SETIAP sekolah memiliki gedung, kurikulum, dan program unggulan. Namun tidak semua sekolah memiliki cerita panjang tentang perjuangan membangun kepercayaan masyarakat dari titik nol. Di balik ruang-ruang kelas yang kini ramai oleh aktivitas belajar, tersimpan kisah tentang orang-orang yang bekerja dalam diam, merawat mimpi sedikit demi sedikit hingga menjadi kenyataan.
Kisah itu dapat ditemukan dalam perjalanan SMP Islam Al Azhar 66 Bantul. Di balik tumbuhnya sekolah yang kini dikenal melalui berbagai prestasi dan program unggulannya, terdapat sosok pendidik bernama Indra Juharni.
Perjalanan Indra tidak dimulai dari ruang kepala sekolah. Kariernya tumbuh dari ruang kelas saat menjadi guru di SD Islam Al Azhar 31 Yogyakarta. Dari sana ia belajar bahwa pendidikan bukan sekadar menyampaikan pelajaran, melainkan membantu setiap anak menemukan potensinya.
Ia melihat bahwa setiap siswa hadir dengan kemampuan, karakter, dan latar belakang yang berbeda. Ada yang unggul secara akademik, ada yang menonjol dalam seni, olahraga, maupun bidang lainnya. Pengalaman tersebut membentuk keyakinan yang terus ia pegang hingga kini bahwa setiap anak memiliki kelebihan yang harus ditemukan dan dikembangkan.
Pemahaman itu semakin matang ketika ia dipercaya menjadi Wakil Kepala Satuan Pendidikan dan kemudian Kepala Satuan Pendidikan SD Islam Al Azhar 38 Bantul. Pada fase ini, sudut pandangnya berkembang. Ia tidak lagi hanya melihat pendidikan dari ruang kelas, tetapi dari perspektif yang lebih luas sebagai sebuah sistem yang melibatkan budaya sekolah, manajemen, kualitas layanan, serta hubungan dengan orang tua dan masyarakat.
Tahun 2023 menjadi titik penting dalam perjalanan hidupnya. Saat itu Yayasan Asram/Badan Pengelola dan Pelaksana Harian Al Azhar Yogyakarta merintis SMP Islam Al Azhar 66 Bantul, sebuah sekolah baru yang belum memiliki alumni, sejarah panjang, maupun tradisi prestasi. Yang dimiliki hanyalah visi, harapan, dan keyakinan.
Indra dipercaya memimpin sekolah tersebut, bahkan ketika ia masih menjabat sebagai Kepala Satuan Pendidikan di SD Islam Al Azhar 38 Bantul. Tugas itu tidak ringan. Ia harus memastikan sekolah yang telah berjalan tetap berkembang, sekaligus membangun sekolah baru dari tahap paling awal.
Promosi dan Berawal 9 Siswa
Tantangan pertama langsung terlihat ketika tahun ajaran pertama dimulai. Jumlah siswa yang bergabung hanya sembilan siswa. Bagi sebagian orang, angka itu mungkin mengkhawatirkan. Namun bagi Indra, sembilan siswa tersebut bukan kelemahan, melainkan fondasi awal yang harus dirawat.
Ia memilih tidak tergesa-gesa mengejar pencapaian instan. Fokus utama pada tahun pertama adalah membangun budaya sekolah, membangun karakter, menyusun sistem, serta menumbuhkan kepercayaan masyarakat.
Kepercayaan itulah yang menjadi pekerjaan terbesar. Pada masa-masa awal, seluruh tim sekolah bergerak bersama memperkenalkan SMP Islam Al Azhar 66 Bantul kepada masyarakat. Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga terlibat dalam promosi sekolah. Mereka mengunjungi sekolah dasar, membagikan brosur, membuat konten media sosial, memasang spanduk, hingga hadir dalam berbagai kegiatan masyarakat.
“Kami semua menjadi tim marketing. Kepala sekolah, guru, semuanya ikut bergerak,” kenang Indra saat diwawancarai, belum lama ini.
Mereka sadar bahwa sekolah baru tidak bisa meminta masyarakat percaya begitu saja. Kepercayaan harus diperjuangkan melalui pelayanan, kualitas, dan konsistensi.
Kecakapan Global
Di tengah upaya membangun kepercayaan itu, Indra juga merancang arah pendidikan yang ingin diwujudkan. Sejak awal ia tidak ingin SMP Islam Al Azhar 66 Bantul hanya unggul secara akademik. Ia ingin melahirkan generasi yang berakhlakul karimah, cerdas, dan memiliki kecakapan global.
Menurutnya, anak-anak tidak cukup hanya memiliki wawasan global. Mereka harus mampu hidup, beradaptasi, berkomunikasi, berkolaborasi, dan bersaing di dunia yang semakin terhubung. Karena itulah istilah “berwawasan global” kemudian berkembang menjadi “berkecakapan global”.
Meski demikian, karakter tetap menjadi pondasi utama. Program tahfidz dijalankan secara serius dengan sistem evaluasi yang ketat. Setiap capaian hafalan harus diuji sehingga kualitas tetap terjaga. Bagi Indra, kecerdasan tanpa akhlak tidak akan menghasilkan manfaat yang utuh.
Selain membangun karakter siswa, ia juga membangun budaya profesional di lingkungan sekolah. Indra percaya bahwa sekolah yang baik tidak boleh bergantung pada satu figur. Yang harus dibangun adalah sistem yang membuat seluruh warga sekolah bertumbuh bersama.
Guru didorong untuk terus belajar, mengikuti pelatihan, berinovasi, menulis karya ilmiah, dan mengembangkan kompetensinya. Budaya belajar tidak hanya berlaku bagi siswa, tetapi juga bagi para pendidik.
