- HAWS hadir di Magelang sebagai langkah memperkuat pendidikan bertaraf internasional dengan tetap berakar pada nilai keislaman.
- Konsep pendidikan global dikembangkan melalui perpaduan kurikulum nasional, Islam, Cambridge, IB, serta inspirasi sistem pendidikan Finlandia.
- Beasiswa Rp500 juta disiapkan untuk siswa SMP Magelang berprestasi dan membutuhkan, sebagai bentuk kepedulian terhadap akses pendidikan.
HAWS — Pendidikan bertaraf internasional tidak lagi harus dipandang sebagai sesuatu yang hanya tumbuh di kota-kota besar. Dari Magelang, Hafidh Asrom World Schools (HAWS) membawa gagasan untuk menghadirkan ekosistem pendidikan global yang tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman dan kebutuhan masyarakat Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Pendiri AYWS–HAWS, Drs HA Hafidh Asrom MM, saat menjadi pembicara dalam International Teacher Talkshow di Kampus HAWS Magelang, Minggu (9/8/2026).
Talkshow tersebut menghadirkan Dwi A Yuliantoro PhD (pakar sekolah internasional), serta Agung Widyantoro MPd (Kepala Satuan Pendidikan SMA Islam Al Azhar 9 Yogyakarta).
Acara turut dihadiri Ketua Yayasan Hafidh Asrom Yogyakarta Hj Eny Yustini SE, Wakil Ketua Yayasan Asram dr Ulinuha, para kepala satuan pendidikan seluruh unit AYWS, serta sejumlah kepala satuan pendidikan SD dari Kabupaten Magelang, Temanggung, dan Wonosobo.
Di hadapan para pendidik, Hafidh Asrom menegaskan bahwa kehadiran HAWS di Magelang bukan sekadar membuka lembaga pendidikan baru. Lebih dari itu, HAWS ingin mengambil bagian dalam membangun masa depan pendidikan di daerah yang memiliki posisi strategis dalam sejarah perjalanan bangsa.
Menurut Hafidh Asrom, Magelang memiliki posisi penting sebagai “pakunya Jawa”, bahkan “pakunya Indonesia”, sebagaimana pernah disampaikan Wali Kota Magelang.
“Banyak pemimpin nasional lahir dari Magelang, khususnya dari Akademi Militer. Karena itu, kami hadir di Magelang untuk memberikan dukungan,” ujarnya.
Ia menyebut kehadiran HAWS menjadi bagian dari kepedulian terhadap daerah asal. Terlebih, Ketua Yayasan Hafidh Asrom juga memiliki akar dari Magelang.
“Menurut Pak Wali Kota, ini merupakan sekolah internasional pertama di Magelang,” katanya.
Dua Dekade Membangun Pendidikan
Langkah HAWS di Magelang tidak lahir secara tiba-tiba, sebab hal ini terkait dengan Sejarah panjang dari lembaga pendididkan Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS). Hafidh Asrom mengungkapkan, sebelumnya perjalanan Yayasan Asram sebagai induk AYWS dalam dunia pendidikan telah berlangsung lebih dari dua dekade.
Selama 21 tahun, yayasan tersebut telah mendirikan 22 sekolah. Perjalanan itu, menurutnya, dilakukan secara konsisten dari tahun ke tahun hingga akhirnya berkembang menjadi sebuah institusi pendidikan dengan orientasi global.
Kini, peserta didik dalam ekosistem AYWS bahkan berasal dari sekitar 20 negara. “Ini menjadi kebanggaan kita semua. Dulu hanya beberapa negara seperti Turki, tetapi sekarang sudah berkembang dari Taiwan, Qatar, Rusia hingga berbagai negara lain,” ungkapnya.
Perkembangan tersebut, lanjut Hafidh Asrom, menunjukkan bahwa pendidikan yang dikembangkan AYWS telah mendapatkan perhatian tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di luar negeri.
Ia menyebut Malaysia sebagai salah satu negara yang mulai melihat dan mengikuti konsep serta strategi pendidikan yang dikembangkan AYWS. Karena itu, ia menilai identitas dan branding AYWS perlu dijaga. Menurutnya, sistem pendidikan yang telah dibangun melalui proses panjang harus memiliki identitas yang jelas dan pengakuan resmi agar tidak mudah ditiru begitu saja.
Transformasi Menuju Sekolah Global
Hafidh Asrom menjelaskan, gagasan membangun sistem pendidikan global sebenarnya telah dirancang sejak 2014. Kajian konsep dimulai pada 2014, dilanjutkan tahap persiapan pada 2016, kemudian mulai diimplementasikan pada 2017. Memasuki 2021, pengembangan tersebut mulai melahirkan berbagai unit pendidikan internasional, mulai dari taman kanak-kanak, sekolah dasar hingga boarding school.
“Perjalanan ini bukan instan. Sejak 2014 kita kaji, 2016 kita siapkan, 2017 mulai berjalan, dan 2021 mulai terlihat hasilnya dengan hadirnya sekolah-sekolah internasional,” jelasnya.
Transformasi tersebut kemudian membawa perubahan besar dalam identitas lembaga pendidikan yang selama ini dikembangkan.
Awalnya, unit-unit pendidikan berada di bawah naungan YPI Al Azhar. Setelah melalui berbagai diskusi, kemudian dilakukan diferensiasi untuk membangun identitas pendidikan yang lebih spesifik dan memiliki arah pengembangan global.
“Karena ingin menghadirkan sesuatu yang berbeda, akhirnya kami membangun yayasan baru. Ini bagian dari legacy yang ingin saya tinggalkan,” ujarnya.
