Menyusuri AYWS, Yashinta Menemukan Inspirasi Pendidikan Masa Depan

SLEMAN – Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia daerah pemilihan Daerah Istimewa Yogyakarta (DPD RI Dapil DIY), RA Yashinta Sekarwangi Mega melakukan kunjungan ke Kampus 1 Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS), Kamis (7 Mei 2026).

Yashinta tiba bersama timnya. Langkahnya disambut hangat oleh Ketua Yayasan Asram/BPPH AYWS, Drs HA Hafidh Asrom, di Gedung BPPH. Senyum dan sapaan yang mengalir terasa akrab—bukan sekadar tuan rumah dan tamu, melainkan dua insan yang pernah berjalan di jalur yang sama. Suasana tak sekadar menjadi pertemuan formal—melainkan perjumpaan dua generasi yang dipersatukan oleh semangat yang sama yakni membangun masa depan.

Obrolan menyambung dengan mudah dan mengalir. Hafidh Asrom pernah duduk di kursi yang kini ditempati Yashinta—anggota DPD RI sejak 2004 hingga menuntaskan pengabdiannya pada 2024. Dari pengalaman panjang itulah, nasihat demi nasihat mengalir, seperti estafet nilai yang tak terputus oleh waktu.

Dalam percakapan yang hangat itu, Hafidh tak hanya berbagi pengalaman, tetapi juga menyematkan keyakinan. Ia melihat potensi besar dalam diri Yashinta—meski muda, ia diyakini memiliki kapasitas untuk ikut menenun masa depan Yogyakarta. Sebuah keyakinan yang lahir dari pengalaman, bukan sekadar harapan.

Di antara obrolan, terselip pesan yang sederhana namun mendalam yakni menjaga tiga pilar utama Daerah Istimewa Yogyakarta—pendidikan, pariwisata, dan kebudayaan. Bagi Hafidh, ketiganya bukan sekadar konsep, melainkan praktik nyata yang selama ini ia hidupkan melalui AYWS. Pendidikan yang tumbuh bersama nilai budaya, dan berkembang selaras dengan denyut pariwisata.

Pintu AYWS pun terbuka lebar bagi Yashinta. Ia dipersilakan menjelajah lebih jauh—tak hanya satu kampus, tetapi juga jaringan AYWS di tiga kabupaten. Bahkan, sebuah undangan khusus disampaikan yaitu berkunjung ke Asram Edupark, ruang di mana pendidikan dan pengalaman hidup berpadu.

Langkah Yashinta kemudian berlanjut. Dari ruang pertemuan, ia menapaki lorong-lorong kehidupan kampus—mengunjungi boarding school, berdialog dengan para murid, dan menyerap langsung denyut aktivitas yang selama ini hanya ia dengar. Di sanalah kekaguman itu tumbuh.

Awalnya, ia mengira hanya akan melihat sebuah sekolah. Namun, yang ditemuinya jauh melampaui ekspektasi. Dari jenjang TK hingga SMA, dari ruang kelas hingga asrama yang tertata terpisah antara putra dan putri, semuanya menyatu dalam sistem yang terstruktur.

“Ini pertama kalinya saya melihat sekolah dengan fasilitas yang begitu lengkap,” ungkap Yashinta. Ia terkesan pada bagaimana setiap detail dirancang—bahkan hingga jumlah tempat tidur di asrama, yang ditentukan melalui konsultasi dengan para ahli.

Pengalaman itu menjadi semacam “penemuan” baru baginya di DIY—bahwa pendidikan bisa dibangun dengan keseriusan, perencanaan, dan visi jangka panjang yang kuat.

Di akhir kunjungannya, harapan pun mengemuka. Ia ingin model seperti ini tak berhenti di satu tempat. Ia berharap AYWS bisa menjadi tombak, panutan, sekaligus percontohan bagi sekolah-sekolah lain di Indonesia.

Sore mulai turun perlahan, namun percakapan dan gagasan yang lahir hari itu terasa belum usai. Di Kampus 1 AYWS, pertemuan itu bukan sekadar kunjungan—melainkan titik temu antara pengalaman dan harapan, yang bersama-sama menatap masa depan pendidikan Indonesia. (Chaidir)