SLEMAN — Sebuah karya buku cerita anak tak selalu lahir dari proses panjang yang rumit. Bagi Siti Robiah SHut MPd, guru Pendidikan Anak Usia dini (PAUD) yang juga menjabat sebagai Pelaksana Tugas KB Islam Al Azhar 60 serta Kepala Daycare, ide besar justru berawal dari hal sederhana yang ia temui setiap hari di ruang kelas.
Keresahan melihat anak-anak yang sulit makan buah dan sayur menjadi titik awal lahirnya buku cerita anak berjudul “Monster Buah”, yang kini telah diterbitkan dan beredar secara nasional. Buku tersebut diambil dari kisah nyata saat dirinya menjadi guru di KB-TK Islam Al Azhar 31 Yogyakarta pada tahun 2024 hingga 2025 lalu. Kesehariannya Robiah mencermati kondisi dan mendampingi anak-anaknya.
Dalam kesehariannya, Siti Robiah aktif mengajar dan berinteraksi intens dengan anak-anak membuatnya memahami bahwa tantangan pendidikan usia dini tidak hanya soal kemampuan akademik, tetapi juga pembentukan kebiasaan hidup sehat.
“Kalau lauk mereka suka, tapi sayur sama buah itu susah sekali,” ujar Robiah saat diwawancarai pada Rabu (13/5/2026).
Berangkat dari kondisi tersebut, ia mencoba mencari pendekatan yang lebih menyenangkan dan mudah diterima anak-anak. Ia kemudian menuangkannya dalam bentuk cerita yang dekat dengan dunia anak, sederhana, tetapi sarat makna.
Cerita “Monster Buah” sendiri berpusat pada tokoh anak bernama Raya, yang sejak awal digambarkan sangat tidak menyukai buah. Bahkan, hanya dengan melihat buah saja sudah membuatnya merasa mual.
Konflik mulai muncul ketika suatu hari guru di sekolah meminta seluruh anak membawa buah. Sepanjang hari, Raya merasa kesal karena semua orang—guru maupun teman-temannya—terus memintanya untuk makan buah.
Namun, cerita mengambil pendekatan imajinatif ketika Raya tertidur di siang hari. Dalam tidurnya, ia tiba-tiba terbangun di sebuah taman yang tidak biasa—taman yang dipenuhi oleh “monster buah”. Di taman itulah petualangan dimulai. Raya bersama teman-temannya diajak berkeliling, berkenalan, dan mencoba berbagai jenis buah dengan cara yang menyenangkan dan tidak memaksa.
Alih-alih menakutkan, monster buah digambarkan sebagai sosok ramah yang membantu Raya mengenal buah secara perlahan. Dari pengalaman tersebut, Raya mulai menyadari bahwa tidak semua buah membuatnya merasa tidak nyaman.
Cerita ini kemudian berkembang menjadi perjalanan emosional seorang anak dalam mengatasi ketidaksukaan melalui pengalaman yang menyenangkan. Melalui pendekatan tersebut, Siti Robiah ingin menyampaikan pesan bahwa kebiasaan baik, seperti makan buah, dapat dibangun tanpa paksaan—melainkan melalui pengalaman yang positif dan penuh imajinasi.
Workshop Penulisan Buku
Perjalanan penulisan buku tersebut bermula ketika Siti Robiah mengikuti workshop penulisan buku cerita anak yang diselenggarakan oleh Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (HIMPAUDI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kegiatan tersebut diikuti 60 guru PAUD terpilih dari berbagai wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dalam workshop yang berlangsung selama satu hari itu, peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga langsung diminta mempraktikkan penulisan dengan menyusun kerangka cerita secara lengkap. “Dalam satu hari itu, kami langsung membuat kerangka cerita, mulai dari judul, tujuan, sampai alur,” katanya.
Dari puluhan ide yang dihasilkan, judul “Monster Buah” sempat menuai perhatian karena dinilai tidak biasa. Bahkan, sempat muncul kekhawatiran bahwa penggunaan kata “monster” dapat menimbulkan rasa takut pada anak-anak.
“Namun setelah dipresentasikan, cerita tersebut justru dinilai kuat karena mampu menggabungkan unsur imajinasi dengan pesan edukatif yang relevan dengan kehidupan sehari-hari anak,” jelas Robiah.
Dikatakan, seleksi dilakukan secara ketat. Dari sekitar 60 peserta, hanya 15 karya yang dinyatakan lolos untuk dilanjutkan ke tahap berikutnya. “Dari Jogja ada 15 yang masuk dan semuanya diterbitkan,” ungkapnya.
Mengembangkan Cerita
Setelah lolos seleksi, ia kembali dihadapkan pada tantangan baru. Sekitar satu bulan kemudian, ia dihubungi oleh penerbit PT Zikrul Bestari untuk mengembangkan kerangka cerita menjadi naskah utuh setebal 23 hingga 24 halaman dalam waktu dua minggu.
Proses penulisan pun dilakukan dengan lebih serius. Ia tidak hanya mengembangkan alur cerita, tetapi juga memperkuat karakter dan pesan yang ingin disampaikan. Tokoh Raya dalam cerita merupakan refleksi dari karakter anak-anak yang ia temui di kelas. Bahkan, beberapa nama tokoh dalam buku menggunakan nama asli muridnya.
“Waktu buku terbit, saya sampai izin ke orang tua murid karena nama anak-anak memang ditulis asli,” jelasnya. Respons orang tua pun positif. Mereka merasa bangga karena pengalaman anak-anak mereka menjadi bagian dari sebuah karya.
Selain menulis, Siti Robiah juga turut membuat ilustrasi dalam bukunya. Karakter buah digambarkan secara ekspresif agar menarik dan tidak menimbulkan kesan menakutkan, meskipun menggunakan konsep “monster”. Meski demikian, proses penerbitan tidak berlangsung singkat. Naskah harus melewati tahapan penyuntingan, revisi, hingga penyesuaian ilustrasi sesuai standar penerbit.
“Total hampir enam bulan prosesnya, dari workshop sampai akhirnya buku ini jadi,” katanya.
Kini, buku yang diberi judul “Wow Ada Monster Buah!” telah dipasarkan secara luas melalui marketplace dan toko buku nasional seperti Gramedia, dengan kisaran harga Rp29 ribu hingga Rp35 ribu.
Meski karyanya telah beredar luas, Siti Robiah mengaku tidak terlalu memikirkan keuntungan finansial. “Yang penting cerita ini bisa bermanfaat untuk anak-anak,” ujarnya.
Dalam praktik pembelajaran sehari-hari, ia memang terbiasa menggunakan pendekatan kreatif seperti dongeng dan kegiatan cooking class sederhana untuk mengenalkan makanan sehat. Menurutnya, anak usia dini akan lebih mudah menerima sesuatu jika dikemas secara menyenangkan.
“Kalau dimakan langsung kadang tidak suka, tapi kalau dibuat kegiatan, mereka jadi penasaran,” jelasnya.
Buku Wayang
Ke depan, ia berencana mengembangkan cerita-cerita lain, termasuk yang mengangkat budaya lokal seperti tokoh wayang, agar anak-anak lebih mengenal identitas budaya sejak dini. Ia berharap, karya sederhana yang lahir dari ruang kelas ini dapat menjadi inspirasi bagi guru lain untuk berani memulai dan berkarya.
“Harapannya, anak-anak bisa belajar dengan senang dan tidak asing dengan kebiasaan baik,” tutupnya. (Chaidir)







