Syarifa Rahma Shahab, Siswa SMP IA 67 Internasional dengan Segudang Prestasi Musik dan Akademik

  • Syarifa Rahma Shahab, siswa kelas IX SMP Islam Al Azhar 67 Yogyakarta Internasional, telah mengukir belasan prestasi di bidang musik dan akademik.
  • Mulai belajar biola sejak kelas 2 SD, Syarifa berkembang melalui latihan mandiri, bimbingan mentor, kompetisi, festival, hingga pengalaman bersama berbagai orkestra.
  • Di usia 14 tahun, ia terus mengejar mimpi bergabung dengan orkestra besar di Indonesia, sembari mengembangkan kemampuan dan memperbanyak pengalaman tampil.

AYWS – Sebuah biola mungkin hanya terlihat sebagai alat musik. Namun, bagi Syarifa Rahma Shahab, biola telah menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya sejak masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Menariknya, perjalanan itu bermula bukan dari sebuah ambisi untuk menjadi juara.

Saat kelas 1 SD Islam Al Azhar 55 Yogyakarta, Syarifa justru mengikuti ekstrakurikuler menggambar karena memang menyukai aktivitas tersebut. Namun, perhatian kecilnya kemudian beralih ketika melihat teman-temannya bermain biola. Ia beberapa kali sengaja masuk ke ruangan tempat teman-temannya berlatih. Bukan untuk mengikuti latihan, melainkan sekadar mendengarkan.

Dari rasa penasaran itulah semuanya bermula. “Ternyata bermain biola kelihatannya menarik dan menyenangkan,” kenang Syarifa saat diwawancara, belum lama ini.

Keinginan itu kemudian disampaikan kepada orang tuanya. Memasuki kelas 2 SD, Syarifa akhirnya bergabung dengan ekstrakurikuler biola. Miss Dewi menjadi pengajar pertamanya. Sejak usia 7 tahun, ia mulai mengenal bagaimana sebuah alat musik dimainkan, bagaimana nada harus dijaga, dan bagaimana sebuah lagu dibangun melalui gesekan demi gesekan.

Namun, perjalanan Syarifa tidak selalu berjalan mulus. Selain belajar di sekolah, ia sempat mengikuti les biola secara privat di rumah. Sekitar satu tahun ia mendapatkan bimbingan dari guru dari luar sekolah.

Ketika memasuki kelas 3 SD, pandemi Covid-19 datang. Kegiatan ekstrakurikuler di sekolah berhenti. Pembelajaran berlangsung secara daring dan aktivitas biola tidak lagi berjalan seperti sebelumnya.

 Syarifa kemudian kembali belajar secara privat ketika duduk di kelas 4 SD. Tetapi, guru yang membimbingnya pindah ke luar kota. Alih-alih berhenti, ia memilih belajar sendiri.

Selama sekitar satu tahun, Syarifa belajar melalui YouTube. Ia mencari materi, menonton video, lalu mencoba mempraktikkannya sendiri. Pengalaman itu menjadi salah satu bagian penting dalam prosesnya. Ia belajar bahwa untuk berkembang, kesempatan tidak selalu datang dalam bentuk kelas atau guru. Kadang, kemauan untuk mencari tahu dan mencoba sendiri juga menjadi bagian dari perjalanan.

Titik perubahan berikutnya datang sekitar 2024 ketika Syarifa mengikuti Jogja Violin Festival (JVF). Ia mengikuti audisi dan mendapat kesempatan tampil bersama para pemain biola lainnya di kawasan Malioboro, tepatnya di Benteng Vredeburg. Pertunjukan itu belum berbicara soal juara. JVF merupakan festival, bukan kompetisi. Namun, dari sana Syarifa mendapatkan pengalaman pertama tampil dalam format seperti orkestra.

Di kegiatan itu pula ia bertemu Bang Ucok, pengajar sekaligus konduktor yang kemudian membimbingnya di Om Viola.

Setelah bergabung, perkembangan Syarifa semakin terasa. Ia mendapatkan latihan yang lebih terarah sekaligus kesempatan lebih luas untuk tampil, mengikuti kegiatan musik, dan mencoba berbagai kompetisi. Hasilnya mulai bermunculan.

Pada 2022, Syarifa telah meraih Silver Award dalam Violin YFF Singapore. Kemudian pada 2024, ia meraih Harapan 1 Mix Ensemble FELKA. Tahun 2025 menjadi salah satu periode penting dalam perjalanan prestasinya.

Syarifa berhasil meraih Juara 1 National Violin Competition. Pada tahun yang sama, ia juga menjadi Juara 1 Nusantara Harmoni Competition kategori violin pop. Prestasi lainnya datang melalui Gold Medal Lomba Pianika Nasional dan Juara 2 Violin Competition Luwes Surakarta. Tidak berhenti di kompetisi instrumen, Syarifa juga menunjukkan kemampuannya dalam kelompok vokal dengan meraih Silver Medal Bali International Choir Festival 2025.

Deretan prestasi itu menunjukkan bahwa kemampuan musik Syarifa tidak hanya berkembang dalam satu bentuk pertunjukan.

