Bagian Keempat
- Murid sebagai pusat pembelajaran. Melalui Student-Led Conference (SLC), peserta didik mempresentasikan proses belajar, melakukan refleksi, dan membangun kepercayaan diri dengan dukungan guru serta orang tua.
- Pembelajaran kontekstual dan berbasis riset. Fajar mengintegrasikan berbagai mata pelajaran dalam proyek nyata serta membimbing siswa mengembangkan penelitian yang berangkat dari persoalan di lingkungan sekitar.
- Prestasi lahir dari budaya berpikir. Pendampingan yang konsisten mengantarkan tim riset siswa meraih Medali Emas OPSI 2023, membuktikan bahwa keberanian berpikir dan berinovasi mampu menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat.
BAGI sebagian orang, ruang kelas adalah tempat guru menjelaskan dan murid mendengarkan. Namun, bagi Fajar Arif Herjayanto, ruang kelas seharusnya menjadi tempat di mana murid menemukan keberanian untuk berpikir, berbicara, dan menunjukkan siapa diri mereka.
Ia percaya bahwa ukuran keberhasilan seorang guru bukanlah seberapa lama ia berbicara di depan kelas, melainkan seberapa banyak kesempatan yang diberikan kepada peserta didik untuk tumbuh. Keyakinan itu melahirkan sebuah pendekatan pembelajaran yang kini menjadi salah satu ciri khas SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta, yakni Student-Led Conference (SLC).
Sekilas, kegiatan ini tampak seperti presentasi biasa. Namun, sesungguhnya SLC adalah sebuah perubahan cara pandang tentang pendidikan. Dalam kegiatan tersebut, guru tidak lagi menjadi pusat perhatian. Orang tua pun tidak datang hanya untuk menerima laporan perkembangan belajar anak.
Justru para siswa sendirilah yang berdiri di depan, menjelaskan perjalanan belajar mereka, memaparkan proyek yang telah diselesaikan, menceritakan tantangan yang dihadapi, sekaligus merefleksikan apa yang mereka pelajari selama proses tersebut. Guru hadir sebagai pendamping, orang tua menjadi pendengar, sedangkan murid menjadi tokoh utama.
Menurut Fajar, perubahan sederhana ini memiliki makna yang sangat besar. Ia ingin setiap anak belajar menyampaikan gagasan dengan percaya diri, mempertanggungjawabkan hasil pekerjaannya, sekaligus belajar melakukan refleksi terhadap proses yang telah dilalui. Yang dipresentasikan pun bukan pekerjaan yang berdiri sendiri.
Berbagai mata pelajaran dirancang saling terhubung dalam sebuah proyek terpadu. Ilmu Pengetahuan Alam dipadukan dengan Matematika, Bahasa Indonesia dikolaborasikan dengan Bahasa Inggris, dan berbagai disiplin ilmu lainnya dipertemukan dalam persoalan nyata yang harus dipecahkan bersama.
Dengan cara itu, peserta didik tidak lagi memandang setiap mata pelajaran sebagai ruang yang terpisah, melainkan sebagai ilmu yang saling melengkapi untuk memahami kehidupan. Momen yang paling membahagiakan bagi Fajar justru terjadi ketika para orang tua mengikuti kegiatan tersebut. Tidak sedikit yang datang dengan rasa penasaran, namun mereka pulang dengan rasa bangga.
“Di rumah anaknya mungkin pendiam, tapi di sini bisa tampil luar biasa.”
Pengalaman itu menjadi pengingat bahwa setiap anak sesungguhnya memiliki potensi yang sering kali belum sepenuhnya terlihat. Sekolah hanya perlu menyediakan ruang yang tepat agar potensi tersebut berani muncul ke permukaan. Karena itu, Student-Led Conference terus disempurnakan.
Sekolah menghadirkan student reflection corner, tempat setiap peserta didik menuliskan refleksi mengenai kekuatan, kelemahan, serta target yang ingin mereka capai pada proses belajar berikutnya. Di sisi lain, orang tua juga diberikan ruang melalui parents reflection corner untuk menyampaikan masukan, apresiasi, maupun harapan terhadap perkembangan putra-putri mereka. Dengan demikian, proses belajar tidak berhenti ketika presentasi selesai. Ia berubah menjadi dialog yang melibatkan tiga pihak sekaligus: sekolah, siswa, dan keluarga. Bagi Fajar, pendidikan terbaik selalu lahir dari kolaborasi.
Semangat yang sama juga ia bawa ketika mengajar bahasa Inggris. Selama bertahun-tahun menjadi guru mata pelajaran tersebut, ia menyadari bahwa banyak siswa menganggap bahasa Inggris sebagai pelajaran yang sulit dan menakutkan. Padahal, menurutnya, bahasa tidak mungkin dikuasai apabila peserta didik takut menggunakannya. Karena itu, ia memilih menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.
