Bagian Ketiga (Habis)
- Berani menerima tantangan. Dedi Priyatno bertransformasi dari pustakawan menjadi tenaga marketing dan humas meski tanpa latar belakang di bidang tersebut, dengan mengandalkan kemauan belajar dan semangat berkembang.
- Membangun inovasi komunikasi. Ia mengembangkan Majalah Digital Al Azhar, aktif menulis berita untuk website AYWS, memenangkan sayembara logo Milad ke-20 AYWS, serta mencetuskan program SIJAYA sebagai ruang silaturahmi antara yayasan, sekolah, dan wali murid.
- Kepercayaan sebagai pencapaian terbesar. Bagi Dedi, penghargaan bukanlah prestasi utama. Kepercayaan yang diberikan pimpinan untuk mengemban berbagai amanah menjadi motivasi untuk terus belajar, berkarya, dan mengabdi bagi dunia pendidikan.
HIDUP sering kali membawa seseorang ke tempat yang sama sekali tidak pernah ia rencanakan. Begitulah yang dialami Dedi Priyatno. Jika pada awal kariernya ia begitu akrab dengan rak-rak buku dan dunia literasi, perjalanan hidup kemudian mengantarkannya memasuki ruang yang sama sekali berbeda yaitu dunia pemasaran dan komunikasi.
Sekitar tahun 2017, Al Azhar Yogyakarta World Schools mulai memperkuat strategi promosi untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas. Saat itulah Dedi mendapat kepercayaan bergabung dalam tim marketing. Penugasan itu datang begitu saja. Ia tidak pernah melamar sebagai tenaga pemasaran, bahkan tidak pernah membayangkan akan bekerja di bidang tersebut.
“Saya sama sekali tidak punya pengalaman di bidang marketing,” kenangnya.
Sebagai lulusan Ilmu Perpustakaan, ia merasa dunia marketing begitu jauh dari bidang yang selama ini digelutinya. Selama bertahun-tahun ia terbiasa mengelola koleksi buku, menyusun sistem perpustakaan, dan membangun budaya literasi. Kini ia harus belajar memperkenalkan sekolah kepada masyarakat, melakukan presentasi di depan calon orang tua, menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, hingga melakukan perjalanan ke berbagai kota seperti Surabaya, Bandung, dan Cilacap untuk mengenalkan program-program Al Azhar.
Semuanya merupakan pengalaman baru. Tidak ada bekal teori yang cukup. Tidak ada pengalaman sebelumnya. Yang dimiliki hanyalah kemauan untuk belajar dan keberanian menerima tantangan.
Di situlah Dedi mulai menyadari bahwa setiap pengalaman yang pernah ia jalani ternyata saling berkaitan. Ketelitian yang ia pelajari sebagai pustakawan membantunya menyusun strategi kerja yang sistematis. Kemampuan mendengar kebutuhan orang lain menjadi modal saat berhadapan dengan calon orang tua siswa. Sementara kebiasaannya membaca membuatnya lebih mudah memahami berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat dalam memilih sekolah.
Perluas Pengabdian
Baginya, perpindahan bidang bukan berarti meninggalkan jati diri, melainkan memperluas cara mengabdikan kemampuan yang dimiliki.
Tidak berselang lama, kepercayaan lain kembali datang. Di bawah kepemimpinan Wakil Ketua Bidang Sekretariatan BPPH Al Azhar Yogyakarta, Zulfi Fuad Tamyiz, saat itu, Dedi diminta membantu menjalankan fungsi kehumasan di lingkungan Badan Pelaksana Pendidikan Harian Al Azhar Yogyakarta World Schools.
Kepercayaan itu justru membuatnya semakin ragu.
“Saya sebenarnya berpikir humas itu seharusnya diisi oleh orang yang memang berlatar belakang Public Relations.”
Keraguan tersebut muncul karena ia merasa bukan orang yang paling tepat. Namun, pimpinan memiliki pandangan berbeda. Menurut mereka, kemampuan komunikasi dapat dipelajari, sedangkan kemauan untuk terus berkembang adalah modal yang jauh lebih penting.
Kalimat sederhana itu perlahan mengubah cara pandang Dedi terhadap dirinya sendiri. Ia mulai memahami bahwa setiap kepercayaan selalu membawa konsekuensi untuk terus belajar.
Pada masa-masa awal, tugas marketing dan humas masih berjalan beriringan. Ia masih membantu kegiatan promosi sekolah, mendampingi berbagai agenda pemasaran, sekaligus mulai mengelola komunikasi lembaga. Seiring berjalannya waktu, ia semakin memahami bahwa humas memiliki ruang kerja yang jauh lebih luas daripada sekadar promosi.
Marketing mengajak orang untuk mengenal sekolah. Humas membangun alasan agar masyarakat percaya kepada sekolah. Perbedaan itu sederhana, tetapi sangat mendasar.
Menurut Dedi, humas bukan hanya bertugas menyampaikan informasi. Humas adalah wajah lembaga yang menjaga hubungan baik dengan masyarakat, memastikan setiap program dipahami publik, serta mendokumentasikan perjalanan sebuah institusi agar menjadi bagian dari sejarah yang dapat dikenang.
Majalah Digital dan Menulis
Pemahaman itulah yang kemudian melahirkan berbagai gagasan baru. Salah satunya adalah pengembangan Majalah Digital Al Azhar. Ketika melihat belum adanya media yang secara rutin mendokumentasikan berbagai aktivitas sekolah dalam satu wadah, Dedi berinisiatif mengembangkan majalah digital sebagai sarana publikasi. Melalui media tersebut, berbagai cerita dari setiap unit sekolah dapat dihimpun menjadi satu narasi besar tentang perjalanan Al Azhar Yogyakarta World Schools.
