SLEMAN – Penceramah nasional sekaligus akademisi yang juga dosen Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Dr H Fahruddin Faiz SAg MAg, mengingatkan para orang tua bahwa keberhasilan anak menghafal Alquran bukan sekadar prestasi akademik, melainkan amanah besar dari Allah SWT yang harus dijaga bersama.
Hal itu disampaikan Fahruddin Faiz dalam tausiyah pada acara Wisuda Tahfidz SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta yang digelar di Auditorium Al Hafidh Kampus 1 AYWS, Senin (15/6/2026). Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakabid Akademik AYWS Suhartini MPd, Wakabid Keagamaan AYWS Dr Yogi E Ginanjar LC MA, Wakabid Kesekretariatan H Bashori Muhammad MPd, perwakilan Dinas Pendidikan Sleman, pengurus Jam’iyyah, serta para wali murid.
“Kita menyaksikan satu hal yang sangat luar biasa pada hari ini, bagaimana Allah mempercayakan ayat-ayat-Nya kepada anak-anak kita. Ini bukan sekadar prestasi biasa, tetapi sebuah amanah besar yang Allah titipkan kepada keluarga kita,” ujar Fahruddin Faiz yang dikenal sebagai filsafat Islam, tasawuf, dan pemikiran keislaman
Ia mengajak seluruh orang tua untuk mensyukuri nikmat tersebut dengan sebenar-benarnya rasa syukur. Menurutnya, keberhasilan anak menjadi penghafal Alquran tidak boleh dipandang semata-mata sebagai hasil kecerdasan ataupun kemampuan keluarga.
“Jangan sampai kita merasa bahwa semua ini terjadi karena kemampuan kita semata. Mari kita luruskan keyakinan bahwa semua kenikmatan dan kebahagiaan ini sepenuhnya adalah anugerah dari Allah SWT,” tuturnya.
Fahruddin Faiz menegaskan bahwa tidak ada kemuliaan yang lebih besar bagi seorang hamba selain memperoleh kepercayaan dari Allah. Ketika anak-anak dipercaya untuk menjaga ayat-ayat-Nya, maka itu merupakan kehormatan yang patut disyukuri sepanjang hayat.
Dalam tausiyahnya, ia juga mengingatkan pentingnya meneladani Rasulullah SAW yang sangat mencintai umatnya. Salah satu bentuk membalas cinta Rasul, menurutnya, adalah dengan mengikuti ajaran beliau serta memperbanyak shalawat.
Ia menjelaskan bahwa setiap nikmat merupakan amanah yang melahirkan tanggung jawab baru. Karena itu, setelah anak-anak berhasil menghafal Alquran, tugas orang tua justru semakin besar dalam mendampingi proses tumbuh kembang mereka.
Tiga Hal Penting
Ia menyebut ada tiga hal penting dalam membentuk masa depan anak, yaitu arena (lingkungan), karakter (akhlak), dan modal (bekal). “Alquran adalah modal yang luar biasa. Pendidikan formal, ijazah, dan keterampilan juga penting. Tetapi semuanya akan sangat ditentukan oleh lingkungan dan karakter anak,” katanya.
Karena itu, orang tua perlu menyiapkan lingkungan yang sehat dan mendukung tumbuhnya iman serta akhlak mulia. Lingkungan tersebut tidak hanya berkaitan dengan pergaulan di luar rumah, tetapi juga suasana di dalam keluarga.
Menurutnya, rumah yang dipenuhi ketenangan, kasih sayang, dan komunikasi yang baik akan menjadi tempat terbaik bagi anak untuk bertumbuh. Sebaliknya, rumah yang penuh tekanan dan kemarahan dapat membuat anak merasa tidak nyaman dan mencari pelarian di luar.
“Kita kadang terlalu sering menegur, menuntut, bahkan menyindir anak. Padahal mereka juga butuh didengarkan, dipahami, dan dihargai perasaannya,” ujarnya.
