BANTUL – Sekolah sehat bukan sekadar konsep, melainkan sebuah perjalanan panjang yang dibangun dari komitmen, ketelatenan, dan dedikasi orang-orang di dalamnya. Di balik lingkungan sekolah yang bersih, siswa yang terbiasa hidup sehat, serta budaya positif yang tumbuh setiap hari, ada sosok-sosok yang bekerja dalam senyap—menjaga, merawat, dan memastikan semua berjalan sebagaimana mestinya. Dari hal-hal kecil yang kerap dianggap sepele, justru lahir perubahan besar yang berdampak jangka panjang.
Salah satu sosok itu adalah Rahmawati.
Perempuan berdarah Sumatera Selatan ini merupakan bagian dari angkatan pertama keluarga besar Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS). Ia memulai pengabdiannya pada tahun 2005, tepat saat KB-TK Islam Al Azhar 31 Yogyakarta berdiri. Di tengah rekan-rekannya yang banyak berkiprah sebagai guru, Rahmawati memilih jalannya sendiri—mengabdikan diri di bidang Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), sebuah bidang yang kerap luput dari sorotan, namun memiliki peran krusial dalam membentuk kualitas pendidikan secara menyeluruh.
Latar belakangnya sebagai lulusan Keperawatan dari Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan (Poltekkes) Yogyakarta menjadi bekal kuat dalam menjalankan peran tersebut. Namun lebih dari sekadar keahlian, yang membuat Rahmawati istimewa adalah ketekunan, kesabaran, dan konsistensinya dalam membangun budaya hidup sehat di sekolah—sesuatu yang tidak bisa dibangun secara instan, melainkan harus ditanamkan perlahan dan berkelanjutan.
Selama hampir satu dekade, dari 2005 hingga 2014, Rahmawati mengabdikan diri di UKS KB-TK Islam Al Azhar 31 Yogyakarta. Ia tidak hanya menjalankan tugas administratif atau pelayanan kesehatan sederhana, tetapi juga menanamkan nilai-nilai hidup sehat kepada siswa sejak usia dini. Dari kebiasaan mencuci tangan, menjaga kebersihan lingkungan, hingga menciptakan suasana sekolah yang nyaman dan ramah bagi tumbuh kembang anak, semua dilakukan dengan penuh ketelatenan dan ketulusan.
Kerja keras itu tidak sia-sia.
Di tangannya, UKS berkembang menjadi lebih dari sekadar fasilitas, melainkan menjadi jantung dari gerakan sekolah sehat. Ia mampu menggerakkan seluruh elemen sekolah—guru, siswa, hingga orang tua—untuk terlibat aktif. Puncaknya, sekolah berhasil meraih prestasi membanggakan sebagai Juara 1 Lomba Sekolah Sehat (LSS) tingkat Kabupaten Sleman pada tahun 2011, dengan sertipikat penghargaan yang ditandatangani Bupati Sleman, Sri Purnomo.
Pada tahun 2014, Rahmawati dipercaya untuk mengemban amanah baru memimpin dan mengelola UKS di SD Islam Al Azhar 38 Bantul. Kepercayaan itu bukan tanpa alasan, melainkan hasil dari rekam jejak panjang yang telah ia buktikan.
Jejak manis Rahmawati rupanya masih berlanjut di KB-TK Islam Al Azhar 31 Yogyakarta sepeninggalannya. Pada tahun 2015, sekolah tersebut kembali meraih Juara 1 LSS tingkat Sleman. Semangat meraih predikat Sekolah Sehat terus menyala, hingga beberapa bulan kemudian kembali menorehkan prestasi sebagai Juara 1 Lomba Sekolah Sehat tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Kejutan besar datang pada tahun 2016. Sekolah yang sama berhasil meraih Juara 1 Sekolah Sehat tingkat nasional dengan memperoleh dua sertipikat, yakni kategori Best Achievement yang ditandatangani Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo, pada 18 Agustus 2016.
Pada tanggal yang sama, penghargaan Juara 1 LSS juga ditandatangani oleh Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, SpM (K), untuk kategori Prestasi Terbaik.
Meski saat itu Rahmawati sudah tidak lagi bertugas di sekolah tersebut, capaian tingkat nasional itu menjadi bukti bahwa budaya sekolah sehat yang ia bangun tetap hidup dan berkembang. Sebuah warisan yang tidak hanya berupa prestasi, tetapi juga sistem dan karakter.
Membangun dari Awal Lagi
Di SD Islam Al Azhar 38 Bantul, Rahmawati kembali memulai dari awal. Dengan pengalaman dan semangat yang sama, ia merancang program, menggerakkan warga sekolah, hingga menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya hidup sehat. Ia memahami bahwa membangun budaya tidak cukup dengan aturan, tetapi harus melalui keteladanan dan pembiasaan.
