30 Tahun Mengabdi, Wahyudi Akhirnya Berangkat Umrah Bersama AYWS

  • Delapan pegawai AYWS menerima penghargaan umrah 2026, sementara tiga lainnya mendapat bantuan umrah mandiri.
  • Wahyudi mendapat penghargaan setelah sekitar 30 tahun mengabdi, sejak bekerja di Elsa Mebel yang kini menjadi Asram Furniture.
  • Umrah menjadi pengalaman pertama ke Tanah Suci bagi Wahyudi sekaligus hadiah atas ketekunan dan kesetiaannya selama tiga dekade.

AYWS – Kabar membahagiakan datang bagi sejumlah pegawai di lingkungan Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS). Sebanyak delapan pegawai ditetapkan sebagai penerima penghargaan umrah tahun 2026, sementara tiga pegawai lainnya mendapatkan bantuan umrah mandiri.

Keputusan tersebut diumumkan dalam Kajian Rutin Sabtu Wage di Masjid Al Hafidh, Kampus 1 AYWS, Yogyakarta. Pengumuman disampaikan Wakil Ketua Bidang SDM dan Hukum BPPH AYWS, Drs H Haryanto MSi Psikolog.

Penetapan penerima penghargaan tersebut berdasarkan Surat Keputusan Ketua Yayasan Nomor 009/BPPH.AA/HR/PP.P/VII/1448.2026 tentang Pengajuan Penghargaan Umroh Pegawai Tahun 2026.

Delapan penerima penghargaan umrah berasal dari berbagai unit dan bidang kerja. Mereka yakni M Arif Mukhtaruddin dari Catering AYWS HAWS, Dewi Anggraini dan Yulma Adi Prasetya dari Asram Furniture, Wahyudi dari Cleaning Servis AYWS, Norcholis selaku Driver BPPH, Tut Wuri SIP SPd dari TK Islam Al Azhar 31, Farad Abdul Rahman SPd dari SD Islam Al Azhar 31, serta Tri Damayanti SPsi (Kepala Satuan Pendidikan KB-TK Islam Al Azhar 60 Internasional).

Sementara tiga penerima bantuan umrah mandiri adalah Ruri Latifah SPd Gr dan Miftakhul Riska Fatimah SPd, keduanya guru SMP Islam Al Azhar 26, serta Syarifah Hanim SPsi dari BPPH.

Makna Istimewa

Bagi Wahyudi, salah satu penerima penghargaan tersebut, kabar mendapatkan kesempatan menunaikan ibadah umrah memiliki makna yang sangat istimewa. Di balik penghargaan itu terdapat perjalanan pengabdian selama sekitar 30 tahun.

Kini berusia 58 tahun, Wahyudi telah melewati berbagai fase pekerjaan di lingkungan usaha dan lembaga yang didirikan Drs HA Hafidh Asrom MM. Perjalanannya dimulai sekitar tiga dekade lalu ketika ia bekerja di Elsa Mebel, yang kini berkembang dan dikenal sebagai Asram Furniture.

Pekerjaannya saat itu jauh dari kesan mewah. Wahyudi bertugas mengantarkan barang kepada pelanggan sekaligus melakukan pemasangan. Jika ada furnitur yang mengalami kerusakan, ia pula yang datang untuk memperbaikinya.

“Dulu saya tukang setel-setel atau tukang kirim. Kalau ada barang yang dikirim, kita yang mengantar, nanti sekalian penyetelan. Kalau ada yang rusak, kita juga yang memperbaiki,” kenangnya.

Di Elsa Mebel, Wahyudi bekerja bersama sejumlah rekan, di antaranya Pak Rasidi, Pak Ago, dan Pak Fendi. Dari pengalaman tersebut, ia belajar menjalani pekerjaan dengan prinsip sederhana yakni tidak memilih-milih pekerjaan selama pekerjaan itu halal dan dapat dikerjakan dengan baik.

Perjalanannya kemudian berlanjut ke Depo Bangunan di Jalan Parangtritis. Di tempat tersebut, tugasnya semakin beragam. Ia membersihkan area, mengantar barang pesanan, hingga mengerjakan berbagai pekerjaan operasional lainnya.

“Serabutan lah. Yang penting tidak pernah menganggur,” ujarnya.

