Belajar di Negeri Sakura, 40 Murid SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta Asah Literasi Sains dan Wawasan Global

  • Pengalaman Belajar Internasional: Sebanyak 40 murid kelas VII, VIII, dan IX SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta mengikuti Student Exchange Program 2026 di Jepang pada 1–7 November 2026.
  • Eksplorasi Sains dan Teknologi: Melalui kunjungan ke National Museum of Nature and Science, murid mengenal sejarah bumi, evolusi kehidupan, keanekaragaman hayati, serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
  • Bahasa, Budaya, dan Karakter Global: Pembelajaran di ARC Academy Shinjuku memperkenalkan bahasa serta etika masyarakat Jepang, sekaligus memperkuat komunikasi, kemandirian, adaptasi, dan wawasan global sejalan dengan visi sekolah BERANI.

AYWS – Ada banyak cara untuk mengenal dunia. Sebagian melalui buku, sebagian lainnya lewat layar digital. Namun, bagi 40 murid SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta, awal November 2026 menjadi kesempatan istimewa untuk melihat, merasakan, dan mempelajari dunia secara langsung dari negeri yang dikenal dengan kemajuan teknologi sekaligus kekayaan tradisinya: Jepang.

Melalui Student Exchange Program 2026 yang berlangsung pada 1–7 November 2026, para murid diajak keluar dari rutinitas pembelajaran di ruang kelas. Negeri Sakura menjadi ruang belajar yang sesungguhnya, tempat ilmu pengetahuan, teknologi, bahasa, dan kebudayaan dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Bukan sekadar perjalanan ke luar negeri, program ini dirancang sebagai pengalaman pendidikan internasional untuk memperluas wawasan global, menumbuhkan rasa ingin tahu, sekaligus membangun kemampuan beradaptasi dan berinteraksi dengan masyarakat dari latar belakang budaya berbeda.

Sebanyak 40 murid kelas VII, VIII, dan IX mengikuti program tersebut dengan didampingi Kepala Satuan Pendidikan SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta, Fajar Arif Herjayanto MPd, bersama tiga guru pendamping, yakni Miftakhul Riska Fatimah SPd, Isna Ardyani Fataya SS MA, dan Fahmi Azis SH.

Menjelajahi Dunia Sains, Membaca Jejak Kehidupan

Perjalanan pembelajaran memasuki salah satu pengalaman penting pada hari kedua, Senin (2/11/2026). Tujuan pertama adalah *National Museum of Nature and Science*, sebuah institusi sains dan pendidikan di Jepang yang menyimpan begitu banyak cerita tentang perjalanan alam semesta, kehidupan, hingga perkembangan teknologi manusia.

Begitu memasuki kawasan museum, para murid dihadapkan pada dunia pengetahuan yang jauh lebih luas daripada apa yang biasa mereka temukan dalam buku pelajaran.

Berbagai koleksi ilmiah, spesimen, diorama, fosil, dan instalasi pameran menghadirkan pengalaman belajar yang berbeda. Sejarah bumi, evolusi kehidupan, keanekaragaman hayati, hingga perkembangan peradaban manusia dapat dipelajari melalui objek dan visual yang disajikan secara langsung.

Di Japan Gallery dan Global Gallery, peserta didik berkesempatan mengeksplorasi berbagai lantai dan zona pameran. Setiap ruang menghadirkan perspektif baru tentang hubungan antara alam, manusia, ilmu pengetahuan, dan teknologi.

Dari perjalanan panjang bumi dan kehidupan, mereka diajak memahami bagaimana makhluk hidup berkembang dan beradaptasi. Dari keanekaragaman hayati, mereka belajar bahwa setiap organisme memiliki peran dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Sementara dari berbagai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, mereka dapat melihat bagaimana penemuan manusia memberikan pengaruh besar terhadap kehidupan.

Pengalaman tersebut menghadirkan pembelajaran yang tidak berhenti pada kegiatan melihat koleksi museum. Lebih dari itu, para murid memperoleh kesempatan untuk mengamati, bertanya, menghubungkan informasi, dan membangun pemahaman berdasarkan apa yang mereka temukan.

Di sinilah literasi sains menemukan maknanya. Sains bukan sekadar kumpulan teori dan rumus yang harus dihafalkan, melainkan cara memahami fenomena, mengembangkan rasa ingin tahu, serta mencari jawaban melalui pengamatan dan pemikiran kritis.

Pengalaman ini sekaligus memperkuat pendekatan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics), yang mendorong peserta didik mengembangkan kemampuan berpikir analitis, memecahkan persoalan, dan menghubungkan berbagai disiplin ilmu dengan kehidupan nyata.

