AWALNYA sederhana, bahkan nyaris terasa seperti sebuah rasa bersalah yang diam-diam tumbuh di dalam diri. Ia membaca—terus membaca—seakan tak pernah kenyang oleh kata-kata. Buku demi buku dilahap, ide demi ide memenuhi pikirannya. Namun sejak sekitar tahun 2006, ada satu pertanyaan yang terus mengusik batinnya : mengapa dirinya hanya terus menikmati bacaan, tetapi tidak pernah benar-benar melahirkan karya sendiri?
“Saya itu suka sekali membaca. Sampai kemudian muncul pertanyaan dalam diri saya, kenapa hanya terus membaca, tetapi tidak menghasilkan tulisan?” kenang Sinta Herlina saat diwawancarai di SD Islam Al Azhar 31 Yogyakarta, Selasa (19/5/2026).
Pertanyaan itu tidak hadir begitu saja. Saat itu, ia masih aktif sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), menjalani rutinitas akademik yang padat, berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain, tetapi tetap setia menjadi pembaca. Di balik kesibukan tersebut, tumbuh kegelisahan seorang pembelajar yang merasa belum memberi kontribusi nyata melalui gagasannya sendiri.

Dan siapa sangka, jawabannya justru datang pada tahun 2012. Sebuah ajakan sederhana dari seorang rekan, Indra Juharni, menjadi titik balik yang perlahan mengubah arah hidupnya. Tanpa banyak teori dan tanpa rencana besar, ia diajak menulis buku soal Ujian Nasional untuk siswa sekolah dasar. Bu Indra menggarap matematika, sementara Sinta dipercaya menyusun soal IPA sesuai pengalaman dan latar belakangnya sebagai guru kelas enam.
Indra Juharni dahulu sama-sama menjadi guru di SD Islam Al Azhar 31 Yogyakarta dan kini menjabat sebagai Kepala Satuan Pendidikan SMP Islam Al Azhar 66 Bantul.
Tidak ada drama besar dalam proses itu. Baginya, menyusun soal adalah bagian dari keseharian seorang guru. Bahkan ia menganggapnya sebagai pekerjaan yang biasa saja. Namun justru di situlah letak kekuatannya. Ia memahami dengan baik di mana titik kelemahan siswa, bagian mana yang sering menjebak, dan bagaimana menyusun soal yang tidak sekadar mudah, tetapi benar-benar melatih cara berpikir.
“Saya tahu mana soal yang terlalu gampang. Kalau buku itu dijual, ya harus punya nilai. Harus membuat anak berpikir,” ujarnya.
Karena itulah, soal-soal yang terlalu sederhana sengaja dihindari. Baginya, sebuah buku harus memberi tantangan sekaligus manfaat nyata bagi pembacanya.
Pintu Mulai Terbuka
Naskah itu kemudian melewati proses panjang: editing, revisi, bolak-balik dengan editor, hingga akhirnya masuk tahap layout dan cetak. Hasilnya ternyata di luar dugaan. Bukunya terbit dan masuk jaringan toko buku nasional. Buku tersebut dijual di Gramedia dan terus dicetak selama tiga tahun berturut-turut—sebuah capaian yang bahkan tidak pernah ia rencanakan sebelumnya.
“Waktu pertama melihat buku itu ada di Gramedia, rasanya senang sekali. Saya tidak pernah membayangkan bisa sampai ke sana,” tuturnya.
Dari sana, satu demi satu pintu mulai terbuka. Ia tidak lagi sekadar “mengonsumsi” ilmu, melainkan mulai menciptakan. Dari seorang pembaca, ia perlahan tumbuh menjadi penulis yang produktif.
Nama Sinta Herlina kemudian berkembang sebagai sosok guru sekaligus penulis yang menjadikan literasi sebagai bagian dari pengabdian hidupnya. Baginya, menulis bukan sekadar menghasilkan buku, melainkan cara untuk merawat pengetahuan, menyampaikan nilai-nilai kemanusiaan, dan menghadirkan pendidikan yang lebih bermakna bagi generasi masa depan.
“Menulis itu bukan hanya soal buku selesai diterbitkan. Menulis adalah cara saya berbagi sesuatu yang mungkin bisa bermanfaat untuk orang lain,” katanya.
Dari Sarjana Fisika ke Magister Pendidikan
Perjalanannya di dunia pendidikan dan kepenulisan bukanlah sesuatu yang hadir secara instan. Ia tumbuh dalam lingkungan yang dekat dengan pendidikan dan sejak awal terbiasa dengan kedisiplinan berpikir. Tahun 1999 menjadi salah satu titik penting ketika ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Fisika di FMIPA Universitas Gadjah Mada. Ketertarikannya pada dunia pendidikan kemudian membawanya melanjutkan studi Magister Penilaian dan Evaluasi Pendidikan di Program Pascasarjana Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa pada periode 2016–2018.
Perpaduan antara ilmu fisika yang sistematis dan dunia evaluasi pendidikan membentuk cara pandangnya yang khas—kritis, runtut, tetapi tetap reflektif dan manusiawi. Dalam dirinya, ketelitian ilmiah bertemu dengan bahasa yang hangat dan membumi.
