Warning: touch(): Utime failed: Operation not permitted in /www/wwwroot/ayws.sch.id/wp-admin/includes/class-wp-filesystem-direct.php on line 529
Hafidh Asrom: Pendidikan Tak Cukup di Sekolah, Peran Orang Tua Sangat Menentukan - AYWS - Al Azhar Yogyakarta World Schools

Hafidh Asrom: Pendidikan Tak Cukup di Sekolah, Peran Orang Tua Sangat Menentukan

WONOSARI – Ketua Yayasan Asram/BPPH AYWS, Drs HA Hafidh Asrom MM, menekankan pentingnya sinergi antara sekolah dan orang tua dalam membentuk karakter dan masa depan anak.

Hal tersebut disampaikannya dalam Haflah Akhirussanah KB-TK Islam Al Azhar 55 Wonosari yang digelar di Ballroom Hotel Santika Wonosari, Kamis (14/5/2026). Hadir dalam acara tersebut pejabat Pemkab Gunjungkidul, Kepala Kepala Kantor Kemenag Dr Mukotif, dan para orang tua murid.

Dalam sambutannya, Hafidh Asrom menyampaikan apresiasi kepada para orang tua yang telah mempercayakan pendidikan putra-putrinya kepada KB-TK Islam Al Azhar 55 Wonosari. Ia menyebut kepercayaan tersebut sebagai amanah besar yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab.

“Ini adalah kehormatan bagi kami. Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak dan Ibu yang telah mempercayakan pendidikan anak-anaknya kepada kami,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa tanggung jawab utama pendidikan tetap berada di tangan orang tua. Menurutnya, waktu anak di sekolah relatif terbatas dibandingkan dengan waktu yang dihabiskan di lingkungan keluarga.

“Anak-anak mungkin hanya sekitar empat jam berada di sekolah, sedangkan sekitar 20 jam lainnya mereka berada di rumah. Oleh karena itu, keberhasilan pendidikan adalah hasil kolaborasi antara sekolah dan orang tua,” tegasnya.

Ia juga menjelaskan bahwa salah satu indikator keberhasilan pendidikan dapat dilihat dari keberanian anak dalam mengingatkan orang tuanya, baik dalam hal ibadah maupun kedisiplinan sehari-hari.

“Ketika anak sudah berani mengingatkan orang tuanya, misalnya tentang waktu salat atau aturan lalu lintas, itu menunjukkan bahwa nilai-nilai yang diajarkan telah tertanam dengan baik,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Hafidh turut memaparkan perkembangan Al Azhar di wilayah Yogyakarta. Sejak berdiri pada tahun 2005, lembaga pendidikan tersebut terus berkembang dan hingga kini telah memiliki sekitar 19 unit sekolah yang tersebar di berbagai daerah, seperti Sleman, Bantul, dan Wonosari.

Ia menambahkan, salah satu keunggulan Al Azhar di Wonosari adalah keberadaan pondok pesantren yang menjadi bagian dari penguatan pendidikan berbasis nilai keagamaan. Hal ini, menurutnya, menjadi kebanggaan tersendiri di antara ratusan sekolah Al Azhar di Indonesia.

Hafidh menegaskan bahwa pihaknya terus melakukan inovasi dalam bidang pendidikan untuk menjawab tantangan global. Salah satu langkah strategis yang tengah dipersiapkan adalah penerapan kurikulum internasional, yakni International Baccalaureate (IB), yang dikenal sebagai salah satu kurikulum terbaik di dunia.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, pada 21 April 2024, pihak yayasan telah menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi di Amerika Serikat. Kerja sama ini tidak hanya bersifat formal, tetapi juga diwujudkan melalui kehadiran mahasiswa tingkat akhir dan profesor dari luar negeri yang turut berkontribusi dalam peningkatan kualitas pembelajaran.

“Program ini terus kami lanjutkan secara berkala, termasuk menghadirkan tenaga pendidik internasional untuk meningkatkan kemampuan guru, khususnya dalam penguasaan bahasa asing dan wawasan global,” jelasnya.

Sejak tahun 2017, Al Azhar Yogyakarta juga telah merintis konsep sekolah berstandar internasional dengan membuka kesempatan bagi siswa untuk berinteraksi langsung dengan penutur asing dari berbagai negara, termasuk Australia. Upaya ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi, keberanian, serta kepercayaan diri siswa dalam berbahasa internasional.

Ke depan, pihak yayasan bahkan menyiapkan pembelajaran delapan bahasa asing, di antaranya Bahasa Inggris, Bahasa Arab, Jepang, Jerman, Perancis, China dan beberapa bahasa internasional lainnya sebagai bekal menghadapi persaingan global.

Tidak hanya berfokus pada aspek akademik dan bahasa, Hafidh menyampaikan bahwa pihaknya juga mengadopsi konsep pendidikan berbasis karakter yang terinspirasi dari sistem pendidikan Finlandia. Pendekatan ini menitikberatkan pada pembentukan karakter, kedisiplinan, kebersihan, serta kedekatan dengan alam.

Implementasi konsep tersebut diwujudkan melalui program pembelajaran berbasis alam (nature-based education). Dalam program ini, siswa tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi juga terlibat langsung dalam berbagai aktivitas, seperti menanam, merawat tanaman, memanen, hingga memasarkan hasilnya.

“Melalui kegiatan tersebut, anak-anak belajar tanggung jawab, kemandirian, dan keterampilan hidup sejak dini,” ujarnya.

Untuk mendukung program tersebut, Yayasan Asram juga telah menyiapkan kawasan edukasi terpadu seluas sekitar 12 hektare. Kawasan ini dilengkapi berbagai fasilitas pembelajaran, seperti area outbound, kegiatan api unggun, edukasi lingkungan di kawasan sungai, serta penginapan berupa villa dan cottage dengan kapasitas ratusan orang.

Menurut Hafidh, fasilitas tersebut tidak hanya berfungsi sebagai sarana pendukung, tetapi juga sebagai media pembelajaran langsung bagi siswa agar dapat belajar dari pengalaman nyata.

Ia menambahkan, kawasan tersebut juga telah dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan resmi oleh sejumlah instansi pemerintah dan kementerian.

Di akhir sambutannya, Hafidh menegaskan komitmen yayasan untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan guna mencetak generasi yang unggul secara akademik, berkarakter kuat, serta memiliki wawasan global.

“Kami ingin menyiapkan anak-anak sebagai calon pemimpin masa depan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga tangguh dan berakhlak,” katanya.

Ia pun berharap dukungan dan doa dari seluruh pihak agar berbagai program dan inovasi yang telah dirancang dapat berjalan dengan baik dan memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat. (Chaidir)