Ketua BMPS DIY : Sekolah Swasta Harus Berani Berubah, Jangan Tunggu Ditinggalkan

  • Ketua BMPS DIY Hafidh Asrom meminta sekolah swasta tidak menunggu perubahan, tetapi bergerak lebih dahulu melalui inovasi.
  • Sekolah swasta perlu memperkuat nilai, karakter, teknologi, bahasa asing, dan wawasan global agar tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat.
  • BMPS DIY berkomitmen mengawal keberlangsungan sekolah swasta, termasuk menghadapi persoalan kekurangan murid dan persaingan dengan sekolah negeri.

AYWS – Sekolah swasta di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Perubahan pola pilihan masyarakat, perkembangan teknologi, hingga persaingan mendapatkan peserta didik menuntut sekolah swasta tidak lagi berjalan dengan pola lama.

Ketua Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) DIY periode 2026–2031, Drs HA Hafidh Asrom MM, mengingatkan sekolah swasta agar tidak hanya menunggu perubahan, tetapi berani bergerak lebih dahulu.

Pesan tersebut disampaikan Hafidh Asrom dalam acara pelantikan pengurus DPW BMPS DIY periode 2026–2031 di Auditorium Al Hafidh, Kampus 1 Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS), Kamis (10/9/2026).

Menurut Hafidh, perubahan dalam dunia pendidikan merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari. Karena itu, sekolah swasta harus mampu membaca perubahan sekaligus menemukan keunggulan yang membuatnya tetap dibutuhkan masyarakat.

“Perubahan akan selalu terjadi,” kata Hafidh mengutip pesan Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X saat dirinya bersama jajaran BMPS sowan beberapa waktu lalu.

Ia menilai sekolah swasta harus memiliki value (nilai), karakter, dan keunggulan yang jelas. Tanpa itu, sekolah akan semakin sulit mendapatkan kepercayaan orang tua dan peserta didik di masa mendatang.

“Kalau sekolah tidak memiliki nilai yang kuat, tidak memiliki karakter dan keunggulan yang jelas, tentu akan semakin sulit untuk diminati oleh orang tua maupun peserta didik,” ujarnya.

Sekolah Negeri Mulai Ditinggalkan

Hafidh menyoroti fenomena berkurangnya peminat sekolah negeri yang terjadi di sejumlah wilayah DIY. Ia menyebut kondisi tersebut terlihat hampir di seluruh kabupaten dan kota, terutama pada jenjang sekolah dasar negeri. Di Kota Yogyakarta, misalnya, masih terdapat sekitar seribu kursi yang belum terisi karena kurangnya peminat. Fenomena serupa, menurut dia, juga terjadi di Sleman.

Kondisi tersebut seharusnya menjadi momentum bagi sekolah swasta untuk melakukan evaluasi dan berbenah. Jangan sampai sekolah swasta justru terjebak dalam pola pendidikan yang monoton, baik dari sisi program maupun kurikulum.

“Inovasi belum tumbuh secara optimal. Karena itu, sekolah swasta justru harus berani melakukan inovasi. Kita harus mampu membaca kebutuhan pendidikan masa depan dan menyesuaikan diri dengan perubahan zaman,” katanya.

Hafidh menegaskan sekolah swasta tidak boleh sekadar menunggu perubahan terjadi. “Jangan sampai kita hanya menunggu. Kita harus bergerak lebih dahulu,” tegasnya.

Pendidikan Yogyakarta Harus Berwawasan Dunia

Menurut Hafidh, tantangan pendidikan saat ini juga tidak lagi berhenti pada kebutuhan Indonesia. Anak-anak Yogyakarta harus dipersiapkan untuk mampu berinteraksi dan berkompetisi di tingkat global.

Perubahan kekuatan ekonomi dan geopolitik dunia, kata dia, perlu dibaca oleh para pengelola pendidikan. Salah satunya dengan menyiapkan kemampuan bahasa asing, teknologi, pola pikir global, sekaligus karakter yang kuat.

