SLEMAN – Suasana meriah dan penuh semangat, kreativitas, serta kepedulian terhadap lingkungan terasa begitu kuat dalam kegiatan Assembly Kelas 4 Green Generation bertema “Turning Waste into Wonder” yang diselenggarakan oleh SD Islam Al Azhar 31 Yogyakarta.
Acara yang berlangsung di Auditorium Al Hafidh Kampus 1 Al Azhar Yogyakarta World Schools pada Kamis (21/5/2026) tersebut sukses menghadirkan penampilan memukau dari para murid kelas 4 di hadapan orang tua dan para tamu undangan.
Tema “Turning Waste into Wonder” sendiri memiliki arti “Mengubah Sampah Menjadi Karya Menakjubkan”. Melalui tema ini, para murid diajak memahami bahwa barang-barang bekas dan sampah yang sering dianggap tidak berguna ternyata dapat diolah menjadi sesuatu yang indah, kreatif, bernilai, bahkan menginspirasi banyak orang. Pesan inilah yang menjadi ruh utama dalam seluruh rangkaian penampilan para siswa.
Sejak awal acara dimulai, suasana auditorium sudah dipenuhi antusiasme para orang tua murid yang hadir untuk menyaksikan penampilan putra-putri mereka. Tepuk tangan dan senyum bangga terus mengiringi setiap penampilan yang ditampilkan di atas panggung. Para murid tampil percaya diri membawakan berbagai pertunjukan kreatif yang sarat pesan tentang cinta lingkungan dan semangat menjaga bumi sejak usia dini.
Acara berlangsung sangat meriah dengan beragam penampilan menarik dari para siswa. Mulai dari tarian-tarian yang enerjik dan memukau, presentasi tentang pentingnya menjaga lingkungan, hingga pentas menyanyi yang berhasil menghidupkan suasana auditorium. Seluruh rangkaian acara dikemas secara kreatif sehingga membuat para penonton terpukau dan menikmati setiap momen yang ditampilkan oleh para murid.
Yang paling mencuri perhatian adalah penampilan kostum para murid yang begitu unik dan penuh warna. Di atas panggung, siswa-siswi mengenakan pakaian bernuansa lingkungan, kostum bertema generasi hijau, hingga pakaian adat Nusantara yang menambah semarak suasana. Beberapa kostum bahkan memanfaatkan bahan daur ulang dan barang bekas yang diolah menjadi busana kreatif dan menarik. Penampilan tersebut menjadi simbol bahwa kreativitas dapat lahir dari hal-hal sederhana yang sering dianggap tidak bernilai.
Tidak hanya menjadi ajang pertunjukan seni, assembly ini juga menjadi bagian dari pendidikan karakter yang diterapkan oleh SD Islam Al Azhar 31 Yogyakarta. Para murid belajar tentang pentingnya menjaga lingkungan, bekerja sama, tampil percaya diri, serta berani mengekspresikan ide-ide kreatif mereka di depan banyak orang. Nilai-nilai kepedulian sosial dan tanggung jawab terhadap bumi juga ditanamkan melalui kegiatan yang dikemas secara menyenangkan dan edukatif.
Riuhnya Tabola Bale
Puncak kemeriahan acara terjadi saat seluruh murid menampilkan flashmob spektakuler di penghujung acara dengan membawakan lagu daerah yang energik dari Flores, Nusa Tenggara Timur, berjudul Tabola Bale. Irama lagu yang ceria dan penuh semangat langsung menghidupkan suasana auditorium. Tidak hanya para murid, para orang tua yang menyaksikan pun ikut terlarut dalam alunan musik dan gerakan yang ditampilkan. Tepuk tangan, senyum bahagia, dan semangat kebersamaan memenuhi ruangan hingga acara ditutup dengan suasana hangat dan penuh kegembiraan.
Melalui kegiatan ini, Al Azhar Yogyakarta World Schools kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga membangun karakter, kreativitas, dan kepedulian lingkungan bagi generasi masa depan. Assembly Green Generation ini menjadi bukti bahwa anak-anak mampu menjadi agen perubahan sejak dini, dimulai dari langkah kecil seperti mencintai lingkungan dan mengubah sampah menjadi karya yang penuh makna.
Sorak tepuk tangan yang menggema di Auditorium Al Hafidh pun menjadi penutup manis dalam acara tersebut. Bagi para orang tua, momen ini bukan hanya sekadar pertunjukan sekolah, melainkan juga kebanggaan melihat anak-anak tumbuh menjadi generasi yang kreatif, peduli lingkungan, dan berani menunjukkan potensi terbaik mereka.
Apresiasi
Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Akademik Badan Pengelola dan Pelaksana Harian (BPPH) Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS), Suhartini MPd, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan rasa bangga atas terselenggaranya kegiatan Assembly kelas 4 yang mengusung tema “Green Generation”.
Menurut Suhartini, tema ini sangat relevan dan penuh makna. Generasi hijau merupakan generasi yang tidak hanya memiliki kesadaran, tetapi juga mampu mengambil peran aktif dalam menjaga bumi dan lingkungan. Ia menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan saat ini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sudah menjadi tanggung jawab bersama.
