Kerja Keras Itu Akhirnya Berbuah Manis

Bagian Kedua

  • Mengukir prestasi di perpustakaan. Dedi berhasil membawa Perpustakaan SMP Negeri 4 Pakem meraih Juara II Lomba Perpustakaan tingkat DIY melalui pembenahan sistem dan layanan.
  • Mendorong transformasi digital. Bergabung di Al Azhar Yogyakarta World Schools, ia mengembangkan otomasi perpustakaan berbasis SLiMS, menyusun pedoman pengelolaan, dan dipercaya menjadi Koordinator Pengelola Perpustakaan se-DIY.
  • Berani menapaki tantangan baru. Meski berlatar belakang pustakawan, Dedi menerima kepercayaan bergabung dalam tim marketing sekolah, membuka babak baru dalam perjalanan profesionalnya di dunia komunikasi pendidikan.

PRESTASI sering kali datang tanpa direncanakan. Ia lahir sebagai buah dari ketekunan yang dijalani setiap hari.

Begitulah yang dialami Dedi Priyatno selama mengelola perpustakaan SMP Negeri 4 Pakem. Pekerjaan yang semula ia anggap sebagai ruang belajar perlahan berubah menjadi laboratorium tempat ia menguji ilmu yang diperoleh selama kuliah. Di sana, ia belajar bahwa mengelola perpustakaan bukan hanya tentang menyusun buku di rak, melainkan membangun sebuah sistem agar pengetahuan dapat diakses dengan mudah oleh siapa pun yang membutuhkannya.

Bersama dua rekannya yang sama-sama berlatar belakang ilmu perpustakaan, Dedi mulai membenahi berbagai aspek pengelolaan. Sistem klasifikasi diperbaiki, administrasi koleksi ditata ulang, layanan peminjaman dibuat lebih tertib, hingga tata ruang perpustakaan disusun agar lebih nyaman bagi siswa.

Perubahan itu tidak dilakukan dalam semalam. Semua berlangsung perlahan, melalui pekerjaan-pekerjaan kecil yang sering kali luput dari perhatian. Namun, justru dari proses itulah kualitas perpustakaan mulai terlihat.

Suatu ketika, perpustakaan SMP Negeri 4 Pakem mendapat perhatian dari Dinas Pendidikan Daerah Istimewa Yogyakarta. Dengan koleksi lebih dari dua ribu buku dan pengelolaan yang dinilai memenuhi standar, perpustakaan tersebut dipandang layak mengikuti lomba perpustakaan tingkat provinsi.

“Dari dinas melihat ini potensial. Tinggal dirapikan, dipoles.”

Kesempatan itu menjadi tantangan sekaligus pembuktian.  Ilmu yang selama ini hanya dipelajari di bangku kuliah kini benar-benar diterapkan di lapangan. Dedi bersama tim melakukan berbagai penyempurnaan, mulai dari kelengkapan administrasi, standar layanan, hingga penguatan fungsi perpustakaan sebagai pusat pembelajaran.

Juara Kedua Perpustakaan DIY

Kerja keras itu akhirnya berbuah manis. Perpustakaan SMP Negeri 4 Pakem berhasil meraih Juara II Lomba Perpustakaan Tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta.

Bagi sebagian orang, penghargaan tersebut mungkin hanya sebuah trofi. Namun, bagi Dedi, penghargaan itu adalah pengingat bahwa proses yang dilakukan dengan sungguh-sungguh pada akhirnya akan menemukan jalannya sendiri.

“Alhamdulillah bisa sampai provinsi, walaupun baru juara dua.”

Lebih dari sekadar prestasi, pengalaman tersebut mengubah cara pandangnya terhadap profesi pustakawan. Ia semakin yakin bahwa perpustakaan tidak boleh dipandang sebagai ruang sunyi tempat buku-buku disimpan, melainkan ruang tumbuh bagi peserta didik.

Karena itu, ia mulai mendorong kolaborasi dengan para guru, terutama guru Bahasa Indonesia. Perpustakaan dimanfaatkan sebagai ruang belajar tambahan bagi siswa yang sedang mempersiapkan lomba maupun menghadapi ujian. Anak-anak didorong untuk datang bukan karena kewajiban, tetapi karena menemukan manfaat dari ruang tersebut.

“Kami menyediakan ruang untuk siswa yang ingin belajar lebih fokus, persiapan lomba, atau ujian.”

Di balik berbagai pencapaian itu, Dedi tetap menyadari bahwa SMP Negeri 4 Pakem hanyalah awal perjalanan. Ia tidak pernah menganggap pekerjaan pertamanya sebagai tujuan akhir.

“Bagi saya itu media belajar. Batu loncatan. Bukan berarti meremehkan, tapi di sana saya belajar banyak hal untuk bekal ke depan.”

Kalimat itu menggambarkan cara berpikirnya yang selalu berorientasi pada proses. Bahkan ketika penghasilannya masih berkisar antara Rp400.000 hingga Rp600.000 setiap bulan, ia tidak pernah menjadikan nominal tersebut sebagai ukuran keberhasilan.

Baginya, pengalaman jauh lebih berharga daripada gaji.

