- Setiap kelas didampingi dua homeroom teacher yang mengawal seluruh aktivitas siswa, baik belajar maupun bermain.
- Pendampingan intensif menciptakan lingkungan belajar yang aman, terarah, dan lebih efektif.
- Model ini memperkuat pembentukan karakter, kemandirian, dan kedekatan guru dengan siswa.
AYWS – Al Azhar 55 Islamic Primary School Yogyakarta menggelar kegiatan Parents Meeting di Tower 2 Kampus Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS), Jumat (10/7/2026). Kegiatan ini menjadi momentum awal untuk memperkuat sinergi antara sekolah dan orang tua dalam mendidik siswa.
Kepala Satuan Pendidikan Al Azhar 55 Islamic Primary School Yogyakarta, Miftakhur Risal MA, menyampaikan bahwa jumlah peserta didik pada tahun ajaran ini mencapai 77 anak yang terbagi ke dalam empat kelas. Dengan jumlah kurang dari 20 siswa per kelas, suasana belajar dinilai lebih kondusif dan efektif.
Setiap kelas, lanjut Risal, juga didampingi oleh dua guru kelas (homeroom teacher) yang secara intensif membersamai siswa dalam seluruh aktivitas belajar.
“Konsep pendampingan ini berbeda dengan model sekolah dasar pada umumnya. Di sini, anak-anak tetap dalam pengawasan, baik saat belajar maupun bermain, sehingga tercipta lingkungan yang aman dan terarah,” jelasnya.
Ia juga menyampaikan rasa syukur atas kelancaran proses Penerimaan Murid Baru yang berlangsung sejak Oktober 2025 hingga Mei 2026, serta adanya tambahan sembilan siswa pindahan dari kelas 2 hingga kelas 5.
Pihak sekolah menekankan pentingnya kemitraan antara sekolah dan orang tua. Hal ini sejalan dengan tema pertemuan, yakni membangun kerja sama dalam membentuk generasi yang mandiri dan bertanggung jawab.
Pada sesi pemaparan, Risal menjelaskan bahwa terdapat tiga kurikulum utama yang diterapkan, yaitu Kurikulum Cambridge, Kurikulum Nasional, dan Kurikulum Jaringan Yayasan Pesantren Islam Al-Azhar. Melalui lisensi resmi Cambridge, sekolah tidak hanya menggunakan buku, tetapi juga menyelenggarakan pembelajaran dan ujian berstandar internasional hingga penerbitan sertifikat di akhir jenjang.
Capaian akademik siswa pun menunjukkan hasil yang membanggakan. Nilai rata-rata siswa dalam Cambridge Checkpoint Test berada di atas rata-rata internasional, bahkan banyak yang meraih kategori Outstanding, khususnya pada mata pelajaran Science, English, dan Mathematics.
Selain fokus pada akademik, Risal juga menekankan penguatan keterampilan abad 21, seperti berpikir kritis dan kreatif melalui berbagai proyek berbasis riset. Di antaranya pembuatan casing telepon berbahan serat alami serta alat pendeteksi kata “tidak pantas’ yang dikembangkan dalam kegiatan STEM.
Sebagai sekolah berbasis Islam, kata Risal, SD Islam Al Azhar 55 Internasional juga mengintegrasikan pendidikan karakter dan keagamaan, termasuk program hafalan Alquran minimal satu juz sebagai syarat kelulusan, serta pembelajaran membaca Alquran menggunakan metode Tilawati.
Dalam proses pembelajaran, sekolah menerapkan pendekatan kontekstual dengan penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Metode ini dinilai efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa tanpa bergantung pada terjemahan.
Selain itu, menerapkan sistem penilaian berkelanjutan tanpa ujian besar seperti UTS atau PAS. Penilaian dilakukan melalui berbagai metode, seperti proyek, presentasi, dan student-led conference yang dilaksanakan setiap tiga bulan.
Untuk mendukung perkembangan siswa secara menyeluruh, sekolah menyediakan berbagai kegiatan ekstrakurikuler, layanan bimbingan konseling, serta program penguatan karakter melalui kegiatan seperti weekly plan, “no backpack day”, dan kegiatan sosial.
Melalui kegiatan ini, pihak sekolah berharap terjalin komunikasi yang terbuka dan kolaboratif antara sekolah dan orang tua, sehingga proses pendidikan dapat berjalan secara optimal.
“Kami ingin membentuk peserta didik yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter islami, mandiri, dan mampu beradaptasi di tingkat global,” kata Miftakhur Risal. (Chaidir)