Jejak profesionalnya juga memperlihatkan perjalanan panjang di dunia akademik. Ia pernah menjadi dosen di Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta pada tahun 2000–2006, sekaligus menjadi dosen lepas di Akper PPNI Surakarta pada periode yang sama. Namun jalan pengabdiannya kemudian menemukan ruang yang lebih dekat dengan dunia anak-anak ketika sejak tahun 2006 ia mengajar di SD Islam Al Azhar 31 Yogyakarta.
Di sekolah itulah, di tengah aktivitas mengajar sehari-hari, kecintaannya terhadap literasi tumbuh semakin kuat. Ia juga pernah menjadi bagian akademik Yayasan Asram Sekolah Islam Al Azhar Yogyakarta pada tahun 2018–2024. Sementara itu, dunia kepenulisan terus berjalan berdampingan. Sejak 2014 ia aktif sebagai penulis lepas, bahkan sempat menjadi penulis di Bernas Online pada tahun 2017–2018.
Lahir dari Kegelisahan
Menariknya, perjalanan menulis Sinta Herlina tidak dimulai dari ambisi besar untuk menjadi penulis terkenal. Semuanya lahir dari kegelisahan yang sangat sederhana. Ia merasa dirinya begitu gemar membaca, tetapi tidak pernah benar-benar menghasilkan tulisan sendiri.
“Kalau hanya membaca terus, rasanya seperti kita hanya menerima. Saya ingin mencoba memberi sesuatu juga lewat tulisan,” ungkapnya.
Perjalanan menulis tidak selalu berjalan mulus. Ada masa ketika semuanya sempat terhenti. Aktivitas lain mengambil ruang lebih besar dalam hidupnya. Hingga pada tahun 2018, ia kembali mencoba menulis dengan mengikuti kelas kepenulisan. Dari sana lahirlah sebuah naskah yang sebenarnya sudah diterima penerbit. Sayangnya, pandemi COVID-19 mengubah banyak hal. Dunia penerbitan ikut terdampak, sementara perubahan kurikulum membuat beberapa jenis buku tidak lagi relevan untuk diterbitkan.
Situasi serupa juga terjadi pada sejumlah karya lain, termasuk buku pariwisata untuk siswa SMK yang proses penerbitannya ikut tertunda. “Waktu itu memang sempat kecewa, karena naskah sudah diterima tetapi akhirnya tidak jadi terbit. Namun saya berpikir, mungkin memang belum waktunya,” katanya.
Meski begitu, ia memilih untuk tidak berhenti. Perlahan, kerja sama dengan berbagai penerbit kembali berjalan, termasuk bersama Intan Pariwara. Dari sinilah lahir berbagai buku teks pendamping pembelajaran, termasuk buku berjenjang untuk anak usia dini dan sekolah dasar. Beberapa di antaranya bahkan lolos penilaian dari Pusat Kurikulum dan Perbukuan.
Bagi Sinta, pencapaian tersebut bukan perkara sederhana. Buku yang lolos penilaian nasional harus melewati proses seleksi ketat dengan melibatkan banyak penulis dari seluruh Indonesia. Distribusinya pun berbeda karena masuk ke jalur resmi pemerintah dan dapat diakses sekolah melalui dana BOS.
“Persaingannya ketat sekali. Jadi ketika buku bisa lolos penilaian nasional, tentu ada rasa syukur yang besar,” ujarnya.
Dalam proses penulisan buku teks, ia tidak hanya mengandalkan pengalaman mengajar. Ia terus membaca referensi terbaru agar materi yang ditulis tetap relevan dan akurat, terutama untuk bidang IPA yang terus berkembang.
Berkembang ke Banyak Genre
Produktivitas kepenulisannya kemudian berkembang ke banyak genre. Ia menulis buku pendidikan, sains, cerita anak, hingga karya reflektif dan puisi. Dalam bidang buku teks, ia terlibat dalam penulisan Fisika Kelas X dan XI terbitan Intan Pariwara tahun 2024, Buku Teks Seni Musik Kelas II SD terbitan Bina Pustaka, LKS Fisika SMA, hingga Buku Teks Fisika SMP terbitan Arya Duta Bina Pustaka.
Ia juga menulis buku IPAS IV dan V SD yang diproses oleh Balai Pustaka, sekaligus mengembangkan buku IPAS untuk jenjang lainnya. Semua karya itu memperlihatkan komitmennya dalam memperkuat literasi sains bagi peserta didik.
Namun sisi lain Sinta Herlina justru tampak sangat hangat ketika menulis cerita anak. Melalui karya seperti Makanan Paling Enak di Dunia (2022), Kebaya untuk Upacara (2022), dan seri Kisah dari Pulau Terluar: Anak-anak Pulau Simuk yang diterbitkan PT Gramedia Edukasi Nusantara, ia menghadirkan cerita-cerita sederhana yang dekat dengan kehidupan anak-anak.