Ia bahkan memberikan apresiasi kepada sekolah-sekolah swasta yang telah memberikan ruang bagi pembelajaran bahasa Mandarin. Menurutnya, langkah tersebut menunjukkan bahwa sekolah mulai membaca perubahan dunia dan kebutuhan generasi masa depan.

“Kita harus mempersiapkan anak-anak kita agar tidak menjadi penonton di negeri sendiri,” ujarnya.

Anak-anak, lanjut Hafidh, harus memiliki kemampuan untuk berkomunikasi, berkompetisi, sekaligus bekerja sama dengan masyarakat dunia. Karena itu, pendidikan masa depan tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan akademik. Penguasaan bahasa asing, teknologi, kemampuan berpikir global, serta karakter dan nilai-nilai yang kuat harus berjalan bersamaan.

“Pendidikan dari Yogyakarta harus kita dorong untuk dunia. Tantangan kita sekarang tidak lagi hanya untuk Indonesia, tetapi sudah dunia,” katanya.

Gagasan Beasiswa untuk Sekolah Minim Peminat

Hafidh juga mengungkapkan perlunya perhatian terhadap sekolah-sekolah swasta yang menghadapi persoalan minim peserta didik. Menurut dia, BMPS perlu mencari solusi bersama sehingga sekolah-sekolah tersebut tetap dapat bertahan dan memberikan layanan pendidikan kepada masyarakat.

Salah satu gagasan yang muncul adalah penyediaan skema beasiswa bagi anak-anak agar tetap dapat bersekolah di sekolah swasta yang tersedia di DIY.

“Kalau ada sekolah yang kekurangan peserta didik, kita harus mencari solusi bersama. Salah satunya adalah dengan menyiapkan skema beasiswa agar anak-anak tetap bisa mendapatkan pendidikan di sekolah swasta yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta,” katanya.

Sekretariat Tetap di Taman Siswa

Di awal kepemimpinannya, Hafidh juga menegaskan identitas BMPS DIY tidak bisa dilepaskan dari sejarah perjuangan pendidikan di Yogyakarta. Karena itu, ia mengusulkan agar sekretariat BMPS DIY tetap berada di Jalan Taman Siswa.

Menurutnya, Taman Siswa bukan sekadar lokasi sekretariat, tetapi simbol dari sejarah dan perjuangan pendidikan Indonesia. “Kita harus tetap menjunjung tinggi para leluhur pendidikan kita yang telah meletakkan gagasan-gagasan luar biasa bagi dunia pendidikan Indonesia,” katanya.

Sementara untuk kegiatan rapat dan operasional, BMPS dapat menggunakan berbagai tempat, termasuk Asram Edupark, Al Azhar, De Britto maupun lokasi lainnya.

Bagi Hafidh, kepemimpinan BMPS DIY periode 2026–2031 tidak boleh berhenti pada urusan administratif. Pengurus harus benar-benar menjadi bagian dari perjuangan memperkuat pendidikan swasta.

“Kita tidak hanya menjadi pengurus secara administratif. Kita harus benar-benar menjadi bagian dari perjuangan untuk memajukan pendidikan swasta di Daerah Istimewa Yogyakarta,” ujarnya.

Ia mengajak seluruh pengurus menyisihkan waktu, tenaga, pikiran, dan gagasan untuk memikirkan masa depan pendidikan swasta DIY. Bukan hanya untuk lima tahun ke depan, tetapi juga bagaimana wajah pendidikan swasta Yogyakarta dalam 10 hingga 20 tahun mendatang.

“Semoga BMPS DIY semakin kuat, sekolah-sekolah swasta semakin maju, dan pendidikan di Daerah Istimewa Yogyakarta semakin mampu memberikan kontribusi bagi Indonesia, bahkan bagi dunia,” ujarnya. (Chaidir)