Hujan Kembali Turun, Salat Istisqa Jadi Pengingat Makna Ikhtiar dan Syukur

  • Murid SMA Islam Al Azhar 9 Yogyakarta menggelar salat istisqa dalam rangka Hari Santri Nasional sebagai ikhtiar memohon hujan dan kepedulian terhadap karhutla.
  • Salat istisqa dipimpin Muhammad Asyam Mu’tashim Billah, penghafal 30 juz Al-Qur’an, dilanjutkan khotbah oleh guru agama Nuryanto.
  • Hujan yang kembali turun menjadi momentum untuk memperkuat rasa syukur, menanamkan nilai spiritual, serta mendorong kepedulian terhadap lingkungan.

AYWS – Turunnya hujan dalam beberapa hari terakhir menjadi kabar yang membawa kelegaan sekaligus mengingatkan manusia akan pentingnya bersyukur atas nikmat Allah SWT. Di balik kesejukan yang kembali menyapa, tersimpan pesan tentang arti sebuah ikhtiar, ketulusan doa, dan kesadaran bahwa manusia senantiasa membutuhkan pertolongan-Nya.

Pesan tersebut relevan dengan ikhtiar spiritual yang sebelumnya dilakukan murid SMA Islam Al Azhar 9 Yogyakarta melalui salat istisqa dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional. Salat sunah untuk memohon turunnya hujan itu menjadi wujud kepedulian sekaligus ikhtiar bersama di tengah persoalan kekeringan dan bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia.

Ketika hujan kembali turun, pengalaman tersebut menjadi momentum bagi para murid untuk memahami bahwa doa, usaha, dan rasa syukur merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam menjalani kehidupan. Bukan semata-mata tentang menanti turunnya hujan, melainkan juga tentang membangun kesadaran untuk terus berikhtiar, berserah diri kepada Allah SWT, dan menjaga alam yang menjadi sumber kehidupan.

Menanamkan Nilai Spiritual melalui Pengalaman Ibadah

Pelaksanaan salat istisqa berlangsung di Lapangan SMA Islam Al Azhar 9 Yogyakarta pada Kamis lalu (22/10/2026). Rangkaian ibadah diawali dengan salat duha dua rakaat dan salat tobat dua rakaat, kemudian dilanjutkan dengan salat istisqa.

Salat istisqa dipimpin oleh Muhammad Asyam Mu’tashim Billah, salah seorang murid yang telah menghafal 30 juz Al-Qur’an. Setelah salat selesai, kegiatan dilanjutkan dengan khotbah yang disampaikan oleh guru agama, Nuryanto.

Seluruh murid mengikuti rangkaian ibadah dengan tertib dan khusyuk. Dalam suasana tersebut, mereka diajak menyadari bahwa manusia senantiasa membutuhkan rahmat Allah SWT, terlebih ketika menghadapi persoalan yang menyangkut keberlangsungan hidup dan keseimbangan lingkungan.

Peringatan Hari Santri Nasional pun tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Momentum ini dimanfaatkan untuk menumbuhkan semangat religius, memperkuat kecintaan terhadap ajaran Islam, serta meneladani perjuangan santri dalam menjaga nilai-nilai keislaman dan memberikan kontribusi bagi bangsa.

Para murid mengenakan busana muslim, seperti baju koko, sarung, jubah, dan gamis. Suasana tersebut sekaligus memperkuat pesan bahwa semangat santri dapat diwujudkan melalui ketaatan beribadah, akhlak mulia, kepedulian sosial, serta kesediaan untuk mengambil bagian dalam menjawab persoalan di tengah masyarakat.

Ikhtiar, Doa, dan Syukur yang Berjalan Beriringan

Turunnya hujan setelah pelaksanaan salat istisqa menjadi pengingat akan pentingnya memelihara harapan dan memperbanyak rasa syukur. Dalam kehidupan beragama, manusia diajarkan untuk terus berusaha dan berdoa, tanpa kehilangan kesadaran bahwa segala sesuatu berada dalam kehendak Allah SWT.

Nilai inilah yang hendak ditanamkan kepada para murid. Ikhtiar tidak selalu dimaknai sebatas hasil yang segera terlihat, tetapi juga proses membangun keteguhan hati, memperkuat kebersamaan, dan menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.

Melalui salat istisqa, murid diajak memperbanyak doa dan istigfar, melakukan introspeksi diri, serta memperbaiki hubungan dengan Allah SWT dan lingkungan sekitar. Ketika hujan kembali turun, rasa syukur tersebut perlu diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan hanya diucapkan melalui lisan.

Sebab, hujan yang membawa manfaat juga membutuhkan tanggung jawab manusia dalam menjaganya. Menghemat air, menjaga kebersihan, merawat tanaman, serta melestarikan lingkungan merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mendukung keberlangsungan sumber daya alam.

Dengan demikian, ikhtiar spiritual dan usaha nyata berjalan beriringan. Doa menjadi penguat batin, sedangkan tindakan sehari-hari menjadi bentuk tanggung jawab manusia dalam merawat kehidupan.

Hari Santri, Momentum Membentuk Generasi Berkarakter

Bagi SMA Islam Al Azhar 9 Yogyakarta, perpaduan peringatan Hari Santri Nasional dan salat istisqa merupakan bagian dari pendidikan karakter yang tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Murid memperoleh pengalaman langsung mengenai nilai ketakwaan, kedisiplinan, kebersamaan, kerendahan hati, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Pendidikan agama diharapkan tidak berhenti pada pemahaman konsep, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan yang tercermin dalam perilaku sehari-hari. Semangat santri perlu hadir dalam kesungguhan menuntut ilmu, keteguhan menjalankan ibadah, kepedulian terhadap persoalan sosial, serta tanggung jawab menjaga alam.

Turunnya hujan dalam beberapa hari terakhir menjadi kesempatan untuk memperbarui rasa syukur sekaligus memperkuat kesadaran bahwa air merupakan karunia yang sangat berharga. Ketika hujan datang, manusia bersyukur; ketika menghadapi kekeringan, manusia berikhtiar dan berdoa. Dalam kedua keadaan tersebut, kepedulian dan tanggung jawab tetap diperlukan.

Melalui kegiatan ini, SMA Islam Al Azhar 9 Yogyakarta berharap dapat membentuk generasi muda yang beriman, bertakwa, berilmu, dan memiliki karakter Islami. Para murid diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya tekun beribadah, tetapi juga mampu menghadirkan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan agama.

Pada akhirnya, pesan dari salat istisqa tidak hanya terletak pada harapan akan turunnya hujan. Lebih dari itu, terdapat pelajaran tentang pentingnya terus berikhtiar, memanjatkan doa, menjaga harapan, dan mensyukuri setiap nikmat yang diberikan Allah SWT.

Hujan yang kembali membasahi bumi menjadi pengingat bahwa setiap karunia layak disambut dengan rasa syukur dan tanggung jawab. Sementara itu, semangat Hari Santri Nasional mengajarkan bahwa iman perlu diwujudkan dalam tindakan nyata. Sebab, ikhtiar yang dilakukan dengan ketulusan akan selalu memiliki nilai, baik dalam menguatkan spiritualitas maupun menumbuhkan kepedulian terhadap kehidupan. (Sita)