Ia juga menulis Endhog Pindhang yang diterbitkan Kemendikbudristek pada tahun 2024. Saat ini, beberapa karya lain seperti Dongeng Fantasi, Aku di Peternakan, dan buku cerita bertema coding untuk anak sedang dalam proses pengembangan.
Baginya, menulis fiksi memberi ruang berbeda dibanding menulis buku teks. Di sana, ia bebas bermain dengan imajinasi. Tantangan terbesarnya justru bagaimana menyampaikan pesan moral tanpa terasa menggurui.
“Anak-anak itu tidak suka digurui. Jadi pesannya harus masuk secara alami lewat cerita,” jelasnya.
Menulis di Bus
Ide cerita sering datang dari hal-hal sederhana: perjalanan, percakapan, hingga pengamatan sehari-hari. Bahkan salah satu karyanya lahir ketika ia sedang melakukan perjalanan menuju Bromo.
“Di dalam bus saya langsung menulis ide cerita supaya tidak hilang,” kenangnya.
Ia terbiasa menangkap ide secepat mungkin sebelum menguap begitu saja. Kadang hanya melalui ponsel sederhana, sebuah gagasan kecil dapat berkembang menjadi naskah panjang.
Pengalaman menulis juga membawanya masuk ke tema-tema yang lebih luas, termasuk wilayah 3T—terdepan, terluar, dan tertinggal. Dalam proses tersebut, ia harus mencari referensi dari berbagai sumber, mulai dari video daring hingga komunikasi langsung dengan masyarakat setempat. Dari sana ia memahami banyak hal tentang Indonesia yang jarang terlihat dari pusat kota: tentang keterbatasan, perjuangan, dan harapan masyarakat di daerah terpencil.
Perjalanan panjang itu membuatnya memahami satu hal penting: menulis bukan sekadar menghasilkan karya, tetapi juga memahami pembaca. Ia pernah memiliki buku yang lolos seleksi nasional, tetapi ternyata kurang diminati pasar. Pengalaman tersebut mengajarkannya bahwa kualitas tulisan saja tidak cukup; penulis juga perlu memahami kebutuhan pembaca.
“Kadang menurut kita bukunya bagus, tetapi ternyata pembaca punya kebutuhan yang berbeda. Dari situ saya belajar memahami pembaca,” katanya.
Dari berbagai pengalaman itu, ia memegang prinsip sederhana dalam berkarya: “tulis, kirim, lupakan.”
Baginya, tugas penulis adalah menghasilkan karya terbaik. Setelah itu, biarkan proses berjalan sebagaimana mestinya. Terlalu menggantungkan harapan pada hasil justru dapat menghambat produktivitas.
“Kalau terlalu dipikir diterima atau tidak, nanti malah tidak jadi menulis,” ujarnya ringan.
Menulis juga memberinya banyak hal—bukan hanya pengetahuan, tetapi juga manfaat nyata secara finansial. Ia pernah merasakan bagaimana hasil menulis yang dikumpulkan sedikit demi sedikit akhirnya mampu membiayai perjalanan ibadah umrah dalam waktu kurang dari satu tahun.
Namun bagi Sinta, pencapaian itu bukan semata soal materi. Lebih dari itu, ia melihatnya sebagai bukti bahwa ketekunan tidak pernah mengkhianati proses.
“Saya percaya proses itu tidak ada yang sia-sia. Sedikit demi sedikit, kalau ditekuni, hasilnya akan datang sendiri,” tuturnya.
Mengajak Guru Ikut Menulis
Kini, perjalanannya tidak berhenti pada dirinya sendiri. Ia mulai mendorong guru-guru lain untuk ikut menulis. Menurutnya, guru memiliki sumber ide yang luar biasa kaya karena setiap hari berhadapan langsung dengan siswa dan dinamika pembelajaran. Sayangnya, banyak guru belum percaya diri untuk memulai.
“Padahal guru itu punya pengalaman yang sangat kaya. Tinggal berani mulai menulis saja,” katanya.
Karena itu, ia membayangkan adanya gerakan literasi yang tumbuh dari sekolah—melalui jurnal ilmiah, majalah internal, hingga buku yang ditulis guru sendiri. Baginya, langkah kecil yang dilakukan secara konsisten dapat berkembang menjadi gerakan besar. Kunci utamanya hanya satu: memulai.
Di tengah kesibukannya mengajar, Sinta tetap menulis di sela-sela waktu yang ada. Ia mencatat ide kecil, menjaga ritme, dan berusaha tetap terhubung dengan tulisannya. Sebab baginya, tantangan terbesar bukan mencari ide, melainkan menjaga konsistensi.
“Yang paling sulit itu sebenarnya konsisten. Ide bisa datang kapan saja, tetapi menjaga ritme menulis itu yang tidak mudah,” ujarnya.
Kini menulis bukan lagi aktivitas sampingan dalam hidupnya. Menulis telah menjadi bagian dari perjalanan pengabdian itu sendiri. Dan dari ruang kelas yang sederhana, Sinta Herlina terus bergerak—mengajar, menulis, berbagi, dan menyalakan semangat literasi bagi banyak orang di sekitarnya. (Chaidir)







