SLEMAN – Di tengah panggung penghargaan ALMOND Award 2026 di Auditorium Al Hafidh, Kampus 1 Al Azhar Yogyakarta World School, ada satu momen yang terasa begitu hangat—ketika suara seorang ibu berbicara, bukan hanya sebagai perwakilan orang tua, tetapi juga sebagai hati yang penuh bangga dan harap.
Ketua Forum Komunikasi (Forkom) Jamiyyah SMA Islam Al Azhar 9 Yogyakarta, Nurma Nurmiyati, menyampaikan sambutan yang tak sekadar formalitas. Di hadapan 234 siswa berprestasi dan para orang tua, ia menuturkan makna ALMOND Award dengan cara yang begitu dalam—menyentuh sisi emosional setiap yang hadir.
Baginya, ALMOND Award bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah panggung penghormatan—tempat kerja keras, dedikasi, dan talenta anak-anak dirayakan dengan sepenuh hati. Ia menggambarkan bagaimana sekolah ini telah melahirkan begitu banyak “bintang”, dari ruang-ruang kelas hingga panggung kompetisi nasional, dari laboratorium ilmiah hingga arena olahraga dan seni.
Namun, di balik deretan prestasi itu, Nurma mengajak semua yang hadir untuk melihat lebih jauh. Bahwa setiap medali dan penghargaan sejatinya adalah proses panjang—tentang jatuh bangun, tentang keberanian mencoba, tentang belajar percaya pada diri sendiri.
“Melihat kalian berdiri di sini dengan segudang prestasi adalah kebahagiaan yang tak ternilai bagi kami sebagai orang tua,” ucapnya lirih namun penuh makna.
Momen itu terasa semakin istimewa. Di antara ratusan siswa berprestasi, ada satu nama yang begitu dekat di hatinya—Audy Zahratunnafisa Tirta, siswi kelas XI Sains Bisnis, yang juga merupakan putrinya sendiri. Namun, alih-alih menonjolkan itu, Nurma justru merangkul semua siswa dalam satu pelukan makna bahwa setiap anak adalah istimewa, dengan warna dan jalannya masing-masing.
Ia mengingatkan, sekolah adalah rumah—tempat mimpi-mimpi dirawat, bukan dihakimi. Tempat setiap anak diberi ruang untuk tumbuh, gagal, bangkit, dan akhirnya bersinar.
Dalam pesannya, ia menegaskan bahwa penghargaan hari itu bukanlah garis akhir. Justru sebaliknya—itu adalah titik awal. Sebuah batu loncatan untuk melangkah lebih jauh, lebih tinggi, dan lebih berani.
Namun, di tengah ambisi dan capaian, ia menitipkan pesan yang sederhana, tapi mendasar yakni jangan pernah kehilangan jati diri. Tetap jaga salat, hormati orang tua, dan patuhi guru. Karena, menurutnya, masa depan gemilang tidak hanya dibangun oleh kecerdasan, tetapi oleh akhlak yang kokoh.
Menutup sambutannya, Nurma mengutip pesan Soekarno tentang menggantungkan cita-cita setinggi langit. Sebuah pengingat bahwa mimpi besar bukan untuk ditakuti, melainkan untuk diperjuangkan—meski harus jatuh, setidaknya jatuh di antara bintang-bintang.
Di akhir suasana yang syahdu itu, satu pesan terasa menggema yaitu ALMOND Award bukan sekadar penghargaan—melainkan sayap. Sayap yang akan membawa anak-anak terbang lebih tinggi, menembus batas, dan menjemput masa depan dengan penuh keyakinan. (Chaidir)