Fahruddin mengatakan, dalam membangun lingkungan yang baik bagi anak, orang tua dapat menempuh tiga pendekatan, yakni informasi, imitasi, dan vibrasi. Informasi berarti memberikan arahan mengenai nilai-nilai yang benar. Namun, menurutnya, nasihat saja tidak cukup karena anak-anak belajar lebih banyak melalui imitasi atau keteladanan.
“Anak-anak adalah peniru ulung. Mereka melihat, merekam, lalu meniru. Kalau kita ingin anak berbicara lembut, orang tua harus lebih dahulu lembut. Jangan sampai kita melarang dengan kata-kata, tetapi perilaku kita justru bertolak belakang,” ungkapnya.
Sementara itu, vibrasi berkaitan dengan suasana emosional di rumah. Anak-anak, kata dia, sangat peka terhadap ketegangan dan konflik yang terjadi di lingkungan keluarga. “Anak mungkin tidak memahami masalah yang sedang terjadi, tetapi mereka merasakan dampaknya. Karena itu, jangan biarkan konflik berkepanjangan hingga menciptakan suasana rumah yang tidak nyaman,” pesannya.
Lingkaran Pertemanan
Selain lingkungan keluarga, Fahruddin Faiz juga mengingatkan pentingnya memperhatikan lingkaran pertemanan anak, terutama pada usia remaja. “Teman memiliki pengaruh yang sangat besar. Maka penting bagi kita mengenal siapa teman-teman anak kita, bukan untuk mengontrol secara berlebihan, tetapi untuk memastikan mereka berada di lingkungan yang baik,” katanya.
Ia juga mendorong para orang tua untuk menjadi sahabat bagi anak-anaknya. Menurutnya, kedekatan emosional akan membantu anak lebih terbuka dalam menghadapi berbagai persoalan yang mereka alami.
“Jangan sampai setiap pertemuan dengan anak hanya berisi nasihat. Anak-anak hari ini menghadapi tekanan yang luar biasa. Mereka membutuhkan kehadiran orang tua sebagai tempat pulang yang aman,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Fahruddin Faiz juga menekankan pentingnya pendidikan karakter melalui kebiasaan-kebiasaan sederhana di rumah, seperti membiasakan anak bertanggung jawab terhadap tugas-tugas kecil yang sesuai dengan usianya.
Selain itu, ia mengajak orang tua untuk menanamkan ketangguhan mental atau resiliensi kepada anak-anak. “Kita perlu menyiapkan anak yang kuat, bukan hanya pintar. Kuat menghadapi tekanan, kuat menghadapi kegagalan, dan kuat menjalani kehidupan,” katanya.
Sosok yang gemar menulis tentang keislaman dan filsafat ini berpesan kepada para wisudawan agar terus mencintai dan memuliakan Alquran. Menurutnya, menghafal Alquran bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal untuk mengamalkan nilai-nilai Alquran dalam kehidupan sehari-hari.
“Hari ini kalian telah menjadi hafizh Alquran, tetapi perjalanan belum selesai. Tingkatan berikutnya adalah menjadi hamilul quran, yaitu pribadi yang membawa Alquran dalam akhlak, sikap, dan setiap langkah kehidupan,” pesannya.
Memuliakan Nama Allah
Ia juga menyampaikan sebuah kisah tentang seorang hamba yang memuliakan nama Allah, sebagai pengingat bahwa siapa pun yang memuliakan Al-Qur’an dan kalimat Allah, niscaya akan dimuliakan oleh-Nya.
“Mari kita bersama-sama mengambil peran dalam meninggikan kalimat Allah, membangun akhlak, dan memuliakan Islam melalui jalan Al-Qur’an,” tutupnya.
Acara wisuda tahfidz tersebut berlangsung khidmat dan penuh haru, terutama ketika para wisudawan melakukan sungkeman kepada orangtuanya. Momen itu menjadi bentuk syukur atas capaian para siswa sekaligus pengingat bagi seluruh orang tua untuk terus mendampingi anak-anak mereka dalam menjaga amanah Al-Qur’an dengan cinta, keteladanan, dan kesabaran. (Chaidir)