Melangkah ke AYWS

Setelah sekitar dua setengah tahun mengabdi, ia mulai merasa memiliki bekal yang cukup untuk melangkah ke tantangan berikutnya. Kesempatan itu datang pada tahun 2014 ketika seorang rekan sesama pustakawan mengabarkan adanya lowongan di Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS).

Ia mengikuti proses seleksi bersama sekitar tiga belas pelamar lainnya. Persaingan berlangsung cukup ketat hingga hanya menyisakan dua kandidat. Dari proses tersebut, Dedi akhirnya dinyatakan lolos dan dipercaya bergabung di lingkungan Al Azhar.

Menariknya, penempatan pertamanya bukan di jenjang SMP seperti yang dibayangkan banyak orang, melainkan di KB-TK Islam Al Azhar 31 Yogyakarta.

Perubahan itu sempat membuatnya terkejut.

Jika sebelumnya ia sehari-hari bergelut dengan buku paket, ensiklopedia, dan referensi ilmiah tingkat SMP, kini ia berhadapan dengan rak-rak berisi buku cerita bergambar yang penuh warna.

“Awalnya kaget, tapi ternyata justru lebih sederhana.”

Pengalaman tersebut kembali mengajarkannya satu hal penting: setiap jenjang pendidikan memiliki karakter yang berbeda, sehingga cara mengelolanya pun tidak bisa disamakan.

Di lingkungan Al Azhar, Dedi merasakan perbedaan yang cukup signifikan dibandingkan tempat kerjanya sebelumnya. Perhatian lembaga terhadap pengembangan perpustakaan jauh lebih besar. Dukungan anggaran yang lebih fleksibel membuat berbagai inovasi lebih mudah diwujudkan. Kesempatan itu tidak disia-siakan.

Melihat sebagian besar pengelola perpustakaan di unit-unit Al Azhar belum memiliki latar belakang ilmu perpustakaan, Dedi mulai memikirkan sebuah sistem yang dapat mempermudah pekerjaan mereka.

Perkenalkan SLiMS dan Buku Pedoman

Ia kemudian memperkenalkan Senayan Library Management System (SLiMS), sebuah perangkat lunak otomasi perpustakaan berbasis digital yang saat itu belum banyak digunakan di lingkungan sekolah. Penerapannya dimulai dari unit tempat ia bertugas.

Melalui sistem tersebut, proses peminjaman, pengembalian buku, pencatatan koleksi, hingga penghitungan denda keterlambatan tidak lagi dilakukan secara manual.

“Semua sudah otomatis di sistem. Jadi jauh lebih rapi dan efisien.”

Inovasi itu ternyata mendapat sambutan positif. Perlahan, sistem yang semula diterapkan di satu unit mulai diadopsi oleh unit-unit Al Azhar lainnya. Kepercayaan terhadap dirinya pun semakin besar.

Ia kemudian dipercaya menjadi Koordinator Pengelola Perpustakaan (Pustakawan) Al Azhar se-Daerah Istimewa Yogyakarta. Tanggung jawabnya bukan lagi mengelola satu perpustakaan, melainkan mendampingi berbagai unit sekolah agar memiliki standar layanan yang sama.

Dedi tidak ingin seluruh pengetahuan hanya tersimpan di kepalanya sendiri. Karena itu, ia mulai menyusun Buku Pedoman Pengelolaan Perpustakaan yang dirangkum dari berbagai referensi, pengalaman lapangan, serta praktik-praktik terbaik yang pernah ia pelajari.

Tujuannya sederhana. Ia ingin setiap pustakawan memiliki panduan kerja yang jelas sehingga kualitas layanan tidak bergantung pada satu orang.

Bagi Dedi, berbagi pengetahuan adalah cara terbaik agar sebuah sistem dapat terus berjalan, bahkan ketika dirinya sudah tidak lagi berada di posisi tersebut. Namun, perjalanan hidup kembali membawanya ke arah yang sama sekali berbeda.

Tim Marketing

Sekitar tahun 2017, Al Azhar mulai membentuk tim marketing untuk memperkuat promosi sekolah, terutama seiring berkembangnya berbagai program baru, termasuk boarding school. Tanpa pernah membayangkannya sebelumnya, Dedi dipanggil oleh bagian sumber daya manusia. Ia diminta bergabung dalam tim tersebut.

Reaksi pertamanya bukan kegembiraan, melainkan kebingungan. Seumur hidup, ia tidak pernah belajar tentang pemasaran, tidak pernah membayangkan harus mempromosikan sekolah, melakukan presentasi di depan calon orang tua, atau melakukan perjalanan ke berbagai daerah untuk mengenalkan lembaga. Dunia marketing terasa sangat jauh dari perpustakaan. Namun, sekali lagi, ia memilih menerima kepercayaan itu.

“Awalnya saya merasa tidak punya pengalaman di bidang marketing. Tapi saya pikir, ini kesempatan untuk belajar.”

Keputusan tersebut menjadi salah satu titik balik terbesar dalam perjalanan kariernya. Tanpa ia sadari, langkah meninggalkan rak-rak buku justru sedang membawanya menuju ruang yang lebih luas—ruang komunikasi, tempat ia kelak menemukan panggilan baru dalam membangun citra sebuah lembaga pendidikan. (Chaidir)