SLEMAN – Suasana haru dan bangga menyelimuti Auditorium Al Hafidh, Kampus 1 Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS), Kamis (7/5/2026). Satu per satu nama siswa berprestasi dipanggil ke atas panggung dalam ajang ALMOND Award 2026. Namun, di antara deretan nama itu, sosok Galih Raditya Ghutama tampil sebagai salah satu yang paling bersinar.
Siswa kelas XI Sains Alam SMA Islam Al Azhar 9 Yogyakarta ini berhasil mencatatkan capaian luar biasa yakni 26 poin dalam kategori Gold—poin tertinggi pada ajang tersebut. Sebuah angka yang bukan hanya menjadi simbol prestasi, tetapi juga cerminan dari perjalanan panjang yang penuh ketekunan, strategi, dan pengorbanan.
Bagi Galih, pencapaian itu terasa istimewa, namun ia menyikapinya dengan rendah hati. “Saya sangat senang bisa menyumbangkan prestasi untuk sekolah,” ujarnya sederhana.
Di balik kalimat singkat itu, tersimpan pola belajar yang terstruktur dan disiplin tinggi. Galih tidak hanya belajar keras, tetapi juga belajar dengan cerdas. Ia memahami betul bahwa keberhasilan bukan ditentukan oleh seberapa banyak waktu belajar, melainkan bagaimana waktu itu dikelola.
“Yang paling penting itu manajemen waktu. Kita harus tahu kapan harus belajar dan apa saja kekurangan kita. Jadi tidak perlu mempelajari semuanya sekaligus, tapi fokus memperbaiki yang masih kurang,” jelasnya.
Prinsip itu yang kemudian membawanya melanglang ke berbagai kompetisi, dari tingkat kabupaten hingga internasional. Ia mencatatkan berbagai prestasi, termasuk medali emas dalam ajang karya ilmiah remaja internasional “IICYMS” (International Invention Competition for Young Moslem Scientists). Ajang ini merupakan kompetisi internasional yang mempertemukan pelajar muda untuk menampilkan karya inovasi, penelitian ilmiah, teknologi, dan kreativitas di berbagai bidang sains. Selain itu, ia juga aktif mengikuti kompetisi matematika tingkat internasional serta World Science Olympic.
Padatnya aktivitas lomba tidak lantas membuatnya kewalahan. Galih justru mampu menjaga ritme antara akademik, kompetisi, dan organisasi. “Saat mendekati lomba, saya fokus ke lomba. Kalau sudah dekat ujian, saya fokus ke sekolah. Jadi semuanya bisa diatur,” katanya.
Guru yang Hebat
Namun, perjalanan Galih menuju titik ini tidak bisa dilepaskan dari peran keluarga, terutama sang ibu, Meita Hendayani Indratno. Dengan penuh rasa syukur, ia menceritakan bagaimana perjalanan anaknya selama menempuh pendidikan di Al Azhar.
“Alhamdulillah, saya sangat bangga dan bersyukur. Allah telah memberikan keistimewaan dan kepercayaan kepada anak saya untuk bersekolah di Al Azhar. Di sini, Gali mendapatkan bimbingan dari guru-guru yang luar biasa hebat,” tuturnya.
Keputusan memilih sekolah tersebut kini terasa semakin tepat di matanya. Dalam waktu yang relatif singkat—baru dua tahun—Galih sudah menunjukkan perkembangan yang signifikan. Bahkan pada tahun sebelumnya, ia telah meraih penghargaan sekaligus beasiswa dari sekolah.
Namun, di balik pencapaian itu, ada cerita perjuangan yang tidak banyak terlihat. Setiap hari, Galih harus menempuh perjalanan dari Klaten menuju Yogyakarta demi menuntut ilmu.
“Gali itu anaknya telaten. Dia sering belajar sampai malam, padahal rumah kami di Klaten dan harus pulang-pergi. Tapi semangatnya luar biasa,” ungkap Meita.
Perjalanan jauh, waktu yang terbatas, hingga tuntutan prestasi tidak menyurutkan langkahnya. Justru, semua itu menjadi bagian dari proses yang menempa ketangguhan dan kedisiplinannya.
Bagi Meita, keberhasilan Galih bukan sekadar soal penghargaan atau medali. Lebih dari itu, ia melihat adanya proses panjang yang sarat nilai—tentang kerja keras, konsistensi, dan semangat pantang menyerah.
Dukungan orang tua, menurutnya, menjadi fondasi penting. Ia percaya bahwa kehadiran keluarga yang terus menguatkan dapat menjadi energi besar bagi anak untuk terus melangkah.
Ingin Kuliah Kedokteran
Kini, harapan itu diarahkan pada langkah berikutnya. Ia berharap Galih dapat meraih Beasiswa Garuda, program beasiswa penuh yang diimpikan banyak siswa berprestasi. “Semoga nanti di kelas 12 bisa mendapatkan Beasiswa Garuda penuh, seperti kakak kelasnya,” harapnya.
Harapan tersebut bukan tanpa alasan. Galih sendiri mengakui bahwa saat ini ia tengah mempersiapkan diri untuk tahap tersebut. Ia mulai mengalihkan fokus, tidak lagi mengejar kuantitas lomba, melainkan kualitas dan kesiapan akademik untuk masa depan.
“Saya ingin fokus ke kelas 12 dan berharap bisa mendapatkan Beasiswa Garuda,” ujarnya.
Lebih jauh, ia telah menetapkan tujuan besar dalam hidupnya. Galih bercita-cita melanjutkan studi di bidang kedokteran di perguruan tinggi negeri, seperti Universitas Gadjah Mada atau Universitas Diponegoro. Tidak berhenti di situ, ia juga memiliki visi jangka panjang untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri.
“Saya ingin menjadi dokter, lalu ke depannya juga belajar manajemen rumah sakit, supaya bisa berkontribusi dalam sistem kesehatan di Indonesia,” tuturnya dengan penuh keyakinan.
Impian itu mungkin terdengar besar, tetapi melihat perjalanan yang telah ia lalui, langkah tersebut terasa begitu mungkin untuk dicapai.
Kisah Galih adalah potret nyata bahwa prestasi tidak lahir secara instan. Ia tumbuh dari proses yang panjang—dari disiplin yang dijaga setiap hari, dari waktu yang diatur dengan cermat, dari perjalanan jauh yang dijalani tanpa keluh, hingga dari doa yang tak pernah putus. Di balik 26 poin Gold yang ia raih di ALMOND Award 2026, tersimpan cerita tentang ketekunan, pengorbanan, dan harapan.
Dan dari panggung sederhana di Auditorium Al Hafidh itu, satu pesan kuat tersampaikan: bahwa masa depan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten—setiap hari, tanpa henti. (Chaidir)







