Kerja Keras Berbuah Manis, Azzam Persembahkan Runner Up Piala Soeratin U-15 untuk SMP Islam Al Azhar 66 Bantul

  • Pencapaian Berharga: Akmal Azzam Kurniawan dan timnya berhasil meraih posisi Runner Up Piala Soeratin U-15 PSSI D.I. Yogyakarta 2026 setelah tiga tahun berjuang menembus babak final.
  • Kerja Keras & Manajemen Waktu: Sempat merasa tertinggal, Azzam memilih menambah porsi latihan hingga sukses menjadi pemain utama (starter), sembari tetap disiplin membagi waktu sekolah dan latihan.
  • Dukungan dan Cita-Cita: Berkat dorongan kuat dari orang tua dan sekolah, Azzam makin termotivasi untuk mengejar mimpinya masuk ke akademi sepak bola La Masia Barcelona.

AYWS — Perjalanan menuju podium tidak selalu dimulai dari posisi terdepan. Bagi Akmal Azzam Kurniawan, murid kelas 9 Al Ziyad SMP Islam Al Azhar 66 Bantul, prestasi Juara 2 (Runner Up) Piala Soeratin U-15 PSSI D.I. Yogyakarta 2026 merupakan buah dari proses panjang, kerja keras, dan keberanian untuk terus mengejar ketertinggalan.

Azzam bersama timnya berhasil mencapai babak final Piala Soeratin U-15 PSSI Daerah Istimewa Yogyakarta 2026 yang digelar pada 30 Agustus 2026. Meski belum berhasil membawa pulang gelar juara pertama, pencapaian sebagai runner up menjadi prestasi yang membanggakan sekaligus menandai perjalanan panjang Azzam dan tim dalam kompetisi sepak bola usia muda di Yogyakarta.

Bagi Azzam, perjalanan menuju final bukanlah sesuatu yang mudah. Ia bersama tim telah berusaha selama hampir tiga tahun untuk dapat menembus partai puncak. Tahun ini menjadi momentum istimewa karena untuk pertama kalinya mereka berhasil mencapai babak final.

“Cukup sulit perjalanannya. Sudah hampir tahun ke-3 bisa masuk final dan baru tahun ini bisa masuk ke babak final. Kerja keras tim sangat bagus, karena perjalanan sangat tidak mudah dengan adanya pertandingan yang kontroversial. Timnya sangat kompak,” ungkap Azzam.

Merasa Tertinggal, Memilih Berlatih Lebih Keras

Di balik keberhasilannya tampil di partai final, terdapat cerita personal yang membuat perjalanan Azzam semakin bermakna. Ia mengaku pernah merasa tertinggal dibandingkan teman-temannya. Alih-alih menyerah, kondisi tersebut justru menjadi pemacu untuk meningkatkan usaha dan intensitas latihan.

“Saya merasa tertinggal dari teman yang lain, sehingga saya harus latihan lebih dalam effort. Sehingga alhamdulillah saya bisa menjadi starter dan full time di babak final. Perjuangan selama ini membuahkan hasil yang manis,” tutur Azzam.

Kepercayaan untuk tampil sebagai starter dan bermain penuh pada babak final menjadi salah satu pencapaian yang paling berkesan bagi Azzam. Baginya, kesempatan tersebut menjadi bukti bahwa proses panjang yang dijalani selama ini tidak sia-sia.

Perjalanan Azzam juga tidak lepas dari kemampuannya membagi waktu antara pendidikan dan olahraga. Sebagai murid SMP Islam Al Azhar 66 Bantul, ia tetap mengikuti pembelajaran di sekolah pada pagi hari, kemudian menjalani latihan sepak bola pada siang hingga sore hari dengan menyesuaikan jadwal dan izin latihan.

Kedisiplinan dalam mengatur waktu menjadi bagian penting dari kesehariannya. Sekolah tetap menjadi tanggung jawab yang harus dijalankan, sementara sepak bola menjadi ruang bagi Azzam untuk mengembangkan potensi dan mengejar cita-citanya.

Dukungan Orang Tua Menjadi Kekuatan

Dalam perjalanan menuju prestasi tersebut, Azzam menyebut dukungan keluarga, khususnya kedua orang tuanya, menjadi salah satu sumber kekuatan terbesar.

Ayah dan Bunda Azzam selalu memberikan dukungan dengan mengantarkan dirinya menjalani latihan. Tidak hanya dukungan secara langsung, keduanya juga memberikan pesan agar Azzam selalu bersabar dan mempercayai keputusan pelatih.

“Support terbesar dari papa dan mama yang selalu semangat mengantarkan latihan dan selalu memberikan pesan agar selalu sabar karena pelatih lebih tahu kondisi tiap pemain dan yang terjadi di lapangan,” kata Azzam.

Dukungan tersebut menjadi pengingat bagi Azzam bahwa sebuah prestasi tidak pernah lahir dari perjuangan seorang diri. Ada keluarga, pelatih, tim, sekolah, guru, dan orang-orang di sekitarnya yang turut memberikan energi dalam setiap prosesnya.

Bukan Akhir, tetapi Langkah Menuju Cita-Cita

Meraih posisi runner up tidak membuat Azzam berhenti bermimpi. Justru pencapaian ini menjadi bahan bakar untuk melangkah lebih jauh dalam dunia sepak bola.

Ke depan, Azzam memiliki target besar untuk dapat masuk ke akademi sepak bola La Masia Barcelona, sebuah cita-cita yang ingin terus ia perjuangkan.

Target tersebut tentu membutuhkan proses panjang, disiplin, konsistensi, dan kemauan untuk terus berkembang. Pengalaman di Piala Soeratin U-15 menjadi salah satu bekal berharga bagi Azzam untuk memahami arti kerja keras, sportivitas, kekompakan tim, serta pentingnya tidak menyerah ketika menghadapi tantangan.

Kini, medali runner up bukan sekadar simbol keberhasilan. Di balik medali tersebut terdapat cerita tentang latihan, rasa lelah, perjuangan mengejar ketertinggalan, kepercayaan yang akhirnya datang, hingga kesempatan untuk tampil penuh di pertandingan final.

Pesan Azzam untuk Teman-Teman

Bagi murid SMP Islam Al Azhar 66 Bantul yang ingin berprestasi di bidang olahraga, Azzam memiliki pesan sederhana tetapi kuat yakni “Every match is a chance to grow, every achievement is a reason to be proud.”

Setiap pertandingan adalah kesempatan untuk berkembang dan setiap pencapaian adalah alasan untuk bangga.

Pesan tersebut menjadi cerminan perjalanan Azzam sendiri. Ia tidak melihat perjalanan menuju runner up sebagai akhir, melainkan sebagai bagian dari proses untuk menjadi pemain yang lebih baik.

Prestasi Azzam di Piala Soeratin U-15 PSSI DIY 2026 menjadi kebanggaan bagi SMP Islam Al Azhar 66 Bantul. Lebih dari sekadar sebuah gelar, perjalanan tersebut menunjukkan bahwa ketekunan, keberanian untuk mengejar ketertinggalan, kemampuan mengatur waktu, dukungan keluarga, dan kekompakan tim dapat membawa seorang murid semakin dekat dengan cita-citanya. (Nurul Fatimah)