Lebih lanjut disampaikan bahwa pendidikan tentang kepedulian lingkungan perlu ditanamkan sejak usia dini. Dimulai dari hal-hal kecil dan sederhana, namun dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan. Melalui kegiatan ini, anak-anak tidak hanya belajar teori di dalam kelas, tetapi juga belajar menghadirkan solusi melalui karya nyata.
Suhartini juga mengapresiasi kreativitas murid-murid dalam mengolah barang bekas menjadi produk yang bernilai guna. Barang yang sebelumnya dianggap tidak berguna, mampu disulap menjadi karya yang kreatif, indah, bahkan memiliki nilai ekonomis. Hal ini, menurutnya, merupakan bentuk pembelajaran karakter yang sesungguhnya.
Berbagai karya yang ditampilkan, seperti tote bag, eco-clip, pot tanaman dari galon bekas, gantungan kunci dari tutup botol, bros, jepit rambut, hingga lampu hias dari botol bekas, menjadi bukti bahwa anak-anak dilatih untuk mengembangkan kreativitas, kepedulian lingkungan, sekaligus jiwa kewirausahaan.
Ia menambahkan bahwa proses pembelajaran seperti ini sangat penting dalam membentuk karakter anak agar tidak menjadi generasi yang konsumtif, tetapi justru menjadi generasi yang kreatif, cermat, dan produktif.
Suhartini juga menekankan bahwa keberhasilan pendidikan tidak dapat terwujud tanpa sinergi antara sekolah dan keluarga. Oleh karena itu, pihak sekolah menyampaikan terima kasih atas dukungan dan kepercayaan dari para orang tua kepada Al Azhar Yogyakarta World Schools.
Ia berharap nilai-nilai positif yang ditanamkan di sekolah dapat terus diperkuat di lingkungan keluarga, sehingga anak-anak tumbuh menjadi generasi yang cerdas secara intelektual, kuat dalam akhlak, serta memiliki kepedulian sosial dan lingkungan.
Menutup pernyataannya, Suhartini berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi seremonial, tetapi benar-benar mampu memberikan pemahaman kepada anak-anak tentang pentingnya memanfaatkan barang bekas menjadi sesuatu yang bernilai dan bermanfaat bagi kehidupan.
Memberi Ruang
Menurut Wakil Kepala Satuan Pendidikan SD Islam Al Azhar 31 Yogyakarta, Farad Abdul Rahman, beberapa pekan sebelumnya sekolah telah sukses menggelar kegiatan assembly kelas 1 dan kelas 2. Kini, giliran murid-murid kelas 4 menampilkan karya terbaik mereka sebagai wujud kreativitas dan pengembangan potensi diri.
Farad menjelaskan, sekolah terus memberikan ruang dan kesempatan kepada para murid untuk berkembang, khususnya dalam bidang kreativitas, baik melalui gerak, lagu, tarian, hingga berbagai karya inovatif lainnya. Pada assembly kali ini, kelas 4 mengangkat tema “Green Generation: Turning Waste into a Garden”, yang mengusung pesan penting tentang bagaimana limbah atau sampah dapat diolah menjadi sesuatu yang bernilai dan bermanfaat.
Menurutnya, tema tersebut sangat positif karena tidak hanya mengajarkan anak-anak untuk mencintai bumi dan menjaga lingkungan, tetapi juga melatih jiwa kewirausahaan sejak dini. Anak-anak diajak memahami bahwa barang bekas yang sering dianggap tidak berguna ternyata dapat diolah menjadi produk kreatif yang memiliki nilai estetika bahkan nilai jual.
“Meski dimulai dari langkah kecil oleh anak-anak, kami berharap kegiatan ini mampu menanamkan kepedulian terhadap lingkungan yang terus tumbuh dan berkembang dalam diri mereka,” ungkap Farad.
Dalam kegiatan tersebut, para murid diajak berkreasi menggunakan berbagai bahan bekas. Mereka belajar mengolah kembali barang-barang yang sudah tidak terpakai menjadi produk baru melalui beragam aktivitas kreatif dan edukatif.
Berbagai hasil karya murid pun ditampilkan dalam assembly tersebut. Di antaranya, tutup botol air mineral bekas yang disulap menjadi gantungan kunci dan jepit rambut, botol plastik bekas yang diubah menjadi lampu hias, hingga hiasan dinding menarik yang dibuat dari tutup botol bekas.
Farad menegaskan, gerakan cinta lingkungan ini diharapkan tidak berhenti hanya pada kegiatan assembly semata. Lebih dari itu, kegiatan ini diharapkan menjadi awal dari kebiasaan baik yang terus dilakukan oleh murid kelas 4 maupun seluruh warga sekolah.
“Mencintai dan peduli terhadap lingkungan merupakan langkah besar menuju terwujudnya green school,” pungkasnya. (Chaidir)






