* AYWS gelar studium generale bersama Prof. Teresa Wasonga, diikuti guru SMP IA 26 Yogyakarta.
* Tekankan pergeseran pendidikan: dari konten ke kompetensi, karakter, dan nilai kemanusiaan.
* Guru berdaya jadi kunci lahirkan generasi inspiratif, adaptif, dan berkarakter global.
AYWS — Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS) menggelar studium generale bertajuk “Memimpin Pembelajaran di Era Abad ke-21: Memberdayakan Guru dengan Nilai-Nilai Kemanusiaan untuk Menginspirasi Generasi Masa Depan” di Auditorium Al Hafidh, Kampus AYWS Sleman 1, Senin (27/7/2026).
Kegiatan ini secara khusus diikuti oleh para guru SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta dan menghadirkan narasumber internasional, Prof Teresa A Wasonga BEd MEd PhD dari North Illinois University (NIU), serta turut dihadiri oleh Prof. James Cohan.
Dalam paparan tertulisnya, Prof. Teresa menegaskan pentingnya pergeseran paradigma pendidikan di abad ke-21. Ia menjelaskan bahwa pendidikan tidak lagi cukup berfokus pada penyampaian materi semata, melainkan harus bertransformasi menjadi proses pengembangan kompetensi dan karakter peserta didik.
“Guru bukan lagi sekadar teknisi pembelajaran, tetapi harus menjadi profesional yang berdaya sekaligus pemimpin yang mampu menginspirasi,” ujar Prof Teresa.
Menurutnya, pendidikan yang sebelumnya cenderung netral terhadap nilai harus diarahkan menjadi pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan. Jika dahulu sekolah hanya mempersiapkan siswa menghadapi dunia yang sudah pasti, kini pendidikan harus mampu menginspirasi siswa untuk menciptakan masa depan yang belum diketahui namun lebih baik.
Ia menekankan bahwa perubahan ini bukan sekadar idealisme, melainkan kebutuhan nyata dalam menghadapi kompleksitas global saat ini. Abad ke-21 ditandai oleh perubahan cepat, keterhubungan global, serta tantangan yang semakin kompleks. Oleh karena itu, pendekatan pendidikan pun harus mengalami transformasi mendasar.
Prof Teresa menjelaskan bahwa pembelajaran modern harus melampaui sekadar penguasaan konten. Kompetensi seperti berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi atau yang dikenal dengan “4C” menjadi kunci utama. Selain itu, perspektif global juga penting untuk membentuk siswa menjadi warga dunia yang memiliki empati dan pemahaman lintas budaya.
Ia juga mengingatkan bahwa banyak pekerjaan di masa depan belum ada saat ini. Karena itu, pendidikan harus menekankan adaptabilitas, pembelajaran sepanjang hayat, dan kemampuan memecahkan masalah, bukan sekadar hafalan.
Prof Teresa menyoroti pentingnya pemberdayaan guru sebagai inti dari transformasi pendidikan. Guru perlu diberi otonomi profesional dalam menentukan strategi pembelajaran, serta dilibatkan dalam pengambilan keputusan di tingkat sekolah.
“Ketika guru diberi kepercayaan dan ruang untuk berkembang, mereka akan memiliki rasa kepemilikan yang kuat terhadap proses pendidikan,” jelasnya.
Selain itu, akses terhadap pengembangan profesional berkualitas juga menjadi faktor penting. Guru perlu mendapatkan pelatihan berkelanjutan, kesempatan kolaborasi, serta ruang untuk melakukan refleksi dan penelitian tindakan. Hal ini harus didukung oleh budaya sekolah yang aman dan suportif, di mana guru tidak takut untuk berinovasi dan belajar dari kegagalan.
Dalam konteks yang lebih luas, Prof Teresa menekankan bahwa nilai-nilai kemanusiaan harus tetap menjadi pusat pendidikan di tengah dominasi teknologi dan data. Nilai seperti empati, integritas, rasa hormat, keadilan sosial, serta pola pikir bertumbuh menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter peserta didik.
“Guru tidak hanya mengajarkan mata pelajaran, tetapi juga membentuk karakter dan menjadi teladan bagi siswa,” ujarnya.
Ia menambahkan, guru yang berdaya dan berlandaskan nilai kemanusiaan akan mampu menginspirasi siswa menjadi pembelajar sepanjang hayat, individu yang memiliki tujuan hidup, serta calon pemimpin yang etis dan berempati.
Pada akhirnya, pendidikan diharapkan mampu menciptakan efek berantai yang positif. Generasi yang terinspirasi akan tumbuh menjadi agen perubahan yang berkontribusi dalam membangun dunia yang lebih adil, berkelanjutan, dan damai.
Kehadiran para guru SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta dalam kegiatan ini menjadi bagian penting dari upaya peningkatan kapasitas pendidik di lingkungan AYWS. Sementara itu, kehadiran Prof. James Cohan turut memperkuat nuansa kolaborasi internasional yang selama ini terus dikembangkan oleh AYWS dalam membangun pendidikan berkelas global.
Kegiatan studium generale ini menegaskan komitmen AYWS dalam menghadirkan pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berakar kuat pada nilai dan karakter, demi melahirkan generasi masa depan yang berdaya, berintegritas, dan berkontribusi bagi dunia. (Chaidir)