Di saat yang sama, ia juga mulai aktif menulis berita untuk website resmi AYWS. Semua kemampuan itu dipelajarinya secara otodidak. Ia membaca berbagai referensi, mengamati gaya penulisan media, lalu mencoba menuliskannya kembali dengan pendekatan yang sesuai dengan dunia pendidikan.
Dari pengalaman tersebut, ia menyadari bahwa menulis berita sekolah memiliki tantangan tersendiri. Seorang penulis tidak cukup hanya menerima laporan dari orang lain. Ia harus hadir di lokasi, menyaksikan sendiri setiap peristiwa, berbincang dengan para pelaku, lalu merangkainya menjadi sebuah cerita yang utuh.
“Kalau tidak datang langsung, kita sulit menangkap ceritanya.”
Prinsip itu terus ia pegang hingga sekarang. Baginya, setiap berita bukan sekadar laporan kegiatan, melainkan catatan sejarah yang kelak akan menjadi memori sebuah lembaga.
Selain menulis, sisi kreativitas Dedi juga semakin berkembang. Kegemarannya menggambar sejak kecil membawanya belajar desain grafis secara mandiri. Ia menghabiskan banyak waktu mempelajari berbagai perangkat lunak desain, mencoba berbagai konsep visual, dan terus mengasah kemampuan melalui latihan.
Juara Lomba Logo
Kesempatan menunjukkan kemampuan tersebut datang ketika AYWS mengadakan Sayembara Desain Logo dalam rangka Milad ke-20. Dedi ikut mengirimkan karyanya tanpa ekspektasi tinggi. Ia bahkan merasa banyak peserta lain memiliki desain yang lebih menarik.
Namun, ada satu hal yang menjadi keunggulannya. Selama bertahun-tahun bekerja di lingkungan Al Azhar, ia memahami karakter lembaga, mengenal filosofi yang ingin dibangun, hingga mengetahui preferensi visual para pimpinan.
Ia memilih memadukan warna emas dan biru. Warna emas melambangkan cita-cita tinggi dan semangat untuk terus berkembang, sedangkan warna biru mencerminkan kepercayaan, profesionalitas, dan integritas. Perpaduan keduanya diharapkan mampu menggambarkan AYWS sebagai lembaga pendidikan yang terus bertumbuh dengan visi besar.
Desain tersebut akhirnya terpilih sebagai pemenang. Namun, bagi Dedi, kemenangan itu bukan sekadar soal lomba. Lebih dari itu, ia memaknainya sebagai bentuk kepercayaan bahwa gagasannya dipercaya mewakili identitas sebuah lembaga pendidikan.
Cetuskan SIJAYA
Kepercayaan serupa kembali ia rasakan ketika dipercaya menjadi koordinator SIJAYA (Silaturahmi Jamiyah dan Yayasan). Program tersebut lahir dari pengamatannya bahwa hubungan antara yayasan dan wali murid perlu dibangun lebih dekat, tidak hanya melalui aktivitas akademik, tetapi juga melalui ruang silaturahmi yang lebih terbuka.
Dengan mencetuskan SIJAYA, yayasan, sekolah, jamiyah, dan para orang tua dipertemukan dalam sebuah forum yang hangat dan penuh dialog. Pelaksanaan perdananya berhasil menghadirkan sekitar 400 peserta, meskipun berlangsung pada masa liburan sekolah. Kesuksesan tersebut tidak datang dengan mudah. Persiapan dilakukan jauh hari, bahkan panitia beberapa kali harus menginap demi memastikan seluruh rangkaian acara berjalan sesuai rencana.
Bagi Dedi, pengalaman tersebut mengajarkan bahwa sebuah program yang baik tidak pernah lahir dari kerja satu orang. Ia tumbuh melalui kolaborasi, saling percaya, dan kesediaan banyak orang untuk bekerja bersama demi tujuan yang sama.
Kini, setelah lebih dari satu dekade menjalani berbagai peran, Dedi sering ditanya mengenai pencapaian yang paling membanggakan. Sebagian orang mungkin mengira jawabannya adalah keberhasilan meraih Juara II Lomba Perpustakaan tingkat DIY, memenangkan sayembara desain logo, atau dipercaya menjadi humas.
Namun, jawaban yang ia berikan justru sangat sederhana. “Yang paling membanggakan bagi saya bukan penghargaan, tetapi kepercayaan.”
Kalimat itu menjadi benang merah dari seluruh perjalanan hidupnya. Hampir setiap fase kariernya selalu diawali oleh kepercayaan orang lain. Kepercayaan menjadi pustakawan, menjadi koordinator perpustakaan, mengembangkan sistem digital, menyusun buku pedoman, bergabung dalam tim marketing, mengemban tugas kehumasan, hingga memimpin berbagai kegiatan strategis.
Semua kepercayaan itu tidak pernah ia balas dengan ambisi mengejar jabatan. Ia menjawabnya dengan satu cara yang sama: terus belajar, bekerja dengan sungguh-sungguh, dan memberikan hasil terbaik.
Mungkin itulah yang membuat perjalanan Dedi Priyatno terasa begitu alami. Ia tidak pernah sibuk mencari posisi yang lebih tinggi. Ia justru sibuk mempersiapkan dirinya agar pantas menerima kepercayaan berikutnya.
Dan hingga hari ini, semangat itu tidak pernah berubah. Jika dahulu ia menghubungkan siswa dengan pengetahuan melalui perpustakaan, kini ia menghubungkan masyarakat dengan dunia pendidikan melalui komunikasi. Ruangnya memang berbeda, tetapi tujuan pengabdiannya tetap sama: menghadirkan manfaat bagi sebanyak mungkin orang. (Chaidir)






