Warning: touch(): Utime failed: Operation not permitted in /www/wwwroot/ayws.sch.id/wp-admin/includes/class-wp-filesystem-direct.php on line 529
Ustadz Ikhsan, Sosok di Balik Perjuangan Santri Menghafal Alquran di AYBS - AYWS - Al Azhar Yogyakarta World Schools

Ustadz Ikhsan, Sosok di Balik Perjuangan Santri Menghafal Alquran di AYBS

SLEMAN — Di tengah dinamika kehidupan santri yang penuh dengan aktivitas belajar, menjaga konsistensi dalam menghafal Alquran menjadi tantangan tersendiri. Hal inilah yang terus ditekankan oleh pengajar Alquran di Al Azhar Yogyakarta Boarding School (AYBS), Ustadz Muhammad Ikhsan SPsi, dalam setiap proses pendampingan yang ia lakukan kepada para santri.

Sebagai seorang hafidh Alquran 30 juz lulusan Pondok Pesantren Al-Munaqoddasah Ponorogo, Ustadz Ikhsan bukan hanya mengajar, tetapi juga menjadi sosok pembimbing yang hadir dalam perjalanan panjang para santri menapaki proses menghafal Alquran. Sejak bergabung pada tahun 2018, ia telah mengabdikan diri secara penuh di lingkungan boarding school tersebut.

Mengawali pengabdiannya sebagai asisten musyrif di Bidang Alquran, Ikhsan turut mengambil peran penting dalam membangun dan mengembangkan sistem pembelajaran Alquran yang terstruktur. Ia terlibat dalam merancang pola pembinaan yang tidak hanya berorientasi pada capaian hafalan, tetapi juga pada kualitas bacaan, kedalaman pemahaman, serta pembentukan karakter santri.

Menurutnya, tantangan terbesar dalam menghafal Alquran bukan terletak pada kemampuan mengingat, melainkan pada kemampuan menjaga konsistensi. Banyak santri yang memulai dengan semangat tinggi, namun perlahan mengalami penurunan motivasi ketika menghadapi kejenuhan atau kesulitan.

“Fenomena itu hampir selalu ada. Di awal semangatnya luar biasa, tapi ketika masuk fase sulit, mulai terasa berat. Di sinilah peran pembimbing untuk terus menjaga ritme mereka agar tetap stabil,” ujar Ikhsan dalam wawancaranya di AYBS, Selasa (12/5/2026)

Ia menekankan bahwa keberhasilan dalam menghafal Alquran tidak ditentukan oleh seberapa cepat seseorang menyelesaikan hafalan, melainkan oleh sejauh mana ia mampu menjaga keistiqomahan. Prinsip “sedikit tetapi rutin” menjadi pegangan utama dalam proses tersebut.

“Tidak perlu terburu-buru. Yang penting itu konsisten. Walaupun sedikit, kalau dilakukan setiap hari, hasilnya akan jauh lebih kuat dan bertahan lama,” tambahnya.

Selain konsistensi, Ustadz Ikhsan juga menaruh perhatian besar pada aspek niat. Ia kerap mengingatkan para santri bahwa menghafal Alquran bukan sekadar target akademik atau prestasi semata, melainkan bagian dari perjalanan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

“Kalau niatnya benar, prosesnya akan terasa lebih ringan. Menghafal Alquran itu bukan sekadar kegiatan belajar, tapi ibadah yang membutuhkan hati yang terjaga,” ungkapnya.

Dalam praktik pembelajaran, Ikhsan memadukan berbagai metode agar proses menghafal menjadi lebih efektif dan tidak membosankan. Ia menguasai metode Tikror yang menekankan pengulangan untuk memperkuat hafalan, serta metodologi Iqro’ yang membantu dalam membangun fondasi bacaan yang benar sejak awal.

Pendekatan ini dirancang agar setiap santri dapat belajar sesuai dengan ritme dan kemampuannya masing-masing, tanpa kehilangan esensi dari kualitas hafalan itu sendiri. Ia juga menyesuaikan metode pengajaran dengan karakter santri, sehingga proses belajar terasa lebih personal dan menyenangkan.

“Setiap anak punya cara belajar yang berbeda. Tugas kami adalah menemukan pendekatan yang tepat agar mereka bisa berkembang secara maksimal,” jelasnya.

Selama beberapa tahun mendampingi santri, Ikhsan telah melihat berbagai proses perjuangan yang tidak selalu mudah. Ada santri yang harus berjuang melawan rasa malas, ada pula yang harus mengulang hafalan berkali-kali hingga benar-benar melekat.

Namun dari proses tersebut, telah lahir puluhan lulusan program Alquran yang berhasil menyelesaikan hafalan mereka dengan baik. Keberhasilan itu tidak hanya diukur dari jumlah hafalan, tetapi juga dari perubahan sikap dan kedisiplinan yang terbentuk selama proses pembinaan.

“Yang kami harapkan bukan hanya hafal 30 juz, tapi juga memiliki adab terhadap Alquran. Bagaimana mereka menjaga bacaan, menghormati Alquran, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan bahwa menjadi bagian dari generasi Alquran merupakan sebuah anugerah sekaligus amanah yang besar. Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk menempuh jalan tersebut.

“Menjadi santri Alquran itu kemuliaan. Rasulullah SAW menyampaikan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang belajar Alquran dan mengajarkannya. Ini yang harus disadari oleh para santri,” katanya.

Melalui dedikasi dan keteladanan para pengajar seperti Ustadz Muhammad Ikhsan, Al Azhar Yogyakarta Boarding School terus berkomitmen menumbuhkan generasi Qurani yang tidak hanya unggul dalam hafalan, tetapi juga memiliki ketekunan, kedisiplinan, serta akhlak yang baik.

Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, kehadiran generasi yang dekat dengan Alquran diharapkan mampu menjadi fondasi kuat dalam membangun masa depan yang lebih baik—tidak hanya bagi diri mereka sendiri, tetapi juga bagi masyarakat luas. Dan, Ikhsan Adalah sosok dibalik para penghafal Alquran, santri Al Azhar Yogyakarta Boarding Schools. (Chaidir)