SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta Teguhkan Komitmen Menumbuhkan Generasi Qur’ani

SLEMAN – Suasana khidmat berpadu haru menyelimuti Auditorium Al Hafidh, Kampus 1 Al Azhar Yogyakarta World School (AYWS), saat SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta menggelar Wisuda Tahfidz, Senin (15/6/2026). Acara ini menjadi momentum istimewa bagi para siswa yang telah menuntaskan capaian hafalan Alqur’an, sekaligus menjadi kebanggaan bagi orang tua dan para pendidik yang mendampingi perjalanan mereka.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Wakabid Akademik AYWS Suhartini MPd, Wakabid Kesekretariatan H. Bashori Muhammad, MPd, perwakilan Dinas Pendidikan Sleman, perwakilan Kantor Kementeriaan Agama Sleman, pengurus Jam’iyyah, serta para wali murid yang turut menyaksikan dengan penuh rasa syukur.

Dalam sambutannya, Wakil Ketua Bidang Keagamaan AYWS, Dr Yogi E Ginanjar Lc MA, menekankan pentingnya perubahan dan inovasi dalam dunia pendidikan, khususnya di tengah derasnya arus perkembangan teknologi dan informasi. Menurutnya, lembaga pendidikan yang tidak mampu beradaptasi akan tertinggal oleh zaman.

“Kita hidup di era digital, di mana sumber belajar terbuka luas, metode pembelajaran terus berkembang, dan akses informasi semakin tanpa batas. Jika kita tidak bergerak cepat—bahkan harus berlari—maka kita akan tertinggal,” ungkapnya.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa komitmen untuk berinovasi tidak membuat Al Azhar Yogyakarta World School (AYWS) melupakan jati dirinya sebagai lembaga pendidikan Islam. Justru, di tengah orientasi global yang terus dibangun, nilai-nilai keislaman tetap menjadi fondasi utama.

“Kami ingin menjadi lembaga yang mendunia, mencetak generasi yang mampu bersaing di tingkat internasional, tetapi tetap kokoh berakar pada nilai-nilai Islam,” jelasnya.

Sebagai wujud nyata dari komitmen tersebut, program tahfidz Alqur’an terus ditumbuhkembangkan sebagai bagian penting dari sistem pendidikan. Ia menyebutkan, terdapat tiga pondasi utama yang menjadi dasar dalam mendidik siswa, yaitu akidah yang salimah, ibadah yang khusyuk, dan akhlakul karimah.

Akidah yang lurus menjadi filter utama dalam menghadapi tantangan zaman, ibadah yang benar memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT, sementara akhlak yang mulia menjadi cerminan karakter seorang muslim. Setelah ketiga pondasi tersebut tertanam kuat, barulah ilmu pengetahuan diberikan secara optimal agar siswa memiliki keseimbangan antara iman dan intelektualitas.

Lebih lanjut, Dr. Yogi juga berpesan kepada para wisudawan agar tidak cepat berpuas diri atas capaian yang diraih hari ini. “Di atas langit masih ada langit. Hafalan Alqur’an yang kalian miliki hari ini tidak boleh berhenti di lisan, tetapi harus sampai ke hati dan tercermin dalam kehidupan,” pesannya.

Ia menjelaskan bahwa perjalanan menjadi ahli Al-Qur’an tidak berhenti pada tahfidz, melainkan melalui tahapan panjang, mulai dari menumbuhkan iman dan cinta kepada Al-Qur’an, membaca (qira’ah), memahami (tilawah), menghafal (tahfidz), hingga mengamalkan (tathbiq).

“Inilah tujuan akhir kita, bukan sekadar menjadi penghafal, tetapi menjadi pengamal Al-Qur’an,” tegasnya.

Syukur dan Haru

Sementara itu, perwakilan orang tua murid, Kombes Pol Yani Permana, SIK, MH, menyampaikan rasa syukur dan haru atas capaian para siswa. Ia menuturkan bahwa proses menghafal Alqur’an bukanlah perjalanan yang mudah, melainkan penuh perjuangan dan pengorbanan.

“Kami menyaksikan sendiri bagaimana anak-anak berjuang, mengalahkan rasa kantuk, mengurangi waktu bermain, dan mengulang ayat demi ayat hingga melekat dalam hati. Air mata yang hadir hari ini adalah air mata syukur,” ujarnya.

Ia juga memberikan apresiasi tinggi kepada para ustadz dan ustadzah yang telah membimbing dengan penuh kesabaran, ketelatenan, dan keikhlasan. Menurutnya, di tengah tantangan pergaulan remaja yang semakin kompleks, lingkungan pendidikan seperti ini menjadi anugerah yang sangat berharga.

Sedangkan Kepala SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta, Fajar Arif Herjayanto MPd Gr, dalam sambutannya mengingatkan bahwa wisuda tahfidz bukanlah garis akhir, melainkan titik awal dari perjalanan panjang bersama Alqur’an.

“Yang paling penting bukan berapa juz yang dihafal, tetapi apakah Alqur’an itu telah hidup dalam hati, menjadi cahaya dalam pikiran, dan menjadi akhlak dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa tantangan terbesar ke depan adalah menjaga kecintaan terhadap Alqur’an di tengah dunia yang penuh distraksi. Mengutip firman Allah SWT dalam QS. Al-Isra ayat 9, ia menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk menuju jalan yang paling lurus.

Selain itu, ia juga mengingatkan sabda Rasulullah SAW bahwa sebaik-baik manusia adalah yang belajar Alqur’an dan mengajarkannya. Hal ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan sejati bukan hanya pada kecerdasan akademik, tetapi pada keimanan, akhlak, dan kedekatan kepada Allah SWT.

Dalam refleksi yang lebih luas, ia juga mengutip pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan, bahwa tugas pendidik adalah menuntun tumbuhnya potensi anak sesuai kodratnya, bukan menentukan jalan hidup mereka secara sepihak.

“Pada akhirnya, yang akan dikenang bukanlah seberapa banyak hafalan, tetapi seberapa besar Alqur’an mengubah cara hidup dan memberi manfaat bagi sesama,” tuturnya.

Wisuda tahfidz ini menjadi momentum penuh makna—bukan hanya sebagai seremoni kelulusan, tetapi sebagai pengingat akan tanggung jawab besar untuk menjaga dan mengamalkan Al-Qur’an sepanjang hayat. Harapannya, para wisudawan dapat tumbuh menjadi generasi Qur’ani yang cerdas, berakhlak mulia, dan mampu menjadi cahaya bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa. (Chaidir)