guru.
Dalam konteks tersebut, AYWS-HAWS diarahkan untuk membentuk karakter generasi yang kokoh dalam keislaman, kebangsaan, dan kecendekiawanan. Generasi yang diharapkan adalah pribadi yang bertakwa dan berakhlak mulia, berwatak pejuang, berdaya saing global, serta memiliki kemampuan mengembangkan diri.
Profil generasi yang dibangun juga mencakup manusia sebagai hamba Allah dan khalifah di bumi, memiliki akhlakul karimah, ilmu amaliah dan amal ilmiah. Selain itu, peserta didik diharapkan menjadi insan yang beriman dan bertakwa, mandiri, kreatif, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, kompetitif, melek digital, serta bertanggung jawab terhadap agama, masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan.
Kompetensi Abad ke-21
Rochmat menjelaskan, peserta didik abad ke-21 membutuhkan keterampilan belajar, literasi, dan keterampilan hidup. Ketiganya kemudian diperkuat dengan empat kompetensi, yakni kompetensi belajar, literasi, hidup, dan moral.
Kompetensi belajar, menurut materi tersebut, mencakup empat kemampuan utama atau Four Cs, yakni berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi. Sedangkan kompetensi literasi mencakup literasi informasi, media, dan teknologi. Untuk kompetensi hidup meliputi fleksibilitas, kepemimpinan, inisiatif, produktivitas, dan kompetensi sosial.
Adapun kompetensi moral mencakup tanggung jawab, kebenaran dan kejujuran, serta integritas. Perubahan teknologi juga menjadi perhatian. Revolusi Industri 4.0 membawa tantangan berupa keamanan data dan perlindungan privasi, potensi meningkatnya ketimpangan di pasar tenaga kerja, perubahan pendapatan pekerja, hingga pergeseran pekerjaan akibat mesin dan kecerdasan buatan.
Karena itu, keterampilan seperti literasi media baru, kolaborasi virtual, kecerdasan sosial, berpikir komputasional, kemampuan lintas disiplin, pola pikir desain, berpikir adaptif, dan kemampuan menemukan makna menjadi bagian penting yang perlu dikembangkan dalam pendidikan.
Guru Dituntut Adaptif dan Menjadi Teladan
Dalam materi tersebut, Rochmat juga memberi perhatian khusus terhadap peran guru abad ke-21. Guru dituntut adaptif, komunikatif, terus belajar, visioner, mampu memimpin, menjadi teladan, kolaboratif, serta berani mengambil risiko.
Sementara dari sisi peserta didik, karakter yang dibutuhkan antara lain kolaboratif, adaptif, komunikatif, kreatif, serta mampu menguasai informasi, media, dan teknologi digital.
Rochmat juga mengangkat teori motivasi David McClelland mengenai tiga kebutuhan manusia, yakni kebutuhan akan pencapaian, kekuasaan, dan afiliasi. Ketiga kebutuhan tersebut menjadi salah satu perspektif untuk memahami motivasi dan perilaku individu dalam lingkungan pendidikan.
Membangun Sekolah Unggul
Untuk membangun sekolah yang berhasil, terdapat sejumlah karakteristik yang perlu diperhatikan. Di antaranya fokus yang jelas terhadap tugas, standar dan harapan tinggi bagi peserta didik, kepemimpinan sekolah yang efektif, kolaborasi dan komunikasi yang kuat, keselarasan kurikulum dengan pembelajaran dan asesmen, pemantauan pembelajaran, pengembangan profesional, lingkungan belajar yang mendukung, serta keterlibatan keluarga dan masyarakat.
Rochmat juga menekankan bahwa membangun sekolah yang lebih baik tidak cukup hanya dengan meningkatkan nilai ujian atau mengandalkan teknologi. Sekolah perlu menciptakan budaya dan lingkungan yang memperhatikan pengalaman belajar autentik peserta didik, membangun komunitas, melibatkan pemangku kepentingan, serta membentuk kembali konsep sekolah sesuai kebutuhan zaman.
Dalam membangun budaya sekolah berprestasi, sejumlah strategi yang ditawarkan antara lain meningkatkan keterlibatan orang tua, mengapresiasi pencapaian dan perilaku baik, membangun norma sekolah, menerapkan disiplin secara konsisten, melakukan pencarian bakat, mendorong partisipasi dan inovasi peserta didik, serta mengembangkan kegiatan yang memperkuat kebersamaan warga sekolah.
Pada akhirnya, Rochmat menempatkan etika dan keteladanan sebagai bagian penting dari kualitas guru. Guru dituntut memberikan perlakuan yang sama dan adil, menjaga profesionalisme, menjaga kesiapan dan keajegan, menjadi teladan, memprioritaskan keamanan dan kesejahteraan, serta terus belajar secara berkelanjutan.
Untuk membangun kemajuan dan kebanggaan Al Azhar Yogyakarta ke depan, ia mendorong penguatan dan pengembangan tim, pemantapan master plan, talent scouting, identifikasi bakat dan minat, penempatan serta pembinaan peserta didik, partisipasi dalam kejuaraan, pemeliharaan kemitraan dan peningkatan sinergi, evaluasi dan monitoring, serta pemberian rekognisi.
Pada bagian akhir, Rochmat menegaskan pentingnya memastikan tidak ada anak yang tertinggal. Pendidikan juga diarahkan agar setiap anak mampu mencapai aktualisasi dirinya, memiliki kebutuhan berprestasi yang kuat, serta tumbuh menjadi pribadi yang holistik, berfungsi secara utuh, produktif, dan memiliki mimpi serta cita-cita. (Chaidir)






