SLEMAN – Pendidikan yang unggul tidak cukup hanya menghasilkan peserta didik yang cerdas secara akademik. Lebih dari itu, pendidikan harus mampu melahirkan generasi yang memiliki karakter kuat, akhlak mulia, serta kesiapan menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Pesan itulah yang mengemuka dalam Kajian Sabtu Wage yang diselenggarakan Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS) di Masjid Al Hafidh Kampus 1 AYWS, Sabtu (6/6/2026). Hadir dalam kesempatan itu Pembina Yayasan Asram Eni Yustini SE, Ketua Yayasan Asram/BPPH AYWS Drs HA Hafidh Asrom MM, para Wakabid BPPH AYWS, dan para kepala satuan Pendidikan.
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Ketua Bidang Hukum, SDM, dan Layanan Psikologi BPPH Al Azhar Yogyakarta World Schools, Drs H Haryanto MSi Psikolog, hadir sebagai narasumber dengan menyampaikan materi bertajuk “Berakhlak Mulia”, yang menjadi nilai dasar sekaligus budaya kerja seluruh keluarga besar AYWS.
Di hadapan peserta kajian yang terdiri atas guru, tenaga kependidikan, karyawan, serta unsur pimpinan di lingkungan AYWS, Haryanto mengingatkan bahwa tantangan dunia pendidikan saat ini semakin berat. Persaingan antar lembaga pendidikan semakin ketat, perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat, dan ekspektasi masyarakat terhadap kualitas pendidikan terus meningkat. Dalam situasi seperti itu, menurutnya, lembaga pendidikan tidak cukup hanya mengandalkan keunggulan akademik.
“Pendidikan harus mampu membentuk manusia seutuhnya. Tidak hanya pintar, tetapi juga berkarakter, beradab, dan berakhlak mulia. Karena pada akhirnya yang akan dikenang masyarakat bukan hanya kecerdasan seseorang, tetapi juga sikap dan akhlaknya,” ujarnya.
Haryanto menjelaskan bahwa AYWS sejak awal dibangun di atas fondasi nilai-nilai Islam yang menempatkan akhlak sebagai inti dari proses pendidikan. Karena itu, konsep “Berakhlak Mulia” tidak sekadar menjadi slogan atau jargon lembaga, melainkan harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari seluruh warga sekolah.
Menurutnya, apabila dicermati secara mendalam, tujuan pendidikan yang dirumuskan oleh para tokoh pendidikan bangsa maupun ajaran Islam memiliki titik temu yang sama, yakni membentuk manusia yang memiliki karakter luhur.
Ia mengutip pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga membentuk rasa dan tindakan melalui proses ngerti, ngrasa, dan nglakoni.
“Kalau ilmu hanya berhenti di kepala, maka itu baru pengajaran. Tetapi kalau ilmu sudah masuk ke hati dan diwujudkan dalam perilaku, itulah pendidikan yang sesungguhnya,” katanya.
Dalam paparannya, Haryanto juga mengajak seluruh peserta untuk melakukan refleksi terhadap posisi dan tanggung jawab mereka sebagai insan pendidikan. Ia menegaskan bahwa setiap sumber daya manusia di lingkungan AYWS sejatinya adalah pendidik.
Guru dan Marketing
Menurutnya, seluruh pegawai AYWS, baik guru maupun tenaga kependidikan, memiliki peran yang sama dalam membentuk karakter peserta didik. Karena itu, setiap tindakan, ucapan, dan perilaku yang ditunjukkan sehari-hari akan menjadi contoh yang dilihat dan ditiru oleh para siswa.
“Semua SDM AYWS adalah guru. Semua guru AYWS adalah guru agama. Semua SDM AYWS juga merupakan marketing lembaga. Apa yang kita lakukan akan dilihat, dinilai, dan menjadi cerminan wajah Al Azhar di mata masyarakat,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa dunia pendidikan saat ini menghadapi perubahan yang sangat cepat. Oleh karena itu, setiap individu harus memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan terus belajar.
Menurutnya, organisasi yang mampu bertahan bukanlah organisasi yang paling besar atau paling kuat, melainkan organisasi yang paling siap menghadapi perubahan.
Dalam konteks tersebut, Haryanto mengingatkan pentingnya membangun budaya belajar sepanjang hayat atau lifelong learning. Ia mengibaratkan perjalanan sebuah organisasi seperti sepeda ontel yang akan tetap tegak selama terus bergerak dan dikayuh. Sebaliknya, ketika berhenti bergerak, maka lambat laun akan kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjatuh.
