Di Era Digital, Siswa KB-TK Islam Al Azhar 55 Wonosari Kirim Kartu Lebaran Lewat Pos

WONOSARI – Di tengah maraknya ucapan selamat hari raya melalui pesan singkat digital, para siswa Kelompok Bermain (KB) dan Taman Kanak-kanak (TK) Islam Al Azhar 55 Wonosari justru menghidupkan kembali tradisi lama yang sarat makna.

Pada Kamis, 5 Maret 2026, puluhan anak didik dengan penuh antusias membawa kartu Lebaran hasil karya mereka sendiri untuk dikirim melalui Kantor Pos Wonosari. Kegiatan ini menjadi pengalaman menarik sekaligus pembelajaran yang berbeda bagi anak-anak.

Kegiatan ini telah dimulai sejak awal pekan. Para siswa diajak membuat dan menghias kartu ucapan Lebaran dengan berbagai cara kreatif. Ada yang menempelkan potongan kertas warna-warni menjadi kolase, ada pula yang menggambar masjid, bulan sabit, dan ketupat menggunakan krayon.
Dengan bimbingan para guru, setiap kartu menjadi karya unik yang mencerminkan imajinasi dan keceriaan anak-anak.

Mengirim Surat di Kantor Pos

Puncak kegiatan berlangsung saat para siswa melakukan kunjungan edukasi ke Kantor Pos Wonosari. Di tempat ini, mereka belajar secara langsung bagaimana proses pengiriman surat dilakukan.

Anak-anak diperkenalkan pada berbagai tahapan pengiriman surat, mulai dari mengenal fungsi prangko sebagai “tiket perjalanan” bagi surat, melihat proses pemberian stempel oleh petugas pos, hingga momen yang paling mereka tunggu: memasukkan kartu Lebaran ke dalam kotak pos berwarna oranye yang ikonik.

Bagi sebagian anak, ini menjadi pengalaman pertama mereka mengirim surat secara langsung.

Menanamkan Kesabaran dan Empati
Lebih dari sekadar kegiatan seni dan kunjungan edukatif, aktivitas ini juga bertujuan menanamkan nilai-nilai karakter pada anak sejak dini. Mereka diajak belajar bersabar menunggu kartu yang dikirim sampai ke tujuan.

Di saat yang sama, anak-anak juga merasakan kebahagiaan berbagi perhatian dan kasih sayang kepada orang tua maupun saudara yang berada di luar kota melalui kartu ucapan yang mereka buat sendiri.

Melalui kegiatan ini, para siswa tidak hanya mengenal teknologi modern, tetapi juga diajak menghargai tradisi sederhana yang sarat ketulusan dan makna. (Dinda Restu)