Belajar Bahasa Jepang, Memahami Cara Masyarakatnya Menghargai Sesama

Dari dunia sains, perjalanan hari kedua berlanjut menuju ARC Academy Shinjuku. Kali ini, ruang belajar berpindah dari museum ke lingkungan pendidikan bahasa Jepang.

Melalui kegiatan Japanese Language Class, para murid memperoleh pengalaman mengenal bahasa Jepang secara langsung. Mereka diajak mempelajari ungkapan komunikasi dasar, memahami penggunaan bahasa dalam percakapan sehari-hari, sekaligus mengenali cara masyarakat Jepang berinteraksi. Namun, pelajaran yang diperoleh tidak hanya berkaitan dengan kosakata dan kemampuan berbahasa.

Ada nilai-nilai budaya yang turut diperkenalkan. Mulai dari kebiasaan memberikan salam, budaya membungkukkan badan atau ojigi, tata krama dalam berkomunikasi, hingga pentingnya menghormati orang lain.

Kedisiplinan, ketepatan waktu, tanggung jawab, dan kesantunan menjadi bagian dari pemahaman yang ingin dibangun melalui pengalaman tersebut.

Bagi para murid, kesempatan belajar di lingkungan pendidikan Jepang memberikan perspektif bahwa bahasa tidak dapat dipisahkan dari budaya masyarakat yang menggunakannya. Memahami bahasa berarti juga belajar memahami nilai, kebiasaan, dan cara pandang orang lain.

Interaksi langsung dalam kegiatan pembelajaran ini diharapkan mampu menumbuhkan keberanian berkomunikasi, meningkatkan kepercayaan diri, serta membangun kompetensi lintas budaya (intercultural competence).

Sebab, generasi yang memiliki wawasan global bukan hanya mereka yang mampu menguasai bahasa asing, tetapi juga mereka yang mampu menghargai perbedaan, beradaptasi, dan menjalin komunikasi dengan masyarakat dari berbagai latar belakang.

Dari Jepang, Membawa Pulang Lebih dari Sekadar Pengalaman

Dua agenda pada hari kedua tersebut menghadirkan dua dimensi pembelajaran yang saling melengkapi. Eksplorasi National Museum of Nature and Science membuka cakrawala tentang sains, alam, dan teknologi. Sementara pembelajaran di ARC Academy Shinjuku memperkaya kemampuan komunikasi sekaligus pemahaman terhadap budaya masyarakat Jepang.

Keduanya menjadi pengalaman konkret dalam mengembangkan kompetensi masa depan (*future competencies*), mulai dari berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, hingga kemampuan beradaptasi.

Bagi SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta, pengalaman internasional semacam ini merupakan bagian dari upaya menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan pengembangan perspektif global.

Para murid didorong untuk mengambil nilai-nilai positif dari masyarakat Jepang, terutama kedisiplinan, tanggung jawab, budaya belajar, kepedulian terhadap lingkungan, dan penghargaan terhadap waktu. Namun, keterbukaan terhadap dunia tetap harus berjalan seiring dengan keteguhan memegang identitas, adab, dan nilai-nilai keislaman.

Inilah keseimbangan yang ingin dibangun: menjadi generasi muslim yang mampu mendunia tanpa kehilangan jati diri.

BERANI Melangkah, Siap Menghadapi Dunia

Student Exchange Program 2026 menjadi salah satu wujud komitmen SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta dalam menyiapkan peserta didik menghadapi tantangan masa depan.

Sejalan dengan visi sekolah BERANI, yakni Berakhlak Luhur, Berkecakapan Global, Berprestasi, dan Berbudaya Islami, program ini diharapkan menjadi pengalaman berharga dalam membentuk pribadi yang memiliki pengetahuan luas, kemandirian, rasa percaya diri, serta kemampuan beradaptasi di tengah masyarakat global.

Sebab, pendidikan tidak cukup hanya mengajarkan anak-anak bagaimana memahami dunia melalui buku dan teori. Mereka juga perlu diberi kesempatan untuk melihat dunia dari dekat, mengenali keberagamannya, belajar dari kemajuan bangsa lain, dan menemukan potensi terbaik dalam diri mereka.

Dari museum sains hingga ruang pembelajaran bahasa di Shinjuku, setiap pengalaman di Jepang menjadi bagian dari perjalanan panjang membangun generasi masa depan. Mereka mungkin berangkat dengan membawa rasa ingin tahu. Namun, yang diharapkan pulang bersama mereka bukan sekadar kenangan perjalanan, melainkan pengetahuan baru, cara pandang yang lebih luas, serta keberanian untuk bermimpi lebih tinggi.

“Learning Beyond the Classroom, Growing Beyond Boundaries.” (Fajar Arif Herjayanto)