“Perubahan itu sunatullah. Mau tidak mau kita harus berubah. Yang penting adalah bagaimana perubahan itu dimulai dari diri kita sendiri,” ujarnya.
Haryanto menjelaskan bahwa budaya kerja AYWS dirumuskan dalam konsep “Berakhlak Mulia” terdiri atas 14 nilai utama. Nilai-nilai tersebut meliputi berani, empati, respek, amanah, kompeten, harmoni, loyalitas, adaptif, kolaboratif, manusiawi, unggul, layanan prima, ikhlas, serta asah, asih, dan asuh.
Menurutnya, keempat belas nilai tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan saling melengkapi dan membentuk karakter ideal seorang pendidik maupun tenaga kependidikan. Dalam praktiknya, nilai-nilai tersebut harus menjadi pedoman dalam berinteraksi dengan peserta didik, sesama rekan kerja, orang tua siswa, maupun masyarakat luas.
Amanah
Salah satu nilai yang mendapatkan perhatian khusus dalam kajian tersebut adalah amanah. Haryanto mengutip firman Allah SWT dalam QS. Al-Ahzab ayat 72 yang menjelaskan bahwa amanah merupakan tanggung jawab besar yang bahkan enggan dipikul oleh langit, bumi, dan gunung-gunung.
Menurutnya, amanah bukan hanya berkaitan dengan pekerjaan atau jabatan, tetapi juga menyangkut seluruh tanggung jawab yang dipercayakan kepada manusia, termasuk mendidik generasi muda.
“Menjadi guru bukan sekadar profesi. Menjadi pendidik adalah amanah. Ketika kita diberi tanggung jawab mendampingi anak-anak, maka kita sedang mengemban tugas yang sangat mulia sekaligus sangat berat,” tegasnya.
Sebagai seorang psikolog, Haryanto juga menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat modern, mulai dari krisis integritas, gaya hidup konsumtif, pengaruh media sosial, hingga menurunnya kualitas interaksi sosial. Karena itu, ia mengajak seluruh peserta untuk menjaga keseimbangan antara kehidupan profesional, spiritual, dan sosial.
Ia mengingatkan agar warga AYWS bijak dalam menggunakan media sosial, tidak mudah menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya, serta selalu mengedepankan etika dalam setiap aktivitas digital.
Menurutnya, reputasi lembaga pendidikan dapat terpengaruh oleh perilaku individu yang menjadi bagian dari lembaga tersebut.
“Sekarang ini semuanya bisa menjadi viral. Karena itu kita harus berhati-hati dalam bertindak, berbicara, maupun bermedia sosial. Jangan sampai apa yang kita lakukan justru merugikan diri sendiri dan lembaga,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Haryanto juga menyinggung pentingnya membangun budaya pelayanan yang prima. Menurutnya, seluruh warga AYWS harus memiliki semangat melayani, bukan semata-mata dilayani. Semangat kepemimpinan yang melayani atau servant leadership menjadi salah satu karakter penting yang harus dimiliki oleh insan pendidikan.
Ia mencontohkan bagaimana para pemimpin besar dalam sejarah Islam menunjukkan keteladanan melalui pelayanan kepada umat. Nilai inilah yang menurutnya harus terus ditumbuhkan di lingkungan pendidikan agar tercipta suasana kerja yang harmonis, produktif, dan penuh keberkahan.
Di penghujung kajian, Haryanto mengajak seluruh peserta untuk menjadikan momentum Sabtu Wage sebagai sarana muhasabah dan penguatan komitmen bersama. Ia menegaskan bahwa keberhasilan sebuah lembaga pendidikan tidak hanya diukur dari jumlah siswa, fasilitas yang dimiliki, atau prestasi akademik yang diraih, tetapi juga dari kualitas karakter orang-orang yang ada di dalamnya.
“Kalau kita ingin AYWS terus tumbuh, maju, dan menjadi lembaga pendidikan yang dipercaya masyarakat, maka fondasinya harus kuat. Dan fondasi itu adalah akhlak. Akhlak yang baik akan melahirkan kepercayaan, sementara kepercayaan akan melahirkan keberkahan,” ujarnya.
Ia kemudian menutup pemaparannya dengan sebuah pesan sederhana yang menjadi inti dari seluruh materi yang disampaikan. Menurutnya, berbagai nilai dan konsep yang telah dipahami tidak akan memiliki makna apabila tidak diwujudkan dalam tindakan nyata.
“Jangan berhenti pada mengetahui. Jangan berhenti pada memahami. Tetapi lakukan. Karena akhlak mulia bukan untuk dibicarakan, melainkan untuk dipraktikkan setiap hari,” ujar Haryanto. (Chaidir)







