BANTUL – Tawa anak-anak pecah bersahut-sahutan di halaman Masjid Agung Manunggal Bantul, Sabtu (24/1/2026). Di antara suara riang itu, tampak para ayah yang hari itu meninggalkan sejenak rutinitas mereka, lalu hadir sepenuhnya untuk satu hal yang paling berharga: membersamai anak-anak mereka. Kegiatan “Sehari Bersama Ayah” dengan tema “Ayahku Sahabatku” pun berlangsung dalam suasana penuh kehangatan dan keceriaan.
Tak ada jarak, tak ada peran formal. Yang ada hanyalah ayah dan anak yang saling menggenggam tangan, saling menyemangati, dan saling menertawakan kegagalan kecil dalam permainan. Outbound dan fun game yang disiapkan bukan sekadar hiburan, melainkan jembatan yang menghubungkan hati. Setiap tantangan menjadi ruang bagi ayah dan anak untuk belajar bekerja sama, saling percaya, dan saling memahami.
Di setiap sudut arena, terlihat momen-momen sederhana yang bermakna: ayah yang menunduk menyemangati anaknya, anak yang menarik tangan ayahnya agar berani mencoba lagi, hingga tawa lepas yang mengalir tanpa beban. Hari itu, banyak ayah menemukan kembali sisi diri mereka yang jarang muncul—menjadi sahabat bermain, bukan sekadar penentu aturan.
Kegiatan ini perlahan menjelma menjadi perjalanan emosional. Anak-anak belajar bahwa ayah selalu ada di samping mereka, bukan hanya saat memberi arahan, tetapi juga saat berlari, terjatuh, dan bangkit bersama. Sementara para ayah menyadari bahwa kehadiran penuh, meski singkat, mampu meninggalkan kesan yang jauh lebih dalam daripada nasihat panjang.
“Sehari Bersama Ayah” bukan hanya tentang permainan dan tawa, tetapi tentang kenangan yang akan tumbuh bersama waktu. Sebuah hari yang sederhana, namun akan selalu diingat sebagai hari ketika ayah menjadi sahabat, dan kebersamaan menjadi bahasa cinta yang paling jujur. (Sunu)







