Kunjungi AYWS, Prof Muhammad Nuh: Ini Model Pendidikan Masa Depan Indonesia

SLEMAN — Kunjungan Prof Dr Ir Muhammad Nuh DEA ke Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS) pada Jumat (24/4/2026) menjadi momen penuh makna. Tidak sekadar agenda silaturahmi, kunjungan ini juga menghadirkan kekaguman mendalam dari sosok yang dikenal sebagai arsitek berbagai kebijakan pendidikan nasional tersebut terhadap konsep dan implementasi pendidikan yang dikembangkan di AYWS.

Dalam kunjungannya, Muhammad Nuh meninjau dua kampus utama AYWS, yakni Monjali dan Gamping, Sleman. Ia juga berkesempatan melihat secara langsung kawasan pendidikan terpadu berbasis alam, Asram Edupark, yang menjadi bagian dari ekosistem pembelajaran holistik yang dikembangkan yayasan.

Didampingi Ketua Yayasan Asram/BPPH AYWS Drs. H. A. Hafidh Asrom, MM, Wakil Ketua Bidang Keuangan Endhar Satwo Prihaton, serta para kepala satuan pendidikan, Muhammad Nuh berkeliling melihat berbagai fasilitas, program unggulan, hingga aktivitas belajar siswa. Ia juga menyempatkan diri berdialog langsung dengan  peserta didik—sebuah momen yang memberinya gambaran nyata tentang kualitas proses pendidikan yang berlangsung.

Sepanjang kunjungan, Muhammad Nuh tampak menyimak dengan serius setiap penjelasan yang disampaikan oleh Hafidh Asrom. Ia menilai bahwa apa yang dibangun di AYWS bukan sekadar lembaga pendidikan, tetapi sebuah ekosistem yang dirancang untuk menyiapkan generasi masa depan secara utuh—baik dari sisi intelektual, spiritual, maupun karakter.

Dalam refleksinya, Muhammad Nuh menegaskan bahwa pendidikan sejatinya adalah bridge to the future—sebuah jembatan menuju masa depan. Namun, menurutnya, tidak semua jembatan mampu membawa seseorang sampai ke tujuan dengan selamat dan sukses. Diperlukan fondasi kuat yang menopang perjalanan tersebut.

Ia kemudian menguraikan tiga pilar utama yang harus dimiliki setiap peserta didik. Pertama adalah optimisme—keyakinan kuat bahwa masa depan dapat diraih dengan hasil yang gemilang. Optimisme ini menjadi energi awal yang menggerakkan seseorang untuk terus melangkah dan tidak mudah menyerah.

Kedua adalah ilmu pengetahuan. Bagi Muhammad Nuh, ilmu merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas diri. Tanpa ilmu, seseorang akan kesulitan beradaptasi dengan perubahan zaman yang begitu cepat.

Adapun pilar ketiga adalah akhlak. Inilah nilai yang menurutnya tidak boleh diabaikan. Akhlak menjadi kompas moral yang menuntun arah kehidupan, memastikan bahwa setiap langkah yang diambil tetap berada dalam koridor kebaikan.

Menariknya, ketiga pilar tersebut tidak hanya menjadi konsep, tetapi benar-benar ia rasakan hadir di lingkungan AYWS. Hal itu tercermin dari interaksi langsungnya dengan para siswa.

“Saya melihat wajah-wajah yang penuh semangat, optimisme, dan harapan. Dari sana kita bisa membayangkan masa depan yang cerah,” ungkapnya dengan nada penuh apresiasi.

Kekaguman Muhammad Nuh tidak berhenti pada aspek siswa semata. Ia juga memberikan perhatian khusus kepada sosok Hafidh Asrom yang dinilainya sebagai figur inspiratif di dunia pendidikan. Menurutnya, visi besar yang dimiliki Hafidh Asrom dalam mengembangkan Al-Azhar di Yogyakarta melalui AYWS merupakan langkah nyata dalam menjawab tantangan pendidikan masa kini dan masa depan.

“Ini bukan sekadar membangun sekolah, tetapi membangun peradaban. Dan itu membutuhkan keberanian, ketekunan, serta visi yang jauh ke depan,” kesan Muhammad Nuh.

Ia pun menyampaikan rasa syukur dan kekagumannya setelah melihat langsung perkembangan AYWS. Baginya, model pendidikan seperti ini tidak hanya penting untuk Yogyakarta, tetapi juga sangat relevan untuk dikembangkan di berbagai daerah di Indonesia.

“Saya merasa kagum dan bersyukur. Harapan saya, AYWS bisa terus tumbuh dan berkembang, bahkan direplikasi di banyak tempat sebagai wujud nyata dari bridge to the future,” tuturnya.

Kunjungan ini juga terasa semakin istimewa mengingat momentum yang berdekatan dengan penetapan Muhammad Nuh sebagai anggota Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Gadjah Mada periode 2026–2031. Ia terpilih sebagai unsur tokoh masyarakat bersama sejumlah figur dari berbagai latar belakang, mulai dari akademisi hingga perwakilan mahasiswa.

Sebagai sosok yang pernah menjabat Menteri Komunikasi dan Informatika (2007–2009) serta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (2009–2014), Muhammad Nuh dikenal luas memiliki kontribusi besar dalam penguatan sistem pendidikan nasional, termasuk dalam pemerataan akses dan peningkatan kualitas kurikulum.

Pengalaman panjang itulah yang membuat pandangannya terhadap AYWS menjadi sangat bermakna. Kekaguman yang ia sampaikan bukan sekadar basa-basi, melainkan refleksi dari penilaian seorang tokoh yang memahami betul arah dan tantangan pendidikan di Indonesia.

Menutup kunjungannya, Muhammad Nuh menyampaikan harapan agar ke depan dapat terjalin diskusi yang lebih mendalam untuk terus mengembangkan konsep pendidikan yang unggul dan berkelanjutan.

Kunjungan ini sekaligus menjadi penegasan bahwa sinergi antara visi kepemimpinan, inovasi pendidikan, dan komitmen terhadap nilai-nilai luhur mampu melahirkan sebuah ekosistem pembelajaran yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membentuk karakter dan masa depan generasi bangsa. (Chaidir)