Bagian Kelima

  • Menemukan panggilan hidup : Kegagalan masuk Akademi Militer membawanya menemukan makna pengabdian sebagai seorang guru.
  • Mengajar dengan hati : Setiap murid dipandang sebagai kesempatan untuk membimbing, menginspirasi, dan menumbuhkan karakter.
  • Guru sebagai cara hidup : Pengabdian dijalani dengan menyeimbangkan peran di sekolah dan keluarga demi memberi teladan bagi generasi muda.

SETIAP orang memiliki alasan mengapa ia bertahan dalam profesi yang dijalaninya. Ada yang bertahan karena pekerjaan, Ada yang bertahan karena karier, ada pula yang bertahan karena penghargaan.

Namun bagi Fajar Arif Herjayanto, alasan itu jauh lebih sederhana. Ia bertahan karena percaya bahwa menjadi guru adalah salah satu cara paling bermakna untuk menghadirkan manfaat bagi sesama. Keyakinan itu tidak lahir dalam ruang kelas. Justru ia datang pada sebuah pagi yang hingga kini masih tersimpan jelas dalam ingatannya.

Beberapa waktu setelah dinyatakan tidak lolos seleksi Akademi Militer, Fajar singgah di sebuah masjid di Semarang. Setelah menunaikan salat dhuha, ia melangkah keluar dengan hati yang masih dipenuhi berbagai pertanyaan tentang masa depan.  Saat itulah pandangannya tertuju kepada sekelompok anak-anak penyandang disabilitas yang sedang didampingi oleh para guru mereka.

Ia memperhatikan bagaimana para guru tersebut membimbing dengan penuh kesabaran. Tidak ada nada tinggi, tidak ada wajah lelah yang diperlihatkan. Yang terlihat justru ketulusan. Anak-anak itu dibimbing satu per satu, diperlakukan dengan penuh kasih sayang, seolah setiap langkah kecil yang mereka capai adalah kemenangan besar yang patut disyukuri. Pemandangan sederhana itu meninggalkan kesan yang begitu mendalam.

“Dari situ saya merasa, menjadi guru itu bisa memberikan manfaat yang sangat besar,” tuturnya.

Mungkin bagi orang lain, peristiwa itu hanya berlangsung beberapa menit. Namun bagi Fajar, momen tersebut menjadi salah satu peneguh keyakinan bahwa jalan hidup yang ia pilih bukanlah sebuah kebetulan.

Sejak saat itu, ia semakin percaya bahwa setiap pertemuan dengan peserta didik adalah kesempatan untuk berbuat baik. Bahkan ketika berhadapan dengan murid yang dianggap sulit sekalipun. Ia tidak pernah melihat mereka sebagai masalah, sebaliknya, ia melihat mereka sebagai kesempatan.

“Ketika ada murid yang bermasalah, di situlah ladang pahala kita untuk membimbing mereka menjadi lebih baik,” tuturnya.

Kalimat itu menggambarkan cara pandangnya terhadap profesi guru. Guru bukanlah hakim yang sibuk mencari kesalahan. Guru adalah pendamping yang membantu anak menemukan jalan pulang ketika mereka tersesat. Pandangan tersebut juga membuatnya tidak pernah berhenti belajar.

Fajar meyakini bahwa seorang pendidik harus terus memperbaiki dirinya, sebagaimana ajaran yang sering ia pegang, uthlubu ilma minal mahdi ilal lahdi—belajar sejak lahir hingga akhir hayat. Karena sesungguhnya, guru yang baik bukan hanya mengajarkan pelajaran.

Guru yang baik juga terus memberi teladan sebagai pembelajar. Prinsip itu tidak hanya ia terapkan di sekolah. Ia juga berusaha menghidupkannya di rumah.

Pendidikan dari Rumah

Di balik kesibukannya sebagai Kepala Satuan Pendidikan SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta, Fajar adalah seorang suami dan ayah. Bersama istrinya yang juga berprofesi sebagai guru, ia membangun keluarga dengan nilai-nilai yang sama seperti yang ia tanamkan di sekolah. Baginya, pendidikan pertama selalu dimulai dari rumah.

