SLEMAN — Di tengah suasana haru dan penuh kebanggaan dalam acara Akhirussanah SD Islam Al-Azhar 31 Yogyakarta yang digelar di Ballroom Hotel Alana, Selasa (2/6/2026), perwakilan orang tua siswa, Muqorrobien Ma’rufi, menyampaikan refleksi mendalam tentang arah pendidikan di era modern.
Dalam sambutannya, ia mengajak hadirin merenungkan sebuah ungkapan yang pernah ia baca: “Science without religion is blind.” Ungkapan itu, menurutnya, dahulu terasa abstrak. Namun kini, maknanya semakin nyata di tengah perkembangan zaman.
“Kita hidup di masa ketika teknologi berkembang sangat cepat. Artificial Intelligence, digitalisasi, dan berbagai inovasi telah mempermudah kehidupan manusia. Tetapi di saat yang sama, kita juga melihat sesuatu yang perlahan memudar—nilai kemanusiaan, empati, dan kepedulian,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa “kebutaan” yang dimaksud dalam ungkapan tersebut bukanlah kehilangan penglihatan, melainkan kehilangan arah. Ilmu yang tidak lagi memiliki kompas moral, serta kemajuan yang berjalan tanpa kebijaksanaan.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak lepas dari mulai terpinggirkannya nilai akhlak dalam kehidupan modern. Padahal, dalam ajaran Islam, akhlak justru menjadi inti utama.
Muqorrobien mengingatkan bahwa wahyu pertama yang diterima Rasulullah SAW adalah perintah Iqra—membaca—sebagai simbol pentingnya ilmu. Namun, misi utama kenabian adalah menyempurnakan akhlak manusia.
“Ilmu bisa diajarkan melalui berbagai media, bahkan melalui teknologi. Tetapi akhlak tidak bisa diajarkan tanpa keteladanan. Ia harus hidup, harus terlihat, harus dicontoh,” tuturnya.
Dalam konteks itulah, ia menilai pendidikan Islam memiliki peran strategis. Tidak sekadar mentransfer ilmu, tetapi juga membentuk karakter.
“Pendidikan Islam membangun dua kekuatan sekaligus—ilmu dan akhlak. Keduanya seperti dua sayap. Tanpa salah satunya, manusia tidak akan mampu terbang dengan seimbang,” katanya.
Ia juga menyoroti bahwa di tengah kemajuan teknologi, ada batas yang tidak dapat dilampaui oleh kecerdasan buatan.
“Kita mungkin bisa menggantikan banyak hal dengan teknologi, tetapi keteladanan akhlak tidak akan pernah bisa digantikan oleh algoritma,” tegasnya.
Lebih jauh, ia menyebut bahwa peradaban yang hanya bertumpu pada kecerdasan tanpa akhlak pada akhirnya akan rapuh.
“Jika hanya mengandalkan satu sayap, peradaban itu akan kehilangan keseimbangan. Di sinilah pentingnya pendidikan yang utuh,” ujarnya.
Sebagai orang tua, ia menyampaikan rasa syukur karena anak-anak mereka mendapatkan pendidikan dalam lingkungan yang mengintegrasikan nilai keilmuan dan pembentukan karakter.
“Kami merasa bersyukur, anak-anak kami tidak hanya diajarkan untuk pintar, tetapi juga diajarkan menjadi pribadi yang berakhlak,” ucapnya.
Ia pun menyampaikan apresiasi kepada para guru yang telah mendidik dengan penuh kesabaran dan keikhlasan, seraya berharap ilmu yang diberikan menjadi amal jariyah yang terus mengalir.
Di akhir sambutannya, Muqorrobien berpesan kepada para siswa untuk terus melanjutkan perjalanan belajar dengan tetap menjaga nilai-nilai yang telah ditanamkan.
“Teruslah belajar dan tumbuh. Jadilah generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia. Jadilah cahaya bagi lingkungan dan bangsa,” pungkasnya.
Acara Akhirussanah tersebut tidak hanya menjadi penanda kelulusan, tetapi juga menjadi ruang refleksi bersama tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara ilmu dan akhlak di tengah tantangan zaman. (Chaidir)







