SLEMAN – Suasana berbeda akan terasa di Desa Tlahab, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung, pada 9–11 Mei 2026. Di desa yang dikenal sebagai salah satu penghasil kopi berkualitas ekspor ini, puluhan siswa SMP Islam Al Azhar 67 Internasional Yogyakarta tidak sekadar datang berkunjung, tetapi hadir untuk belajar langsung dari kehidupan masyarakat.
Melalui program Community Service, para siswa kelas VII akan tinggal bersama warga selama tiga hari dua malam. Mereka tidak hanya mengamati, tetapi terlibat aktif dalam berbagai aktivitas sosial, pendidikan, hingga pengenalan potensi ekonomi lokal.
Kepala Satuan Pendidikan SMP Islam Al Azhar 67 Internasional, Iyut Ayudya MPd, menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari pendekatan pendidikan internasional yang diadopsi sekolah, yakni konsep CATS (Creativity, Activity, and Service). “Pada aspek service, siswa kami dorong untuk terjun langsung ke masyarakat. Mereka belajar tidak hanya dari buku, tetapi dari realitas kehidupan,” ujarnya.
Meski berdurasi singkat, rangkaian kegiatan yang dirancang seperti “Kuliah Kerja Nyata” (KKN) para mahasiswa namun khusus siswa ini dikemas padat dan bermakna. Siswa akan terlibat dalam kegiatan bakti sosial seperti donasi buku untuk sekolah dasar setempat. Buku-buku layak pakai yang dibawa dari rumah akan diserahkan langsung kepada anak-anak desa sebagai upaya menumbuhkan budaya literasi.
Tak berhenti di situ, siswa juga berperan sebagai pengajar. Mereka akan mengisi kegiatan di sekolah dan masjid, mulai dari mengajar mengaji, bahasa Inggris, hingga prakarya. Interaksi ini menjadi ruang belajar dua arah—siswa belajar berbagi ilmu sekaligus memahami dinamika sosial masyarakat.
“Bahkan pada pelaksanaan sebelumnya, siswa ikut terlibat dalam kegiatan warga seperti tahlilan dan rewang. Dari situ muncul kedekatan emosional yang tidak bisa didapatkan di kelas,” tambah Iyut dengan menyebut bahwa kegiatan Community Service ini merupakan kali kedua.
Menurut Iyut, selama kegiatan para siswa tinggal di rumah warga. Pengalaman ini menjadi bagian penting dalam membangun kemampuan adaptasi, komunikasi, serta empati terhadap kehidupan sosial yang beragam.
Dari Kopi hingga Vanili: Belajar Sociopreneurship
Selain aspek sosial, program ini juga memperkenalkan siswa pada potensi ekonomi lokal. Desa Tlahab yang dikenal sebagai penghasil kopi menjadi laboratorium hidup bagi siswa untuk memahami proses bisnis berbasis sumber daya lokal.
Mereka diajak mengenal perjalanan kopi secara menyeluruh—mulai dari penanaman, perawatan, pengolahan, hingga distribusi ekspor. Siswa juga belajar membedakan jenis dan cita rasa kopi, bahkan praktik langsung dalam pengolahan. Tak hanya kopi, komoditas vanili yang bernilai tinggi di pasar global juga menjadi bagian dari pembelajaran. Siswa memahami bagaimana komoditas lokal dapat memiliki daya saing internasional.
“Di sini siswa belajar bahwa potensi Indonesia itu luar biasa. Produk lokal seperti kopi dan vanili punya nilai global. Ini bagian dari pembelajaran sociopreneurship,” jelas Iyut.
Dalam pelaksanaannya, siswa dibagi ke dalam kelompok kecil dan menjalankan kegiatan di tiga titik utama yaitu sekolah, masjid, dan lingkungan kampung.
Di luar aktivitas mengajar dan bakti sosial, siswa juga melakukan wawancara dengan berbagai lapisan masyarakat—mulai dari petani kopi, barista, pedagang, hingga ibu rumah tangga. Dari sini, mereka menggali cerita kehidupan, pekerjaan, serta potensi lokal.
Hasil wawancara kemudian diolah menjadi laporan dan esai reflektif. Proses ini menjadi bagian penting dalam penguatan literasi, di mana siswa tidak hanya membaca, tetapi juga menulis dan berpikir kritis berdasarkan pengalaman nyata.
Pembelajaran Berbasis Pengalaman
Program ini merupakan pelaksanaan kedua sejak pertama kali dikembangkan sebagai bagian dari inovasi kurikulum berbasis pengalaman (real-life learning). Sekolah ingin melampaui pembelajaran konvensional yang bertumpu pada teori.
Inspirasi pendekatan ini telah dirintis sejak 2015, dengan tujuan membekali siswa agar siap menghadapi dunia nyata melalui pembelajaran yang kontekstual, bahkan mendekati situasi dunia kerja (office-like learning).
“Dalam pendidikan internasional, yang ditekankan bukan hanya teori, tetapi kesiapan hidup. Ada social awareness, personal growth, dan kemampuan berkontribusi,” tegas Iyut.
Tiga Tujuan Utama
Dijelaskan oleh Iyut bahwa program Community Service ini dirancang dengan tiga tujuan utama. Pertama, personal growth, yakni membentuk karakter siswa agar lebih matang, peka, dan mampu berinteraksi dengan baik. Kedua, social impact, di mana kehadiran siswa diharapkan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, meskipun dalam waktu singkat. Ketiga, sociopreneurship, yaitu menanamkan kesadaran bahwa potensi lokal dapat menjadi peluang ekonomi global.
Sekolah terus melakukan penyempurnaan, tidak hanya pada aktivitas, tetapi juga pada dampak yang dihasilkan. Fokusnya bukan lagi sekadar kegiatan, melainkan nilai pembeda yang mampu membentuk karakter siswa secara nyata.
Kegiatan ini juga melibatkan perangkat desa dan direncanakan mengundang pemangku kepentingan daerah, termasuk pemerintah setempat. Pembukaan biasanya dilakukan di pendopo desa sebagai bentuk penghormatan sekaligus membangun kepercayaan dengan masyarakat.
“Ini bukan sekadar program sekolah, tetapi kolaborasi. Kami ingin kegiatan ini memberi dampak luas, baik bagi siswa maupun masyarakat,” kata Iyut.
Pendidikan yang Relevan dengan Masa Depan
Pada akhirnya, Community Service bukan sekadar agenda tahunan, melainkan bagian dari upaya panjang menghadirkan pendidikan yang adaptif, kontekstual, dan relevan. Di Desa Tlahab, para siswa tidak hanya belajar tentang kehidupan, tetapi juga tentang makna menjadi manusia yang peduli, berdaya, dan siap menghadapi masa depan. (Chaidir)







