AYWS — Pertarungan menuju kursi Ketua dan Wakil Ketua OSIS SMP Islam Al Azhar 66 Bantul memasuki babak penting. Tiga pasangan calon yang sama-sama membawa kekuatan gagasan dan dukungan tampil dalam Debat Calon Ketua dan Wakil Ketua OSIS, Senin (24/8/2026).
Bertempat di Aula SMP Islam Al Azhar 66 Bantul, sejak pukul 07.00 hingga 09.00 WIB, atmosfer kompetisi politik siswa terasa begitu kuat. Bukan sekadar adu popularitas, tiga pasangan calon kali ini harus membuktikan siapa yang paling siap menawarkan gagasan, membaca persoalan sekolah, sekaligus meyakinkan para pemilih.
Tiga kekuatan yang bertarung adalah Pasangan Calon 1 Rayya Medina Larasati dan Andhara Kirana Mahestri, Pasangan Calon 2 Aquinannda Afisya Sashikirana dan Mazaya Zafirah Diponegoro, serta Pasangan Calon 3 Kenny Virendra Saputra dan Syifa Adelia.
Ketiga pasangan datang dengan visi dan misi masing-masing. Namun, debat menjadi panggung untuk menguji apakah gagasan tersebut benar-benar mampu menjawab kebutuhan dan persoalan nyata yang dihadapi siswa.
Bukan Sekadar Janji, Gagasan Diuji di Panggung Debat
Debat berlangsung dalam enam sesi. Masing-masing sesi dirancang untuk menguji kemampuan para kandidat dari berbagai sisi, mulai dari kemampuan menyampaikan visi, mempertahankan argumentasi, memecahkan persoalan, hingga merespons pertanyaan secara spontan.
Pada sesi pertama, ketiga pasangan calon memaparkan visi dan misi yang menjadi fondasi perjuangan mereka. Inilah kesempatan pertama bagi para kandidat untuk memperkenalkan arah kepemimpinan sekaligus menawarkan gambaran OSIS yang ingin mereka wujudkan.
Pertarungan gagasan semakin terasa ketika memasuki sesi kedua. Para kandidat berhadapan dengan mosi utama yang telah ditentukan. Argumentasi demi argumentasi disampaikan untuk menunjukkan bahwa gagasan yang mereka bawa bukan sekadar slogan, melainkan memiliki dasar dan alasan yang kuat.
Jika sesi kedua menguji kemampuan berargumentasi, sesi ketiga menguji kemampuan menyelesaikan persoalan nyata.
Para kandidat diberikan studi kasus yang diangkat dari realitas kehidupan di SMP Islam Al Azhar 66 Bantul. Mereka harus membaca persoalan, menentukan akar masalah, kemudian menawarkan solusi yang realistis.
Tantangan belum berakhir.
Pada sesi keempat, para kandidat menghadapi pertarungan melawan waktu. Hanya 45 detik yang tersedia untuk memecahkan persoalan yang diberikan. Kecepatan berpikir, ketepatan mengambil keputusan, dan kemampuan menyampaikan solusi secara ringkas menjadi kunci.
Kemudian, panggung debat dibuka kepada para pemilih melalui sesi pertanyaan dari peserta atau pemirsa debat. Pertanyaan-pertanyaan yang diberikan menjadi kesempatan bagi kandidat untuk menunjukkan kesiapan mereka menghadapi persoalan yang mungkin muncul ketika nantinya memperoleh amanah memimpin OSIS.
Ketat dan Berimbang, Sulit Menebak Pemenangnya
Menariknya, debat tahun ini berlangsung dalam persaingan yang relatif berimbang. Ketiga pasangan calon menunjukkan kekuatan masing-masing, baik dari sisi gagasan maupun dukungan.
Tidak ada pasangan yang terlihat benar-benar mendominasi sepanjang debat.
Masing-masing memiliki ruang untuk tampil, menjawab, mempertahankan argumentasi, sekaligus menunjukkan karakter kepemimpinannya. Kondisi ini membuat pertarungan menuju kursi Ketua dan Wakil Ketua OSIS semakin sulit ditebak.
Siapa yang akan unggul?
Jawabannya tentu berada di tangan para pemilih.
Debat menjadi salah satu momentum penting bagi siswa untuk melihat kandidat bukan hanya dari siapa yang paling dikenal atau paling banyak mendapatkan dukungan, tetapi juga dari apa yang mereka tawarkan dan bagaimana mereka menyelesaikan persoalan.
120 Menit yang Tidak Terasa
Antusiasme tidak hanya terlihat dari para kandidat. Para pendukung dan peserta debat juga mengikuti setiap sesi dengan penuh perhatian.
Selama 120 menit, suasana aula tetap hidup. Pergantian sesi membuat debat terasa dinamis dan jauh dari kesan monoton. Setiap kandidat memiliki kesempatan untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya.
Bagi para siswa, debat tersebut sekaligus menjadi pengalaman belajar demokrasi yang nyata. Mereka tidak hanya menyaksikan proses pemilihan pemimpin, tetapi juga belajar bagaimana sebuah pilihan seharusnya dibangun berdasarkan pertimbangan terhadap gagasan, kemampuan, dan karakter calon.
Kepala Satuan Pendidikan SMP Islam Al Azhar 66 Bantul, Indra Juharni, memberikan apresiasi kepada ketiga pasangan calon yang telah menunjukkan keberanian dan kemampuan dalam menyampaikan gagasan di hadapan para pemilih.
“Ketiga pasangan calon adalah anak-anak yang hebat dan solutif. Tidak mudah berdiri di depan dengan beradu gagasan. Untuk para pemilih, jadilah pemilih yang bijak dan cerdas.”
Pesan tersebut menjadi penutup penting dari sebuah pertarungan gagasan yang berlangsung sportif.
Sebab, dalam sebuah pemilihan, kemenangan bukan hanya tentang siapa yang memperoleh suara terbanyak. Lebih dari itu, proses pemilihan menjadi kesempatan bagi siswa untuk belajar bahwa setiap suara memiliki arti dan setiap pilihan membawa tanggung jawab.
Kini, ketiga pasangan calon telah menyampaikan kartu mereka di atas meja.
Visi telah dipaparkan. Gagasan telah dipertarungkan. Solusi telah diuji.
Tinggal satu pertanyaan yang menunggu jawaban dari para pemilih:
Siapa yang akan mendapatkan kepercayaan untuk memimpin OSIS SMP Islam Al Azhar 66 Bantul?
Jawabannya akan ditentukan oleh suara siswa.
Saatnya memilih bukan karena ikut-ikutan, tetapi karena yakin. Bukan karena popularitas, tetapi karena gagasan dan keteladanan. (Argo)







