SLEMAN – Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS) kembali menjadi rujukan nasional dalam pengelolaan pendidikan Islam modern. Hal itu tampak dari kunjungan akademik 170 mahasiswa dan dosen Institut Agama Islam Khozinatul Ulum (IAIKU) Blora ke Kampus AYWS Gamping, Sleman, Senin (26/1/2026).
Rombongan disambut langsung Ketua Yayasan Asram sekaligus Ketua BPPH AYWS, Drs H HA Hafidh Asrom MM, bersama jajaran pimpinan AYWS. Sementara dari pihak tamu, kunjungan dipimpin Rektor IAIKU Blora, KH Ahmad Zaky Fuad SThI MAg, sosok muda yang dikenal progresif dalam pengembangan pendidikan Islam.
Dalam wawancara usai acara Gus Zaki—sapaan akrab KH. Ahmad Zaky Fuad—secara khusus menyoroti peran besar Hafidh Asrom dalam membangun AYWS menjadi institusi pendidikan Islam berkelas dunia. Menurutnya, apa yang dilakukan Hafidh Asrom bukan sekadar membangun sekolah, melainkan menghadirkan visi besar tentang masa depan pendidikan Islam.
“Saya sudah lama mengenal Pak Hafidh Asrom. Beliau punya gagasan luar biasa dan berani mewujudkannya. Dengan latar belakang sebagai pengusaha yang peduli pendidikan, beliau membangun sekolah yang basisnya inovasi, nilai keagamaan yang kuat, manajemen profesional, dan kurikulum internasional. Tidak banyak kader Islam yang memiliki visi dan keberanian seperti ini,” ujar Gus Zaki.
Ia menilai, keberhasilan AYWS terletak pada kemampuan Hafidh Asrom memadukan modernitas dan nilai-nilai Islam secara harmonis. Dua hal yang selama ini sering dipertentangkan justru disatukan dalam satu ekosistem pendidikan yang rapi, bersih, tertib, dan visioner.
“Yang diterapkan di Al Azhar ini justru mencerminkan Islam yang sesungguhnya. Islam mengajarkan kebersihan, keteraturan, kedisiplinan, dan harmoni dengan alam. Di sini semua itu hadir dalam sistem, bukan sekadar slogan,” tegasnya.
Gus Zaki menilai, kehadiran lembaga seperti AYWS sangat penting di tengah tantangan besar dunia pendidikan Islam, termasuk pesantren, yang masih berproses menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman. Menurutnya, transformasi menuju sistem modern membutuhkan teladan nyata—dan Al Azhar Yogyakarta telah membuktikannya.
“Umat Islam ke depan harus punya level yang setara dalam pemikiran, skill, jaringan, dan capacity building. Al Azhar menunjukkan bahwa itu bisa dilakukan melalui sistem pendidikan yang terencana dan profesional,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa tantangan terbesar bukan semata pada fasilitas atau kurikulum, melainkan pada perubahan mindset. Menurutnya, perubahan pola pikir menjadi kunci agar lembaga pendidikan Islam mampu bergerak cepat, adaptif, dan berdaya saing global.
“Kami datang ke Al Azhar untuk belajar. Bagaimana inovasi diterapkan, bagaimana perubahan bisa dilakukan secara cepat, dan bagaimana sistem dibangun dengan rapi. Ini sangat penting untuk kami adopsi di kampus,” ungkapnya.
Selain itu, Gus Zaki menyoroti pentingnya penguatan kompetensi praktikal di bidang sains, teknologi, engineering, dan matematika (STEM) di lembaga pendidikan Islam. Ia menilai, kekuatan spiritual umat Islam harus ditopang dengan kemampuan teknis agar mampu bersaing secara global.
Kunjungan akademik ini diharapkan menjadi ruang pembelajaran bersama, sekaligus membuka jalan kerja sama konkret antarlembaga, mulai dari pertukaran guru, program magang mahasiswa, hingga pengembangan sistem pendidikan Islam modern secara kolaboratif.
“Semoga Al Azhar bisa menjadi laboratorium nyata bagi pengembangan pendidikan Islam, dan silaturahmi ini melahirkan kerja sama yang membawa manfaat besar untuk masa depan umat,” pungkasnya. (Chaidir)