Setiap pagi, sebelum menjalankan berbagai aktivitas di sekolah, ia berusaha meluangkan waktu untuk anak-anaknya. Membangunkan mereka, memandikan, mengantar ke sekolah. Kemudian, di penghujung hari, menjemput mereka kembali.

Rutinitas yang bagi sebagian orang mungkin tampak sederhana itu justru menjadi ruang paling berharga untuk membangun kedekatan. “Hal-hal sederhana itu yang membuat kedekatan dengan anak tetap terjaga,” katanya.

Malam hari sering menjadi waktu bagi keluarga kecil mereka untuk kembali berkumpul. Belajar bersama, berbincang ringan, makan malam, atau sekadar mendengarkan cerita anak-anak tentang apa yang mereka alami sepanjang hari. Bagi Fajar, kehadiran tidak selalu diukur dari lamanya waktu. Tetapi dari kualitas perhatian yang diberikan.

Keseimbangan antara keluarga dan pekerjaan bukan berarti membagi waktu secara sama rata, melainkan memastikan bahwa ketika bersama keluarga, ia hadir sepenuhnya sebagai seorang ayah. Dan ketika berada di sekolah, ia hadir sepenuhnya sebagai seorang pendidik. Tentu tidak semua hari berjalan mudah. Ada kalanya pekerjaan menumpuk, program sekolah harus diselesaikan. Guru membutuhkan arahan, orang tua ingin berdiskusi. Sementara berbagai tantangan baru terus bermunculan seiring perubahan dunia pendidikan.

Di tengah situasi seperti itu, rasa lelah menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindari. Namun Fajar memiliki cara sederhana untuk mengembalikan energinya. Ia memilih menenangkan diri, membaca, merenung, lalu kembali mengingat alasan mengapa ia memulai semua perjalanan ini.

“Selama kita ingat tujuan awal, lelah itu akan terasa ringan.”

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun justru di sanalah kekuatan seorang pendidik diuji. Sebab dunia pendidikan memang tidak selalu menghadirkan tepuk tangan. Banyak keberhasilan yang tidak langsung terlihat. Banyak pengorbanan yang mungkin tidak pernah diketahui orang lain. Tetapi bagi seorang guru, kebahagiaan sering kali hadir dalam bentuk yang sangat sederhana.

Sebuah ucapan terima kasih dari murid. Kabar bahwa anak didiknya diterima di perguruan tinggi impian, pesan singkat yang datang bertahun-tahun setelah mereka lulus atau sekadar melihat seorang anak yang dahulu pemalu kini mampu berdiri dengan percaya diri mengejar cita-citanya.

Momen-momen seperti itulah yang membuat Fajar semakin yakin bahwa profesi guru bukan sekadar pekerjaan. Ia adalah perjalanan hidup. Perjalanan yang tidak selalu mudah. Tidak selalu lurus. Namun selalu memberi kesempatan untuk meninggalkan jejak kebaikan dalam kehidupan orang lain. Barangkali itulah makna terdalam yang terus ia pegang hingga hari ini. Bahwa pada akhirnya, seorang guru tidak diingat karena banyaknya materi yang pernah diajarkan. Seorang guru dikenang karena kehidupan yang berhasil ia sentuh. Karena harapan yang berhasil ia tumbuhkan.

Dan karena keyakinan yang ia tanamkan kepada setiap anak bahwa mereka mampu menjadi pribadi yang lebih baik daripada hari ini. Itulah sebabnya, bagi Fajar Arif Herjayanto, menjadi guru bukanlah fase dalam perjalanan karier. Menjadi guru adalah cara hidup.

Sebuah pengabdian yang tidak berhenti ketika bel sekolah berbunyi, tidak selesai ketika jam kerja berakhir, dan tidak pernah benar-benar usai selama masih ada generasi yang membutuhkan tangan untuk dibimbing, hati untuk dikuatkan, dan teladan untuk diikuti. (Chaidir)