Anak-anak didorong untuk aktif berbicara, berdiskusi, menulis, bermain peran, hingga mengikuti berbagai permainan edukatif berbasis digital yang sesuai dengan karakter generasi masa kini. Ia memahami bahwa rentang konsentrasi peserta didik saat ini jauh berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu.
“Fokus anak sekarang pendek, jadi setiap sepuluh sampai lima belas menit perlu ada ice breaking yang menyenangkan,” ujarnya.
Teknologi bukanlah pengganggu pembelajaran. Justru apabila dimanfaatkan secara tepat, teknologi dapat menjadi jembatan yang membuat peserta didik semakin aktif, kreatif, dan berani mencoba. Keberanian mencoba itulah yang kemudian berkembang menjadi keberanian meneliti.
Membimbing Riset
Perjalanan Fajar membimbing riset siswa sesungguhnya bermula dari dunia robotika. Saat itu, peserta didik lebih banyak mengikuti berbagai perlombaan yang berorientasi pada permainan teknologi, seperti robot sumo atau roket air. Namun, ia melihat peluang yang jauh lebih besar.
“Saya berpikir, kenapa tidak kita arahkan ke karya ilmiah yang berbasis robotika?” kata Fajar.
Sejak saat itu, arah pembinaan mulai berubah. Fajar mengajak peserta didik melihat lingkungan sekitar dengan sudut pandang yang berbeda. Bukan sekadar melihat persoalan, melainkan mencari solusi.
Berbagai ide sederhana mulai bermunculan. Ada yang merancang alat pengaduk teh otomatis, ada pula yang mengembangkan alat penetes obat mata agar lebih presisi. Semua berangkat dari persoalan kecil yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
“Prinsipnya sederhana, apa yang ada di lingkungan mereka, itu yang mereka pecahkan,” jelasnya.
Baginya, riset bukan tentang membuat sesuatu yang rumit. Riset adalah latihan untuk peka terhadap kebutuhan masyarakat. Melalui proses itu, peserta didik belajar mengamati, berpikir kritis, berdiskusi, bekerja sama, mencoba, gagal, lalu memperbaiki kembali hasil pekerjaannya.
Tentu perjalanan tersebut tidak selalu mudah. Sebagai pembimbing, Fajar harus berhadapan dengan karakter remaja yang masih mudah kehilangan fokus. Ada kalanya semangat mereka menyala, namun tidak jarang pula tiba-tiba padam.
“Kadang semangat, kadang tidak. Di situ peran kami untuk terus memotivasi,” katanya.
Kesulitan lain adalah menemukan ide. Untuk mengatasinya, ia tidak langsung memberikan jawaban. Sebaliknya, peserta didik diajak membaca berita, mengamati lingkungan, berdiskusi, hingga mencari persoalan yang benar-benar dekat dengan kehidupan mereka. Baginya, ide terbaik selalu lahir dari kepekaan. Kesabaran panjang itu akhirnya membuahkan hasil.
Momen Paling Membanggakan
Tahun 2023 menjadi salah satu momen paling membanggakan dalam perjalanan pengabdiannya sebagai pendidik. Tim riset yang ia dampingi berhasil meraih medali emas Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) pada kategori Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Rekayasa.
Karya yang mereka hadirkan bukan sekadar memenuhi tuntutan lomba. Mereka mengembangkan aplikasi mitigasi bencana Gunung Merapi yang dirancang untuk membantu masyarakat menentukan titik aman ketika terjadi erupsi. Ketika melihat anak-anak didiknya mempresentasikan hasil penelitian dengan percaya diri di hadapan dewan juri nasional, Fajar merasakan kebahagiaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
“Alhamdulillah, mereka bisa presentasi dengan lancar dan menjawab pertanyaan juri dengan baik. Itu momen yang sangat membanggakan.”
Prestasi tersebut bukan hanya menjadi medali emas pertama bagi sekolah di ajang OPSI. Lebih dari itu, prestasi tersebut membuktikan bahwa ketika sekolah memberikan ruang untuk berpikir, bereksperimen, dan berkolaborasi, anak-anak mampu melampaui batas yang selama ini mungkin tidak pernah mereka bayangkan.
Di situlah Fajar semakin yakin bahwa pendidikan terbaik bukanlah pendidikan yang sekadar mengajarkan jawaban. Pendidikan terbaik adalah pendidikan yang membuat setiap anak berani mengajukan pertanyaan, berani mencari solusi, dan berani bermimpi bahwa karya kecil mereka suatu hari nanti dapat memberi manfaat bagi banyak orang. (Chaidir)






