Strategi Digital, Penguatan Humas, dan Respons Cepat Kunci Lonjakan PMB SD Islam Al Azhar 38 Bantul

BANTUL – Transformasi pengelolaan sekolah berbasis digital kini menjadi langkah strategis yang dijalankan secara serius oleh SD Islam Al Azhar 38 Bantul. Kepala Satuan Pendidikan SD Islam Al Azhar 38 Bantul, Muhammad Saiful Bahri MPd Gr, menegaskan bahwa perubahan ini bukan sekadar mengikuti tren, melainkan sebuah kebutuhan untuk menjawab tantangan zaman sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan.

Menurut Saiful Bahri, sebelumnya pengelolaan teknologi di sekolah masih bertumpu pada tim IT yang fokus pada administrasi dan pengelolaan sistem internal. Namun, seiring perkembangan kebutuhan komunikasi publik yang semakin kompleks, sekolah mengambil langkah progresif dengan menghadirkan bidang baru, yakni Humas dan Marketing.

“Dulu memang ada bidang IT yang membantu pengelolaan administrasi sekolah. Tetapi sekarang kami melihat bahwa komunikasi publik itu tidak bisa hanya ditangani secara teknis. Harus ada tim khusus yang memikirkan strategi, pesan, dan dampaknya,” jelasnya dalam wawancaranya, Rabu (3/6/2026).

Ia menambahkan, pembentukan bidang Humas dan Marketing menjadi titik balik dalam cara sekolah membangun citra dan menjalin hubungan dengan masyarakat. Tim ini tidak hanya bertugas menyampaikan informasi, tetapi juga merancang strategi komunikasi yang mampu menghadirkan kepercayaan, kedekatan emosional, sekaligus daya tarik bagi calon wali murid.

Dalam praktiknya, tim Humas dan Marketing memiliki peran yang cukup luas, mulai dari mengelola media sosial sekolah, membangun jejaring kemitraan, hingga menyusun strategi promosi yang terukur dan berdampak langsung terhadap peningkatan jumlah pendaftar pada Penerimaan Murid Baru (PMB).

Pemanfaatan media sosial menjadi salah satu instrumen utama dalam strategi tersebut. Melalui akun resmi sekolah, berbagai konten diproduksi dan diunggah secara konsisten, bahkan hampir setiap hari. Konten-konten tersebut menampilkan aktivitas siswa secara alami, tanpa rekayasa, mulai dari proses pembelajaran di kelas, kegiatan ekstrakurikuler, hingga capaian prestasi yang diraih.

“Sekarang ini semua orang hidup di dunia digital. Anak-anak, orang tua, bahkan masyarakat umum, semuanya mengakses informasi melalui gawai. Maka kami memastikan bahwa SD Islam Al Azhar 38 Bantul hadir di ruang itu dengan konten yang tidak hanya informatif, tetapi juga memiliki dampak,” ungkap Saiful Bahri.

Menariknya, strategi konten yang dikembangkan tidak disusun secara sembarangan. Ia menjelaskan bahwa sekitar 10 persen ide konten justru berasal dari pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan oleh orang tua. Mulai dari informasi PMB, program unggulan, kegiatan siswa, hingga sistem pembelajaran, semuanya diolah menjadi konten yang mudah dipahami.

“Pertanyaan dari orang tua itu sangat berharga. Kami jadikan itu sebagai bahan konten. Jadi tanpa harus bertanya, mereka sudah menemukan jawabannya. Ini yang membuat komunikasi menjadi lebih efektif,” tambahnya.

Strategi tersebut terbukti memberikan dampak signifikan. Ketertarikan masyarakat terhadap SD Islam Al Azhar 38 Bantul meningkat secara nyata. Tidak hanya dikenal sebagai sekolah berbasis keagamaan, sekolah ini juga menunjukkan capaian akademik yang terus meningkat dengan rata-rata nilai yang cukup tinggi.

Berbagai Program Unggulan

Selain itu, berbagai program unggulan turut menjadi daya tarik tersendiri. Salah satunya adalah ekstrakurikuler Bahasa Mandarin yang disebut sebagai satu-satunya di wilayah Bantul. Program ini menjadi bukti komitmen sekolah dalam membekali siswa dengan kompetensi global sejak dini.