Perlahan namun pasti, perubahan mulai terlihat. UKS semakin aktif, lingkungan sekolah semakin tertata, dan budaya hidup sehat semakin mengakar. Hingga akhirnya, pada tahun 2021, sekolah kembali menorehkan prestasi dengan meraih Juara 1 Lomba Sekolah Sehat tingkat Kabupaten Bantul—sebuah capaian yang menegaskan konsistensi dan keberlanjutan program yang dijalankan.
Namun waktu terus berjalan.
Seiring pandemi COVID-19 yang melanda, berbagai program, termasuk Lomba Sekolah Sehat, harus terhenti. Kebijakan pengetatan dan efisiensi anggaran membuat gaung kompetisi yang dulu menjadi tolok ukur keberhasilan sekolah sehat kini meredup. Tantangan pun berubah—dari membangun kebiasaan menjadi menjaga keberlanjutan di tengah keterbatasan.
Meski demikian, semangat yang telah ditanamkan tidak pernah benar-benar hilang.
Bagi Rahmawati, penghargaan bukanlah tujuan akhir. Ia percaya bahwa sekolah sehat adalah investasi jangka panjang—tentang membentuk kebiasaan, menjaga kesehatan, dan menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara utuh. Hasil sejati bukan sekadar piala, melainkan karakter yang tumbuh dalam diri setiap siswa.
Dari jejak panjang yang telah ia torehkan, satu hal menjadi terang: kerja keras, ketulusan, dan dedikasi yang dijalankan secara konsisten pada akhirnya akan menemukan jalannya sendiri untuk bersinar.
Rahmawati juga tercatat sebagai salah satu Guru Teladan di AYWS. Predikat ini diraihnya pada tahun 2020 dalam ajang pemilihan Guru Berprestasi. Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas kontribusinya dalam mengembangkan sekolah melalui berbagai inovasi program UKS. Pada tahun 2021, SD Islam Al Azhar 38 Bantul bahkan meluncurkan program Sekolah Ramah Anak dan Peduli Lingkungan, yang semakin menguatkan peran UKS sebagai motor penggerak budaya sekolah.
Program Baru
Menatap tahun ajaran 2026/2027, Rahmawati telah menyiapkan sejumlah inovasi program UKS. Salah satunya adalah “Selasa Bebas Sampah” atau SEPAH. Melalui program ini, setiap hari Selasa tidak diperkenankan ada sampah yang tertinggal di tempat sampah sekolah.
“Semua murid membawa plastik kresek dari rumah, dan setiap sampah yang dihasilkan dimasukkan ke dalamnya untuk kemudian dibawa pulang,” ujarnya.
Gagasan ini sederhana, namun sarat makna dalam membangun tanggung jawab pribadi terhadap lingkungan. Sebagai langkah awal, program ini akan diawali dengan sosialisasi kepada orang tua murid.
Jika kebiasaan ini telah terbentuk, Rahmawati berharap program tersebut dapat diterapkan setiap hari. “Kita mulai dari Selasa. Harapannya nanti sekolah benar-benar bebas sampah,” ungkapnya. Ia meyakini bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.
Selain itu, pada tahun ajaran baru nanti, pihaknya juga akan menggelar pelatihan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (PPPK) bagi guru dan karyawan. “Pelatihan dasar seperti penanganan mimisan atau kondisi darurat ringan penting dikuasai oleh semua tenaga pendidik,” jelasnya.
Melalui pelatihan ini, Rahmawati berharap seluruh guru dan karyawan memiliki kesiapsiagaan dalam memberikan pertolongan pertama kepada siswa. Dengan demikian, sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang yang aman dan nyaman bagi setiap anak.
Di sisi lain, Ema—sapaan akrab Rahmawati—juga berharap seluruh unit UKS di semua kampus AYWS yang berada di bawah koordinasi Poliklinik BPPH AYWS dapat saling terhubung dalam forum diskusi bersama. Tujuannya adalah menyatukan visi, misi, standar pelayanan, serta merancang program kolaboratif yang berkelanjutan.
Saat ditanya mengenai sosok pendiri, pemilik, dan pimpinan AYWS, Hafidh Asrom, Rahmawati mengaku kagum dan bangga. “Semua program saya selalu didukung Pak Hafidh,” tuturnya. Menurutnya, dukungan penuh dari pimpinan menjadi kunci penting dalam mewujudkan berbagai inovasi yang berdampak luas. (Chaidir)







