Beasiswa hingga Program Global: AYWS Siapkan Generasi Pemimpin Berakhlak dan Mendunia

SLEMAN — Suasana Ballroom Hotel Alana Yogyakarta pada Selasa (2/6/2026) terasa istimewa. Ratusan siswa, orang tua, dan tamu undangan larut dalam kebanggaan pada acara Akhirussanah Angkatan XV SD Islam Al-Azhar 31 Yogyakarta. Acara dihadiri oleh tamu istimewa dari Keraton Yogyakarta, GBPH Prabukusumo.

Di tengah momentum penuh haru itu, Ketua Yayasan Asram/BPPH AYWS, Drs. H.A. Hafidh Asrom MM, menyampaikan arah besar pendidikan AYWS yang tak hanya menatap masa depan, tetapi juga membangun peradaban.

Dalam sambutannya, Hafidh Asrom menegaskan komitmen yayasan dalam memberikan akses pendidikan berkualitas bagi siswa berprestasi. Salah satu langkah konkret yang diumumkan adalah program beasiswa penuh bagi lulusan terbaik untuk melanjutkan ke jenjang SMP.

“Mulai tahun ini, SMP Al Azhar 38 Wonosari kita konsep untuk anak-anak berprestasi. Minimal ada dua kelas, dan satu kelas diisi penuh oleh anak-anak berprestasi. Kita berikan gratis, termasuk dengan pondoknya di Al Azhar Wonosari,” ungkapnya.

Program ini, lanjutnya, bukan sekadar bantuan biaya pendidikan, melainkan bentuk penghargaan atas kerja keras siswa dan pengorbanan orang tua. Ia menegaskan bahwa semangat apresiasi ini juga diterapkan di sekolah lain di bawah naungan yayasan.

“SMP 26 dan SMP 67 juga sudah kita rapatkan. Silakan memberikan apresiasi kepada anak-anak yang punya prestasi, baik nasional maupun internasional. Kita ingin menghargai perjuangan anak-anak dan orang tua,” tegasnya.

Lebih jauh, Hafidh Asrom memaparkan perkembangan signifikan yayasan yang kini telah mengelola 22 sekolah, terdiri dari 19 sekolah di Yogyakarta dan 3 di Magelang di bawah Yayasan Hafidh Asrom Yogyakarta.

Langkah menuju pendidikan global juga diperkuat melalui kerja sama dengan North Illinois University, Amerika Serikat. Melalui program Global Immersion, mahasiswa dan profesor dari Amerika hadir langsung untuk mendampingi proses pembelajaran.

“Nanti bulan Juli sampai Agustus akan hadir 10 mahasiswa tingkat akhir bersama tiga profesor dari Amerika. Mereka akan mendampingi guru-guru kita dalam menerapkan konsep pendidikan internasional yang tetap berbasis nilai Islam,” jelasnya.

Menurut Hafidh Asrom, inilah ciri khas utama Al-Azhar yakni pendidikan global yang tidak tercerabut dari akar nilai spiritual.

“Sekolah internasional itu banyak. Tapi yang berbasis agama Islam, dengan pembentukan akhlakul karimah, itu yang menjadi kekuatan kita,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa visi besar yayasan adalah membentuk generasi pemimpin masa depan.

“Kita ingin menyiapkan anak-anak kita menjadi calon pemimpin 20 hingga 25 tahun ke depan. Mereka harus punya akhlakul karimah, tapi juga siap bersaing secara global,” katanya.

Untuk mewujudkan visi tersebut, berbagai inovasi pendidikan terus dikembangkan. Salah satunya adalah pembangunan laboratorium kecerdasan buatan (AI) sebagai respons terhadap perkembangan teknologi yang semakin pesat.

“AI itu penting, tapi juga bisa berbahaya kalau tidak kita siapkan dengan baik. Maka kita siapkan laboratorium AI untuk anak-anak kita,” jelasnya.

Selain itu, pembelajaran berbasis praktik juga diperkuat melalui laboratorium alam dan laboratorium kewirausahaan. Di sini, siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga mengalami langsung proses menanam, merawat, memanen, hingga mengolah dan menjual hasilnya.

“Kita ingin anak-anak tidak hanya pintar, tapi juga punya jiwa entrepreneur yang kuat, dengan dasar agama,” tambahnya.

Fasilitas yang disiapkan pun terbilang unik dan jarang dimiliki sekolah lain. Mulai dari driving range golf yang menjadi sarana pembinaan karakter dan jejaring global, hingga greenhouse modern untuk pengembangan konsep pertanian milenial berbasis teknologi.

“Kita ingin anak-anak mengenal dunia, termasuk olahraga seperti golf yang menjadi bagian dari komunikasi global. Bahkan, siswa kita sudah ada yang menjadi juara nasional junior golf,” ujarnya.

Tidak hanya itu, Al Azhar juga menghadirkan miniatur manasik haji untuk membangun pemahaman spiritual sejak dini, serta inovasi “pojok jamu milenial” sebagai upaya mengangkat budaya lokal dalam kemasan modern yang diminati generasi muda.

Hafidh Asrom juga mengungkapkan bahwa konsep pendidikan Al Azhar lahir dari proses panjang dan kajian mendalam, termasuk pengalamannya melakukan studi ke Turki.

“Saya sudah lima kali ke Turki sejak 2014, untuk melihat bagaimana mereka membangun kejayaan Islam. Kita belajar dari sana, bagaimana pendidikan menjadi kunci peradaban,” tuturnya.

Ia juga menyebut Al-Azhar Yogyakarta sebagai “rumah besar” yang terbuka bagi semua kalangan, mulai dari tokoh masyarakat, keluarga Keraton Yogyakarta, hingga siswa dari berbagai negara seperti Turki, Mesir, Malaysia, Taiwan, dan Thailand.

“Al-Azhar ini rumah rahmatan lil ‘alamin. Rumah bagi semua, termasuk masyarakat internasional,” katanya.

Sebagai bagian dari inovasi terbaru, yayasan juga meluncurkan konsep Wellness School yang menekankan gaya hidup sehat di lingkungan sekolah, mulai dari penggunaan tanaman alami hingga penyediaan makanan sehat bagi siswa.

Selain itu, pembelajaran berbasis pengalaman juga terus diperluas melalui program outdoor class, kelas di alam terbuka, hingga wahana edukasi seperti rafting, flying fox, dan eksplorasi lingkungan yang dirancang untuk membentuk keberanian, kepemimpinan, dan karakter siswa.

Hafidh Asrom mengajak para orang tua untuk mempertimbangkan melanjutkan pendidikan putra-putrinya di jaringan sekolah Al-Azhar.

“Kami tidak hanya mendidik anak-anak menjadi pintar, tetapi juga membentuk mereka menjadi manusia yang berkarakter, berakhlak, dan siap menghadapi dunia,” ujarnya. (Chaidir)