Tonggak baru tersebut ditandai dengan berdirinya Yayasan Hafidh Asrom Yogyakarta pada 2025.
Nama Yogyakarta tetap dipertahankan sebagai bagian dari identitas yayasan. Bagi Hafidh Asrom, Yogyakarta memiliki posisi kuat sebagai salah satu pusat pendidikan nasional sekaligus daerah dengan status keistimewaan.
Dari sinilah kemudian konsep Hafidh Asrom World Schools (HAWS) dikembangkan sebagai sebuah sistem pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada sekolah, tetapi membangun ekosistem pendidikan secara lebih luas.
Pendidikan Sepanjang Hayat
Salah satu gagasan besar yang sedang dikembangkan adalah konsep pendidikan sepanjang hayat. Pendidikan tidak berhenti ketika seseorang lulus sekolah. Ekosistem pendidikan dirancang untuk mendampingi manusia dalam berbagai fase kehidupannya, mulai dari persiapan sebelum menikah, pendidikan anak, hingga program untuk lanjut usia.
“Kami menyiapkan ekosistem pendidikan dari sebelum menikah, punya anak, hingga lansia. Bahkan sekolah lansia akan kami buka dalam waktu dekat,” ungkap Hafidh Asrom.
Konsep tersebut menunjukkan bahwa pendidikan bagi AYWS-HAWS bukan semata-mata aktivitas belajar di dalam ruang kelas, tetapi bagian dari proses membangun manusia sepanjang kehidupannya.
Mandarin School
Pengembangan juga diarahkan ke Gunungkidul. HAWS tengah menyiapkan kawasan pendidikan baru di atas lahan sekitar 16 hektare. Kawasan tersebut diproyeksikan menjadi salah satu pusat pengembangan pendidikan masa depan, termasuk rencana menghadirkan Mandarin School.
Menurut Hafidh Asrom, penguasaan bahasa dan pemahaman terhadap dinamika global menjadi semakin penting. Ia melihat China akan memainkan peran yang semakin besar dalam percaturan dunia.
“Ke depan, dunia akan banyak dipengaruhi oleh China. Maka kita harus siap, bukan hanya menjadi penonton, tetapi pelaku,” tegasnya.
Meramu Sistem Pendidikan Dunia
Dalam membangun sistem pendidikan, HAWS tidak mengambil satu model secara mentah. Berbagai pendekatan pendidikan terbaik dunia dipelajari dan kemudian disesuaikan dengan kebutuhan Indonesia.
Hafidh Asrom menyebut Finlandia sebagai salah satu rujukan dalam pengembangan pendidikan umum. Sementara itu, nilai-nilai keislaman yang dikembangkan mengambil inspirasi dari berbagai pengalaman pendidikan Islam di dunia, termasuk Turki yang dinilainya memiliki pendekatan lebih inklusif dan terbuka.
Selain kurikulum nasional dan kurikulum Islam, AYWS-HAWS juga mengintegrasikan kurikulum internasional seperti Cambridge dan International Baccalaureate (IB).
Tenaga pendidik dengan pengalaman internasional juga menjadi bagian dari strategi tersebut. Bahkan, HAWS menghadirkan pendidik yang memiliki pengalaman dan latar belakang pendidikan dari Finlandia sebagai salah satu rujukan dalam pengembangan sistem pembelajaran modern.
“Kami ingin menghadirkan pendidikan yang berbeda. Bukan sekadar sekolah, tetapi pengalaman belajar terbaik seperti berada di lingkungan berkelas dunia,” kata Hafidh Asrom.
Konsep itu juga diterjemahkan melalui penyediaan fasilitas pendidikan dengan standar tinggi. Ia menggambarkan fasilitas sekolah yang dikembangkan HAWS memiliki kenyamanan layaknya hotel berbintang, sehingga lingkungan belajar dapat memberikan pengalaman positif bagi peserta didik.
Rp500 Juta untuk Beasiswa Siswa Magelang
Di tengah ambisi membangun pendidikan bertaraf global, HAWS juga menaruh perhatian pada akses pendidikan masyarakat sekitar. Untuk tahun ajaran mendatang, HAWS menyiapkan program beasiswa senilai Rp500 juta khusus untuk jenjang SMP. Beasiswa tersebut diperuntukkan bagi siswa berprestasi yang membutuhkan dukungan pembiayaan pendidikan.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya HAWS agar pendidikan berkualitas tidak hanya dinikmati oleh mereka yang memiliki kemampuan ekonomi, tetapi juga dapat diakses oleh anak-anak berpotensi dari masyarakat Magelang.
Bagi Hafidh Asrom, membangun sekolah bukan sekadar membangun gedung dan menghadirkan fasilitas modern. Pendidikan harus memiliki misi yang lebih panjang: menyiapkan generasi yang mampu menghadapi perubahan dunia tanpa kehilangan akar nilai yang dimilikinya.
Karena itu, pengembangan AYWS–HAWS diarahkan untuk terus melahirkan inovasi pendidikan, baik di tingkat nasional maupun global.
“Ini bukan sekadar membangun sekolah, tetapi membangun peradaban melalui pendidikan,” ujarsnya.
Dari Magelang, langkah itu kini dimulai. HAWS membawa semangat kolaborasi, inovasi, dan kepedulian terhadap masa depan pendidikan dengan harapan dapat menjadikan Magelang bukan hanya sebagai kota yang melahirkan para pemimpin, tetapi juga sebagai salah satu titik penting lahirnya generasi berkelas dunia. (Chaidir)






