- Mengenal Kampus Kelas Dunia: Sebanyak 40 murid SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta mengunjungi Waseda University untuk mengenal atmosfer pendidikan tinggi dan budaya akademik Jepang.
- Belajar dari Tokoh Intelektual: Murid mengenal sosok Profesor Tsubouchi Shōyō, sastrawan dan penerjemah karya Shakespeare yang menginspirasi tentang dedikasi terhadap ilmu pengetahuan dan literasi.
- Menjelajahi Ikon Budaya Tokyo: Perjalanan ke Asakusa, Shibuya, dan Harajuku memperkaya wawasan murid tentang perpaduan tradisi, modernitas, kreativitas, dan kehidupan masyarakat Jepang.
AYWS – Perjalanan Student Exchange Program 2026 SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta memasuki hari keempat dengan pengalaman akademik dan eksplorasi budaya yang semakin bermakna. Pada Rabu (4/11/2026), sebanyak 40 murid yang didampingi empat guru berkesempatan mengunjungi Waseda University, salah satu perguruan tinggi terkemuka di Jepang yang dikenal memiliki tradisi akademik, riset, dan kontribusi intelektual yang kuat.
Kunjungan ini menjadi kesempatan istimewa bagi para murid untuk mengenal lebih dekat atmosfer pendidikan tinggi di Jepang, memahami lingkungan akademik internasional, sekaligus membangun perspektif mengenai pentingnya pendidikan sebagai fondasi masa depan.
Selama berada di lingkungan kampus, rombongan dipandu oleh Mayuko Yamada bersama empat rekannya. Dengan pendampingan tersebut, para murid memperoleh pengalaman mengenal kawasan universitas, suasana kehidupan akademik, serta berbagai sisi menarik dari sejarah dan perkembangan Waseda University.
Waseda University juga dikenal sebagai almamater Jerome Polin, figur muda Indonesia yang pernah menempuh pendidikan tinggi di bidang Matematika Terapan di universitas tersebut. Kehadiran murid SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta di kampus ini sekaligus memberikan gambaran nyata bahwa kesempatan menempuh pendidikan di lingkungan internasional merupakan cita-cita yang dapat dipersiapkan sejak dini melalui kesungguhan belajar, rasa ingin tahu, dan keberanian mengembangkan potensi diri.
Mengenal Profesor Tsubouchi Shōyō: Belajar dari Jejak Seorang Intelektual
Salah satu momen menarik dalam kunjungan ini adalah ketika para murid berkesempatan berfoto bersama patung Profesor Tsubouchi Shōyō (1859–1935) yang berada di depan Tsubouchi Memorial Theatre Museum, kawasan kampus Waseda University.
Profesor Tsubouchi Shōyō merupakan sastrawan, pemikir, dan profesor sastra yang memiliki kontribusi penting dalam perkembangan kesusastraan modern Jepang. Beliau dikenal luas melalui dedikasinya menerjemahkan karya-karya William Shakespeare ke dalam bahasa Jepang, sehingga karya sastra dunia tersebut dapat diakses dan diapresiasi lebih luas oleh masyarakat Jepang.
Patung Profesor Tsubouchi memiliki keunikan tersendiri. Salah satu tangannya terulur ke depan, menghadirkan kesan seolah-olah beliau sedang mengajak pengunjung untuk bersalaman. Detail artistik tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi para murid yang mengabadikan momen kebersamaan melalui foto.
Namun, pengalaman ini bukan sekadar kesempatan berfoto. Di balik patung tersebut tersimpan pelajaran tentang dedikasi terhadap ilmu pengetahuan, kecintaan pada literasi, serta peran pendidikan dalam menjembatani peradaban dan kebudayaan antarbangsa.
Dari sosok Profesor Tsubouchi, para murid diajak memahami bahwa ilmu pengetahuan dan karya intelektual memiliki daya lintas generasi dan lintas budaya. Sebuah pemikiran yang lahir dari kesungguhan belajar dapat memberikan pengaruh jauh melampaui zamannya.
Dari Kampus Menuju Eksplorasi Ikon Budaya Tokyo
Setelah menyelesaikan agenda kunjungan akademik di Waseda University, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Asakusa. Kawasan ini menjadi ruang pembelajaran kontekstual untuk mengenal warisan sejarah, tradisi, dan kehidupan masyarakat Jepang.
Perjalanan kemudian berlanjut ke Shibuya, salah satu kawasan urban paling dikenal di Tokyo, yang memperlihatkan dinamika kehidupan masyarakat modern, perkembangan teknologi, serta budaya populer Jepang.
Menjelang malam, para murid mengunjungi Harajuku. Kawasan ini memberikan pengalaman berbeda melalui karakter budaya anak muda, kreativitas, tren fesyen, dan ekspresi seni yang berkembang di tengah masyarakat Jepang.
Rangkaian perjalanan tersebut menghadirkan perspektif pembelajaran yang lebih luas: bagaimana sebuah negara mampu merawat warisan sejarah dan tradisi, sekaligus bergerak dinamis mengikuti perkembangan zaman.
Belajar Melampaui Ruang Kelas
Hari keempat Student Exchange Program 2026 menjadi pengingat bahwa pembelajaran sejatinya tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas. Mengunjungi universitas, mengenal tokoh intelektual, mengamati kehidupan masyarakat, serta berinteraksi dengan lingkungan lintas budaya merupakan bagian dari proses membangun kompetensi global.
Pengalaman di Waseda University memberikan inspirasi mengenai pentingnya budaya akademik, literasi, dan pengembangan kapasitas diri. Sementara eksplorasi Asakusa, Shibuya, dan Harajuku memperkaya pemahaman murid tentang keberagaman ekspresi budaya dalam kehidupan masyarakat Jepang.
Melalui program ini, SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta terus berupaya menghadirkan pengalaman pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga membangun karakter, kemandirian, kemampuan berkomunikasi, wawasan global, dan apresiasi terhadap keberagaman budaya.
Sebab, menjadi generasi berwawasan global bukan sekadar tentang sejauh mana seseorang mampu melangkah ke berbagai negara, melainkan tentang seberapa luas perspektif yang dibangun, seberapa dalam ilmu yang dipelajari, dan seberapa besar nilai kebaikan yang kelak dapat dikontribusikan bagi masyarakat.
From Local Values to Global Perspectives. Belajar dari dunia, bertumbuh dengan karakter, dan melangkah untuk masa depan. (Fajar Arif Herjayanto)






