- Tiga santriwati kelas 9 Al Hazen SMP Islam Al Azhar 38 Wonosari, yakni Arkhaliqia Naura Charmaraiza, Annisa Aurora, dan Almyra Khairunnisa Inayah, berhasil menuntaskan Tasmi’ Al-Qur’an Bil Ghoib Juz 30.
- Tasmi’ yang dilaksanakan Kamis (29/10/2026) tersebut mengantarkan ketiganya meraih predikat Mumtaz atau sangat baik/istimewa.
- Prestasi ini menjadi bukti kesungguhan, kedisiplinan, dan istiqamah dalam menghafal Al-Qur’an sekaligus inspirasi untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup dan pembentuk akhlak.
AYWS – Menghafal Al-Qur’an bukan sekadar mengingat dan melafalkan ayat demi ayat. Ada kesungguhan, kesabaran, kedisiplinan, dan keteguhan hati yang harus terus dijaga. Nilai-nilai itulah yang mengantarkan tiga santriwati Pondok Pesantren Islam Al Azhar Wonosari meraih predikat Mumtaz (sangat baik/istimewa) dalam Tasmi’ Al-Qur’an Bil Ghoib Juz 30.
Ketiga santriwati tersebut adalah Arkhaliqia Naura Charmaraiza, Annisa Aurora, dan Almyra Khairunnisa Inayah. Mereka merupakan santriwati kelas 9 Al Hazen (SMP Islam Al Azhar 38 Wonosari) atau kelas Ulya yang berhasil menuntaskan tasmi’ pada Kamis (29/10/2026).
Tasmi’ Bil Ghoib merupakan kegiatan memperdengarkan hafalan Al-Qur’an tanpa melihat mushaf. Bukan perkara sederhana, proses ini menuntut ketepatan hafalan, kelancaran bacaan, serta kemampuan menjaga setiap ayat agar tetap melekat dalam ingatan.
Predikat Mumtaz yang diraih ketiganya menjadi buah dari proses panjang yang tidak selalu mudah. Di balik lantunan ayat yang mereka perdengarkan, ada waktu yang diluangkan untuk mengulang hafalan, kesungguhan dalam belajar, serta konsistensi untuk terus berinteraksi dengan Al-Qur’an.
Capaian ini sekaligus menjadi kabar membanggakan bagi keluarga besar Pondok Pesantren Islam Al Azhar Wonosari. Lebih dari sekadar prestasi individu, keberhasilan tersebut menjadi gambaran ikhtiar pendidikan pesantren dalam menumbuhkan generasi yang dekat dengan Al-Qur’an.
Sebab, pendidikan tahfiz sejatinya tidak berhenti pada kemampuan menghafal. Lebih jauh, Al-Qur’an diharapkan tumbuh menjadi bagian dari kehidupan santri, membimbing perilaku, membentuk akhlak, dan menjadi pedoman dalam setiap langkah.
Predikat Mumtaz pun bukanlah garis akhir. Justru, capaian ini menjadi awal dari tanggung jawab yang lebih besar: menjaga hafalan, memperbaiki kualitas bacaan, serta mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Semoga keberhasilan Arkhaliqia, Annisa, dan Almyra menjadi inspirasi bagi santri lainnya untuk semakin mencintai Al-Qur’an. Karena kemuliaan seorang penghafal bukan hanya terletak pada banyaknya ayat yang tersimpan dalam ingatan, tetapi juga pada seberapa jauh ayat-ayat itu hidup dalam hati dan tercermin dalam perilaku sehari-hari. (Ichya’ul Haqiqi)






