Pimpinan PKB Kunjungi AYWS, Studi Membangun Model Pengelolaan Pendidikan

  • Pimpinan DPP PKB, Wakil Ketua DPR RI, dan DPW PKB DIY mengunjungi AYWS untuk mempelajari pengelolaan lembaga pendidikan.
  • PKB menggagas pendirian lembaga pendidikan secara kolektif sebagai model percontohan bagi kader di berbagai daerah.
  • Hafidh Asrom memaparkan perkembangan AYWS dan HAWS yang kini menaungi total 22 unit pendidikan serta rencana ekspansi pada 2027.

AYWS – Keinginan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) untuk mengambil peran lebih luas dalam dunia pendidikan tidak berhenti pada perjuangan kebijakan dan regulasi. Partai yang lahir dari rahim Nahdlatul Ulama (NU) ini mulai menggagas keterlibatan langsung dalam pengelolaan lembaga pendidikan.

Gagasan tersebut mengemuka dalam kunjungan sejumlah pimpinan DPP PKB, Wakil Ketua DPR RI, serta jajaran pimpinan DPW PKB DIY ke Kampus 2 Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS), Gamping, Sleman, Senin (2/11/2026).

Rombongan antara lain terdiri atas Wakil Ketua Umum DPP PKB Ida Fauziyah, Sekretaris Jenderal DPP PKB M Hasanuddin Wahid, Wakil Ketua DPR RI Dr H Cucun Ahmad Syamsurijal MAP, serta sejumlah pengurus DPP dan DPW PKB DIY.

Kedatangan rombongan diterima Ketua Yayasan Asram/Badan Pengelola dan Pelaksana Harian (BPPH) AYWS Drs HA Hafidh Asrom MM, didampingi Dewan Pakar AYWS Prof Dr. Rochmat Wahab MPd, serta sejumlah wakil ketua BPPH AYWS.

Dalam sambutannya, Ida Fauziyah menyampaikan bahwa kunjungan tersebut bukan sekadar silaturahmi, melainkan bagian dari upaya PKB mencari pengalaman dan referensi dalam membangun lembaga pendidikan yang dikelola secara kelembagaan.

Menurut Ida, sebagian besar anggota Fraksi PKB memiliki latar belakang aktivis, santri, serta pegiat pendidikan. Bahkan, tidak sedikit yang telah mengelola lembaga pendidikan dan pondok pesantren di daerah masing-masing.

Kondisi tersebut menjadi modal sekaligus landasan bagi PKB untuk mengembangkan peran di bidang pendidikan. Selama ini, kontribusi partai lebih banyak dilakukan melalui perjuangan kebijakan di parlemen, termasuk penguatan anggaran pendidikan 20 persen dalam konstitusi serta lahirnya Undang-Undang Pesantren.

Namun, Ida menilai perjuangan melalui jalur legislasi perlu dilengkapi dengan keterlibatan langsung dalam penyelenggaraan pendidikan.

Dari 68 anggota Fraksi PKB, sekitar 20 orang atau hampir 30 persen di antaranya telah memiliki atau mengelola lembaga pendidikan. Potensi tersebut dinilai dapat dikembangkan menjadi gerakan bersama yang lebih terarah.

Gagasan membangun lembaga pendidikan secara kolektif itu, lanjut Ida, merupakan arahan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar. Lembaga tersebut diharapkan menjadi prototipe atau model percontohan yang dapat dikembangkan dan menjadi inspirasi bagi kader PKB di berbagai daerah.

Karena itu, kunjungan ke AYWS menjadi kesempatan untuk belajar secara langsung mengenai sistem pengelolaan, pengembangan kelembagaan, serta strategi membangun ekosistem pendidikan yang berkelanjutan.

“Kami merasa tidak cukup hanya berada pada level pembuat kebijakan. Kami ingin terjun langsung dalam pengelolaan pendidikan. Karena itu, kami perlu banyak belajar dan mencari model yang bisa menjadi rujukan untuk mewujudkan mimpi tersebut,” ungkap Ida.

Dua Dekade AYWS, Lahirkan Pengembangan Pendidikan Baru

Sementara itu, Hafidh Asrom memaparkan perjalanan panjang pengembangan lembaga pendidikan yang dirintisnya sejak 2005. Dalam kurun dua dekade, AYWS telah berkembang menjadi jaringan pendidikan dengan 19 unit sekolah.

Memasuki dekade ketiga, pengembangan pendidikan tersebut semakin diperluas melalui pendirian Hafidh Asrom World Schools (HAWS). Dengan penambahan unit-unit pendidikan di bawah HAWS, total lembaga pendidikan yang telah didirikan mencapai 22 unit.

Pengembangan HAWS tidak hanya berorientasi pada penambahan jumlah sekolah, tetapi juga memperluas jangkauan dan model pendidikan. Salah satunya melalui pendirian sekolah di Magelang. Ke depan, pengembangan tersebut direncanakan berlanjut ke sejumlah wilayah. Tahun 2027, HAWS menargetkan pendirian sekolah di Kota Yogyakarta, Kalasan Sleman, serta kawasan Beji, Patuk Gunungkidul.

Khusus di Beji, Patuk, kawasan tersebut diproyeksikan menjadi pusat pengembangan pendidikan berskala besar, termasuk kampus Sekolah Mandarin dan sekolah berkurikulum International Baccalaureate (IB).

Perjalanan AYWS dan pengembangan HAWS memperlihatkan bahwa membangun lembaga pendidikan bukan pekerjaan sesaat. Dibutuhkan visi jangka panjang, konsistensi, penguatan kelembagaan, serta keberanian mengembangkan model pendidikan sesuai kebutuhan zaman.

Kunjungan pimpinan PKB ke AYWS pun menjadi ruang pertukaran pengalaman antara pengelola lembaga pendidikan dan para penggerak politik yang tengah menggagas keterlibatan lebih langsung dalam dunia pendidikan. (Chaidir)