Ustadz Munawir Minta Pengasuh AYBS Prioritaskan Pembelajaran Fikih Praktis Santri

  • Pengarahan Pembinaan: Kabag Ibadah BPPH AYWS, Munawir Abu Wardi MPd, menekankan pentingnya penguasaan fikih praktis bagi para ustadz dan ustadzah AYBS.
  • Penerapan di Asrama: Pemahaman fikih praktis diprioritaskan untuk diajarkan serta diterapkan secara langsung dalam kehidupan harian santri selama berada di boarding.
  • Cakupan Materi Fikih: Pembinaan berfokus pada materi thaharah, salat (berjamaah & masbuk), puasa, fikih wanita, hingga adab muamalah sehari-hari.

AYWS — Penguasaan dan pemahaman fikih praktis menjadi fondasi utama yang wajib dimiliki oleh seluruh pendidik di lingkungan Al Azhar Yogyakarta Boarding Schools (AYBS). Hal tersebut ditegaskan oleh Kepala Bagian Ibadah Bidang Keagamaan Badan Pengelola dan Pelaksana Harian Al Azhar Yogyakarta World Schools (BPPH AYWS), Ustadz Munawir Abu Wardi MPd, dalam acara Pembinaan dan Supervisi Keagamaan yang berlangsung di Al Azhar Yogyakarta Boarding School (AYBS), Rabu (16/9/2026).

Dalam arahannya di hadapan para pengasuh dan pendidik, Ustadz Munawir menekankan bahwa seluruh pengasuh (ustadz dan ustadzah) di AYBS perlu memprioritaskan penguasaan fikih praktis. Penguasaan ilmu fikih ini bukan sekadar untuk pemenuhan wawasan akademis pendidik, melainkan untuk ditransfer, diajarkan, serta diterapkan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari para santri dan murid di asrama (boarding).

Menurut Munawir, kehidupan di asrama selama 24 jam memberikan ruang yang sangat luas bagi pembentukan karakter dan kebiasaan ibadah santri. Oleh karena itu, kurikulum ibadah dan pengasuhan harus ditopang oleh pemahaman syariat yang benar, lugas, dan aplikatif.

“Kebaikan dalam beribadah harus ditopang oleh pemahaman yang benar. Ustadz dan ustadzah di asrama adalah garda terdepan yang mendampingi santri dari bangun tidur hingga tidur kembali. Maka, penguasaan fikih praktis menjadi syarat mutlak agar bimbingan ibadah yang diberikan kepada santri benar-benar sesuai dengan tuntunan syariat,” ujar Munawir.

Ia memaparkan beberapa aspek fikih praktis mendasar yang harus betul-betul dikuasai oleh para ustadz dan ustadzah untuk diajarkan serta dipraktikkan langsung bersama santri di asrama, meliputi:

  • Thaharah: Tata cara bersuci yang benar, seperti wudu, mandi wajib, penanganan berbagai jenis najis, tayamum, hingga pemahaman mendalam mengenai hal-hal yang membatalkan wudu.
  • Salat Fardhu dan Sunnah: Ketepatan syarat dan rukun salat, kedisiplinan salat berjamaah, tata cara menjadi imam dan makmum, hingga panduan teknis menghadapi kondisi masbuk saat salat di masjid asrama.
  • Fikih Wanita: Pemahaman mendasar mengenai haid, nifas, dan istihadhah bagi ustadzah untuk membimbing para santriwati dalam menjalankan ibadah secara tepat.
  • Muamalah dan Adab Keseharian: Penanaman sifat amanah, pemahaman halal-haram dalam beraktivitas, etika memanfaatkan fasilitas bersama di asrama, serta kebiasaan bersedekah.

Munawir mengingatkan bahwa metode pengajaran terbaik di lingkungan boarding school adalah melalui keteladanan nyata (role model). Pembiasaan ibadah santri tidak akan berjalan optimal jika hanya mengandalkan teori di kelas tanpa contoh langsung dari para pengasuhnya.

“Guru dan pengasuh mengajarkan ibadah bukan hanya melalui materi, tetapi juga lewat perilaku. Ketepatan cara berwudu, kekhusyukan salat, penerapan adab, kedisiplinan waktu, hingga kebersihan lingkungan yang ditunjukkan oleh ustadz dan ustadzah akan menjadi pembelajaran langsung yang diserap oleh santri setiap hari,” jelasnya.

Penekanan pada penguasaan fikih praktis ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem asrama yang religius, tertib, dan kondusif. Ketika para ustadz dan ustadzah memiliki pemahaman fikih yang matang, mereka dapat merespons serta menyelesaikan berbagai persoalan ibadah harian santri secara cepat dan tepat.

Melalui kegiatan pembinaan dan supervisi ini, BPPH AYWS berkomitmen untuk terus menjaga serta meningkatkan mutu pendidikan karakter berbasis keislaman. Dengan sinergi pemahaman fikih yang kuat dan keteladanan yang konsisten dari para pendidik, AYBS optimistis mampu melahirkan generasi santri yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki kedalaman ilmu agama, ketetapan dalam beribadah, serta akhlakul karimah dalam kehidupan sehari-hari. (Chaidir)