Tidak hanya itu, sekolah juga memiliki program presentasi berbahasa Inggris bagi siswa kelas awal. Siswa kelas 1 hingga kelas 3 dilatih untuk mempresentasikan hasil belajar mereka di hadapan orang tua menggunakan bahasa Inggris. Program ini tidak hanya melatih keberanian, tetapi juga membangun kemampuan komunikasi internasional sejak usia dini.

“Anak-anak kami biasakan tampil di depan orang tua dengan menggunakan bahasa Inggris. Ini bagian dari pembiasaan agar mereka memiliki kepercayaan diri dan kesiapan menghadapi tantangan global,” jelasnya.

Di sisi lain, strategi pemasaran sekolah juga diperkuat melalui pendekatan jejaring personal. Saiful Bahri mengungkapkan bahwa para guru dan pengelola aktif memanfaatkan relasi akademik, termasuk jaringan alumni perguruan tinggi, untuk menyebarluaskan informasi tentang sekolah.

Ia mencontohkan, pengalaman pribadi sebagai alumni perguruan tinggi dimanfaatkan untuk membangun komunikasi dengan dosen, mahasiswa, maupun komunitas akademik lainnya. Informasi tentang sekolah dibagikan secara informal, namun berdampak besar dalam membangun persepsi positif.

“Ketika kita punya relasi, kita manfaatkan. Kita share kegiatan dan prestasi sekolah. Ketika mereka ditanya tentang sekolah di Bantul, mereka sudah punya gambaran bahwa SD Islam Al Azhar 38 Bantul itu seperti ini,” ujarnya.

Lebih lanjut, Saiful Bahri menekankan bahwa kecepatan respons menjadi salah satu kunci utama dalam pelayanan kepada masyarakat. Tim admin yang terdiri dari tiga orang dituntut untuk selalu sigap dalam menjawab setiap pertanyaan yang masuk, bahkan dalam waktu yang sangat singkat.

“Kami menargetkan respons itu cepat, bahkan dalam hitungan menit. Minimal ada jawaban awal. Karena kalau lambat, calon wali murid bisa langsung beralih ke sekolah lain,” tegasnya.

Respons Pertama yang Menentukan

Ia juga menambahkan bahwa kecepatan respons tidak hanya soal menjawab, tetapi juga mencerminkan kesiapan, profesionalitas, dan kesungguhan sekolah dalam memberikan layanan terbaik.

“Respons pertama itu sangat menentukan. Dari situ orang sudah bisa menilai keseriusan kita,” lanjutnya.

Di balik penguatan eksternal tersebut, SD Islam Al Azhar 38 Bantul juga tidak mengabaikan aspek internal. Saiful Bahri menilai bahwa kekompakan dan keharmonisan guru serta karyawan menjadi fondasi penting dalam menjalankan seluruh program sekolah.

Menurutnya, lingkungan kerja yang solid akan melahirkan inisiatif dari setiap individu tanpa harus selalu menunggu instruksi. Hal ini justru menjadi kekuatan besar dalam menjaga keberlanjutan program dan inovasi.

“Kalau tim itu kompak, mereka akan bergerak dengan kesadaran sendiri. Tidak perlu disuruh. Mereka punya inisiatif untuk melakukan yang terbaik,” ujarnya.

Sebagai langkah ke depan, sekolah juga mulai menyiapkan berbagai rencana pengembangan, termasuk penyusunan konsep dan modul untuk pembukaan sekolah baru. Meski belum diumumkan secara terbuka, persiapan tersebut sudah mulai dilakukan secara matang dari sekarang.

Dengan berbagai strategi yang dijalankan, Saiful Bahri menegaskan bahwa pengelolaan pendidikan modern tidak lagi cukup hanya mengandalkan kualitas pembelajaran di dalam kelas. Lebih dari itu, diperlukan kemampuan membangun komunikasi yang efektif, kepercayaan publik, serta citra positif yang berkelanjutan.

“Sekarang ini pendidikan itu tidak hanya soal mengajar, tetapi juga bagaimana kita membangun kepercayaan, menghadirkan nilai, dan menunjukkan kualitas kepada masyarakat,” (Chaidir)