- Penguatan Karakter & Adab: Dr. Yogi Ginanjar menekankan pentingnya mendahulukan adab sebelum ilmu (Al-Adabu Qablal ‘Ilmi) serta membina akidah, ibadah, dan akhlak santri.
- Transformasi Pendidik Masa Depan: Musyrif dan musyrifah didorong bertransformasi dari pengajar menjadi fasilitator dan mentor adaptif yang menerapkan Student-Centered Learning.
- Inovasi & Teknologi: Peningkatan kualitas pengasuhan dilakukan melalui program bahasa, kurikulum terpadu, hingga integrasi teknologi pembelajaran bebas kertas berbasis Microsoft Office 365.
AYWS – Bidang Keagamaan Badan Pengelola dan Pelaksana Harian (BPPH) Al Azhar Yogyakarta World School (AYWS) menyelenggarakan kegiatan Pembinaan dan Supervisi Keagamaan untuk para musyrif dan musyrifah Al Azhar Yogyakarta Boarding Schools (AYBS), Rabu (16/9/2026).
Wakil Ketua Bidang Keagamaan BPPH AYWS Dr H Yogi E Ginanjar Lc MA dalam pengarahannya menekankan bahwa tugas pendidik merupakan amanah besar sesuai dengan firman Allah SWT dalam Surat Al-Ahzab ayat 72. Amanah tersebut bertujuan mewujudkan Visi YPI dan AYWS, yaitu membentuk cendekiawan muslim yang bertakwa, berakhlak mulia, sehat jasmani dan rohani, serta cerdas, cakap, dan terampil.
Guna mencapai visi tersebut, BPPH AYWS menetapkan empat target utama (goal setting), yakni pembentukan Aqidah Salimah, Ibadah Shahihah, Akhlaqul Karimah, dan ‘Uluum Naafi’ah.
Dr Yogi memaparkan empat pilar utama dalam pembinaan keagamaan yaitu merawat konsistensi (Al-Muhafazhatu ‘alal Qadimish Shalih) yang maknanya memelihara dan melanjutkan tradisi serta kebiasaan baik yang telah berjalan.
Kemudian adaptasi dan inovasi (Wal Akhdzu bil Jadidil Ashlah) yaitu mengikuti riwayat pesan Imam Ali bin Abi Thalib agar mendidik anak sesuai dengan tuntutan zamannya. Kemudian adab di atas ilmu (Al-Adabu Qablal ‘Ilmi) yaitu mengedepankan pembentukan karakter dan adab sebelum penyampaian ilmu pengetahuan.
:Kolaborasi dan Kebersamaan (At-Ta’awun wal Musyarakah) yaitu mengacu pada QS. Al-Ma’idah ayat 2 untuk saling menolong dalam kebaikan dan ketakwaan,” ujarnya.
Tak Sekadar Fasilitator dan Mentor
Dalam presentasi tertulisnya, Dr Yogi menjelaskan, menghadapi tantangan pendidikan global, peran guru dituntut bertransformasi dari sekadar pengajar menjadi fasilitator dan mentor. Pendekatan pembelajaran berpusat pada murid (Student-Centered Learning), Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning), serta Service Learning diterapkan dengan tetap terintegrasi pada nilai-nilai Al-Qur’an dan Hadis.
Secara operasional, strategi bertahap (incremental strategy) dijalankan melalui penguatan kurikulum berbasis bahasa (Arab dan Inggris), program Tahfiz, serta kerja sama internasional dengan berbagai lembaga di Mesir (Al-Azhar), Yordania, AS, Eropa, Arab Saudi, dan Yaman. Sekolah juga menerapkan kawasan wajib bahasa (language zone).
Di bidang teknologi, kemitraan sebagai Showcase School memanfaatkan Office 365 untuk mendukung misi bebas kertas (paperless), laporan perkembangan murid melalui Student-Led Conference (SLC), serta optimalisasi literasi dan media sosial.
Sementara itu, penguatan adab di lingkungan sekolah direalisasikan melalui penyeragaman fikih ibadah harian, budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun), SOP adab, serta program orientasi I’dad Talam dan Tadris selama tiga bulan untuk pembiasaan disiplin dan rutinitas santri. (Chaidir)