Lanjutkan Studi
Keteladanan itu ia tunjukkan secara langsung. Di tengah kesibukannya memimpin sekolah, ia tetap melanjutkan studi Magister Manajemen Pendidikan di Universitas Ahmad Dahlan dan berhasil menyelesaikannya dalam waktu tiga semester.
“Saya ingin memberi contoh bahwa belajar tidak mengenal jabatan,” ujarnya.
Pada tahun berikutnya, melalui karya tulisan ilmiah, Indra meraih sebuah penghargaan di Tingkat Kabupaten Bantul dan ia dinobatkan sebagai “Kepala Sekolah Berprestasi”. Ia pun menyatakan akan berusaha keras untuk menjadi terbaik di level propinsi DIY dan yang lebih atas.
Filosofi pendidikan yang dibangun Indra juga sederhana namun kuat: jangan menyeragamkan manusia. Ia meyakini bahwa setiap anak memiliki jalan tumbuh yang berbeda. Karena itu sekolah berusaha memberikan ruang bagi setiap siswa untuk menemukan dan mengembangkan potensinya.
Anak yang memiliki minat di bidang seni diberikan kesempatan berkembang. Demikian pula mereka yang unggul dalam olahraga, teknologi, akademik, maupun bidang keagamaan. Sekolah tidak memaksa semua siswa menempuh jalur yang sama.
Prinsip tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai program unggulan. Salah satu yang paling menonjol adalah program ICT. Menurut Indra, dunia yang akan dihadapi generasi saat ini sangat berbeda dengan masa sebelumnya. Perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan telah mengubah banyak aspek kehidupan.
Karena itu, siswa tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka harus mampu menjadi pencipta teknologi. Melalui kelas ICT, siswa belajar coding, pengembangan website, pembuatan aplikasi sederhana, game development, Internet of Things (IoT), hingga pemecahan masalah berbasis teknologi.
“Kami ingin anak-anak menjadi pencipta teknologi, bukan hanya pengguna teknologi.”
Visi global sekolah juga diwujudkan melalui berbagai program internasional seperti student immersion, student exchange ke Malaysia dan Singapura, serta kerja sama sister school. Melalui pengalaman tersebut, siswa belajar membangun kepercayaan diri, kemampuan komunikasi, dan pemahaman lintas budaya.
“Banyak orang tua yang memasukkan anaknya ke sekolah kami, salah satunya karena adanya student immersion atau student exchange,” tutur Indra Juharni MPd.
Namun di tengah berbagai program modern tersebut, satu hal tetap dijaga sebagai identitas utama sekolah yaitu karakter. Bagi Indra, teknologi, prestasi, dan kecakapan global harus berjalan seiring dengan akhlak yang baik.
Kepercayaan Meningkat
Perjalanan yang dimulai dari sembilan siswa itu kini mulai menunjukkan hasil. Kepercayaan masyarakat terus meningkat. Siswa tidak hanya berasal dari Bantul dan Yogyakarta, tetapi juga dari berbagai daerah seperti Lampung, Makassar, dan Kalimantan serta lainnya.
Prestasi pun bermunculan dari berbagai bidang, mulai dari akademik, keagamaan, olahraga, seni, musik, penelitian, hingga teknologi. Berbagai penghargaan tingkat daerah, nasional, hingga internasional berhasil diraih.
Namun bagi Indra, ukuran keberhasilan sekolah bukan sekadar jumlah piala yang dikumpulkan. Yang lebih penting adalah seberapa banyak siswa yang mendapatkan kesempatan untuk berkembang dan merasakan keberhasilan.
Pemikiran tersebut melahirkan program “Nyalakan Prestasimu”. Program ini dirancang agar setiap siswa memiliki kesempatan menemukan panggung prestasinya sendiri sesuai minat dan potensinya.
Targetnya sederhana yakni setiap anak memiliki pengalaman berprestasi. Karena ketika seorang anak merasakan keberhasilan, kepercayaan dirinya tumbuh. Dan ketika kepercayaan diri tumbuh, proses belajar akan berkembang jauh lebih baik.
Hari ini mungkin sulit membayangkan bahwa SMP Islam Al Azhar 66 Bantul pernah memulai perjalanan hanya dengan sembilan siswa. Sulit membayangkan bahwa sekolah yang kini dikenal melalui berbagai prestasi itu pernah berada pada fase ketika guru-gurunya harus turun langsung membagikan brosur untuk memperkenalkan sekolah kepada masyarakat.
Namun justru di situlah nilai terbesar dari perjalanan ini. Keberhasilan yang terlihat hari ini tidak lahir dalam semalam. Ia tumbuh melalui kerja keras yang konsisten, budaya yang dibangun dengan sabar, sistem yang dirancang dengan sungguh-sungguh, serta keyakinan yang tetap dijaga ketika hasil belum terlihat.
Bagi Indra Juharni, perjalanan ini belum selesai. Masih banyak mimpi yang ingin diwujudkan dan generasi yang ingin dipersiapkan. Namun satu hal telah terbukti ketika pendidikan dibangun dengan hati, visi yang jelas, dan kerja keras yang konsisten, maka kepercayaan dan prestasi akan menemukan jalannya sendiri.
Waktu berlalu begitu cepat dan sebentar lagi para murid angkatan pertama akan wisuda pada 16 Juni 2026. Semuanya bermula dari sembilan siswa, dan dalam perjalanannya mendapat tambahan siswa pindahan di tahun kedua dan ketika, sehingga menjadi 12 siswa. Dan hingga hari ini, kisah itu masih terus ditulis. (Chaidir)