Prinsip itulah yang seolah menjadi benang merah perjalanan hidup Wahyudi. Selama puluhan tahun, ia berpindah tempat dan mengerjakan berbagai tugas sesuai kebutuhan. Hingga akhirnya, perjalanan tersebut membawanya menjadi bagian dari lingkungan Al Azhar Yogyakarta.

Sekitar 2009, Wahyudi mulai bertugas sebagai cleaning service di SD. Saat itu, bangunan sekolah masih relatif sederhana dan baru berdiri satu lantai.

Waktu terus berjalan. Lembaga berkembang. SMP kemudian berdiri, disusul SMA. Aktivitas pendidikan semakin besar, dan Wahyudi pun ikut tumbuh bersama perkembangan tersebut.

Kini, ia dipercaya bertugas di lingkungan Al Azhar Yogyakarta Boarding Schools (AYWS) putra. Pekerjaannya tetap membutuhkan ketekunan, mulai dari menjaga kebersihan area luar, merawat taman, hingga menangani kolam renang.

Menurut Wahyudi, merawat kolam renang membutuhkan ketelitian dan kesabaran. “Harus punya ketelatenan,” katanya.

Selama tiga dekade bekerja, Wahyudi mungkin tidak pernah membayangkan bahwa perjalanan panjang tersebut suatu hari akan membawanya menuju Tanah Suci. Umrah sebenarnya telah lama menjadi impiannya. Ia pernah berharap dapat berangkat, tetapi kesempatan itu belum kunjung datang. Hingga akhirnya, kabar tersebut hadir melalui penghargaan dari yayasan.

Mendapat kesempatan umrah untuk pertama kalinya membuat Wahyudi merasakan kebahagiaan sekaligus haru. “Bahagia dan terharu,” ungkapnya.

Doa untuk Orang Tua dan AYWS

Kini, menjelang keberangkatannya, sejumlah doa telah disiapkannya. Ia ingin mendoakan kedua orang tua, keluarga, serta lingkungan tempat ia menghabiskan sebagian besar perjalanan hidupnya.

Ia juga menitipkan doa agar AYWS dan Hafidh Asrom World Schools (HAWS) terus berkembang dan mampu bersaing di tingkat internasional. “Mudah-mudahan selalu bisa bersaing di kancah internasional dalam pendidikan. Semoga bisa tampil di kancah dunia,” tuturnya.

Wahyudi juga berharap penghargaan serupa dapat dirasakan lebih banyak pegawai yang telah mengabdikan diri. Menurutnya, semakin banyak karyawan yang mendapatkan kesempatan umrah akan menjadi kebahagiaan tersendiri.

“Mudah-mudahan tahun depan lebih banyak yang bisa ikut umrah,” katanya.

Bagi yayasan, pemberian penghargaan umrah ini menjadi salah satu bentuk apresiasi atas dedikasi dan kontribusi pegawai. Penghargaan tidak hanya diberikan dalam konteks profesional, tetapi juga menyentuh sisi spiritual dan penguatan nilai-nilai keislaman.

Kisah Wahyudi menjadi salah satu gambaran bagaimana pengabdian panjang seorang pekerja dapat menemukan momentum istimewa. Tiga puluh tahun lalu, ia mengawali perjalanan dengan mengantar dan memasang mebel di Elsa Mebel, yang kini menjadi Asram Furniture.

Dari sana, ia menjalani berbagai pekerjaan, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, hingga akhirnya menjadi bagian dari perjalanan panjang berkembangnya lembaga pendidikan Al Azhar.

Pekerjaannya mungkin lebih banyak berlangsung di balik layar. Namun, selama puluhan tahun, ia tetap hadir, bekerja, dan menyelesaikan tanggung jawab yang diberikan.

Kini, setelah sekitar tiga dekade mengabdi, sebuah perjalanan baru menantinya: perjalanan menuju Tanah Suci.

Bagi Wahyudi, umrah tersebut bukan sekadar hadiah. Ia adalah bentuk penghargaan atas kesetiaan, kesempatan untuk memenuhi impian yang telah lama disimpan, sekaligus menjadi kenangan istimewa setelah puluhan tahun bekerja dan mengabdi. (Chaidir)