Pada 2026, koleksi prestasinya kembali bertambah. Ia meraih Gold Medal Yogyakarta International Choir Festival, Harapan 2 Mix Ensemble FLS3N, serta Harapan 3 Mix Ensemble FELKA. Puncak lain datang ketika Syarifa berhasil meraih Juara 1 sekaligus Juara Umum Biola Piala Walikota Surakarta dalam Indonesia Symphony Competition 2026.

Jika hanya melihat deretan penghargaan tersebut, perjalanan Syarifa seolah berjalan tanpa jeda. Padahal, di balik setiap piala dan medali terdapat proses latihan, pengalaman tampil, keberanian mengikuti audisi, hingga kemauan untuk terus mencoba.

Menariknya lagi, prestasi Syarifa tidak hanya datang dari dunia musik. Di bidang akademik, siswa kelas IX SMP Islam Al Azhar 67 Yogyakarta Internasional ini juga memiliki catatan prestasi yang tidak kalah menarik.

Pada 2025, Syarifa meraih Gold Medal Olimpiade Siswa Nusantara by Rising Star Academy dan Gold Medal Olimpiade Nasional Bahasa Inggris by Gemanesia. Masih pada tahun yang sama, ia meraih Silver Medal International Kangaroo Science Contest. Prestasi akademiknya berlanjut pada 2026 melalui Bronze Medal Jenius Science Olympiad tingkat Provinsi.

Dengan demikian, di usianya yang baru 14 tahun, Syarifa telah mengumpulkan prestasi dari dua dunia yang berbeda: musik dan akademik.

Namun, bagi Syarifa, biola tetap menjadi bagian yang paling ingin dikembangkan. “Saya merasa bahwa biola bukan sekadar kegiatan atau hobi, tetapi sesuatu yang ingin saya kembangkan lebih serius,” ujarnya.

Ia pun aktif mencari informasi mengenai festival dan kompetisi. Instagram menjadi salah satu sumber yang digunakannya untuk menemukan berbagai kesempatan. Ketika ada kompetisi yang dirasa menarik dan sesuai dengan kemampuannya, ia mencoba mendaftar.

Dari sana, pengalaman Syarifa semakin luas. Ia tidak hanya tampil dalam kompetisi, tetapi juga berbagai pertunjukan. Syarifa pernah menjadi bagian dari Bandung Philharmonic Orchestra melalui program orchestra academy.

Untuk mengikuti program tersebut, ia terlebih dahulu menjalani audisi. Setelah lolos, ia mengikuti program selama sekitar sembilan hari di Bandung dan tiga hari di Jakarta. Latihan dilakukan setiap hari sebelum akhirnya peserta tampil dalam dua konser.

Pengalaman bersama orkestra itu memberi Syarifa kesempatan untuk belajar langsung dalam lingkungan musik yang lebih besar. Ia bertemu banyak pemain musik dan belajar bagaimana bekerja sebagai bagian dari sebuah kelompok.

Syarifa juga pernah bergabung dengan La ViVa Symphony PSS dalam rangka launching tim sepak bola PSS Sleman 2026 serta terlibat dalam Art For Children di Taman Budaya Yogyakarta. Ia juga pernah membantu orkestra SMA Negeri 1 Teladan Yogyakarta dalam sebuah kolaborasi. Beberapa pemain dari Cherrington ikut memperkuat orkestra tersebut.

Selain bermain dalam kelompok, Syarifa juga beberapa kali tampil secara solo. Ia pernah tampil dalam berbagai acara di pusat perbelanjaan maupun hotel. Baginya, setiap panggung memberikan pengalaman yang berbeda. Ia belajar menguasai panggung, mengatasi rasa gugup, dan membangun kepercayaan diri.

Di luar biola, Syarifa juga mengenal piano dan gitar. Keduanya ia pelajari secara dasar. Piano lebih banyak dipelajarinya secara mandiri, sementara gitar dikenalnya dari pelajaran musik di sekolah. Tetapi, ketika berbicara tentang masa depan, pilihannya tetap jelas yakni Biola.

Syarifa ingin terus mengembangkan kemampuannya dan suatu hari bergabung dengan orkestra besar di Indonesia, seperti MSO dan GPA. Untuk saat ini, sejumlah program orkestra yang diincarnya memang belum dapat diikuti karena persyaratan usia. Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya berhenti. Justru ia melihatnya sebagai waktu untuk terus berlatih.

Ia ingin ketika usia sudah memenuhi persyaratan, dirinya telah siap mengikuti audisi dan bersaing mendapatkan tempat di dalam orkestra yang diimpikannya.

Perjalanan Syarifa menjadi gambaran bagaimana sebuah ketertarikan sederhana dapat tumbuh menjadi kesungguhan. Dari seorang anak yang awalnya hanya penasaran mendengar teman bermain biola, ia kini menjadi siswa SMP dengan sederet prestasi musik dan akademik, pengalaman tampil di berbagai panggung, serta kesempatan belajar bersama para pemain orkestra.

Piala dan medali yang telah diraihnya memang menjadi catatan prestasi. Namun, cerita Syarifa sesungguhnya bukan hanya tentang berapa banyak penghargaan yang berhasil dikumpulkan.

Cerita itu adalah tentang seorang remaja yang terus belajar, mencoba, tampil, berlatih, dan menjaga mimpinya tetap hidup. Dan perjalanan dengan biola itu masih jauh dari kata selesai. (Chaidir)