BOROBUDUR – Pembelajaran sejarah dan budaya tidak selalu harus berlangsung di dalam ruang kelas. Hal inilah yang diwujudkan oleh SMP Islam Al Azhar 66 Bantul melalui kegiatan fieldtrip edukatif ke kawasan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, yang dilaksanakan pada Selasa lalu (11/2/2026). Kegiatan yang diikuti oleh siswa kelas VIII ini menjadi bagian dari pembelajaran kontekstual, yaitu metode belajar yang mengajak siswa memahami materi secara langsung melalui pengalaman nyata di lapangan.
Sejak pagi hari, para siswa telah menunjukkan antusiasme tinggi. Mereka menyadari bahwa perjalanan ini bukan sekadar wisata, melainkan kesempatan berharga untuk mengenal lebih dekat sejarah dan budaya bangsa. Setibanya di kawasan Borobudur, rombongan terlebih dahulu mengunjungi Museum Borobudur, sebuah pusat informasi yang menyimpan berbagai catatan penting tentang perjalanan sejarah dan pemugaran Candi Borobudur.
Di museum tersebut, para siswa memperoleh penjelasan langsung dari pemandu mengenai latar belakang berdirinya Candi Borobudur, yang dibangun pada abad ke-8 oleh Dinasti Syailendra. Mereka juga mempelajari struktur arsitektur candi yang tersusun dalam tingkatan-tingkatan yang sarat makna filosofis, mencerminkan perjalanan spiritual manusia menuju kesempurnaan. Penjelasan mengenai Relief Karmawibhangga menjadi salah satu bagian yang paling menarik perhatian siswa. Relief ini menggambarkan hukum sebab-akibat dalam kehidupan manusia, yang disampaikan melalui simbol dan visual yang penuh makna.
Selain itu, siswa juga mempelajari proses panjang pemugaran Candi Borobudur yang melibatkan kerja sama internasional. Mereka melihat berbagai dokumentasi, artefak, dan miniatur yang menggambarkan bagaimana candi tersebut dipelihara dan dilestarikan hingga tetap berdiri megah sampai sekarang. Melalui pengamatan langsung, siswa dapat memahami bahwa warisan budaya membutuhkan kepedulian dan tanggung jawab bersama untuk menjaganya.
Suasana belajar terasa hidup dan interaktif. Para siswa aktif bertanya, berdiskusi, dan mengamati setiap bagian museum dengan penuh rasa ingin tahu. Banyak di antara mereka yang mendokumentasikan momen tersebut, baik melalui catatan maupun foto, sebagai bagian dari pengalaman belajar yang berkesan. Ekspresi kagum dan rasa bangga terlihat jelas, terutama ketika mereka menyadari bahwa Indonesia memiliki warisan budaya yang diakui dunia.
Kegiatan dilanjutkan dengan mengunjungi Kampung Seni Borobudur, sebuah kawasan yang menjadi pusat kreativitas masyarakat lokal. Di tempat ini, siswa menyaksikan langsung berbagai aktivitas seni dan kerajinan tradisional yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sekitar Borobudur. Mereka melihat proses pembuatan kerajinan tangan, karya seni berbasis budaya, serta berbagai produk kreatif yang mencerminkan kekayaan tradisi lokal.
Interaksi langsung dengan para perajin memberikan pengalaman yang berharga bagi siswa. Mereka memahami bahwa seni dan budaya bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga sumber kehidupan bagi masyarakat. Para siswa juga belajar bahwa kreativitas dapat menjadi sarana untuk menjaga identitas budaya sekaligus membuka peluang masa depan.
Kegiatan fieldtrip ini tidak hanya memberikan pengetahuan akademik, tetapi juga memperkaya pengalaman emosional dan sosial siswa. Kebersamaan yang terjalin selama perjalanan memperkuat rasa persaudaraan, sementara pengalaman belajar di luar kelas membantu mereka memahami materi dengan cara yang lebih mendalam dan bermakna.
Melalui kegiatan ini, SMP Islam Al Azhar 66 Bantul berharap para siswa dapat menumbuhkan kecintaan terhadap sejarah dan budaya bangsa. Pembelajaran tidak lagi bersifat abstrak, tetapi menjadi pengalaman nyata yang membentuk kesadaran, karakter, dan rasa bangga sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Fieldtrip ini menjadi bukti bahwa belajar dapat berlangsung di mana saja, dan pengalaman langsung adalah guru terbaik dalam memahami nilai-nilai kehidupan dan peradaban. (Margono)







