Kualitas Guru Jadi Kunci Keberhasilan Pembelajaran Alquran

  • Guru menjadi kunci utama keberhasilan pembelajaran Alquran melalui keikhlasan, kesabaran, dan keteladanan, bukan hanya penguasaan metode.
  • Diklat Guru Tahfidz menghadirkan Trainer Tilawati Pusat untuk membekali peserta dengan strategi pembelajaran yang aktif, terukur, dan menyenangkan.
  • SD Islam Al Azhar 31 Yogyakarta berkomitmen meningkatkan kualitas pendidikan Alquran guna membentuk generasi Qur’ani yang berilmu, berkarakter, dan mengamalkan nilai-nilai Alquran.

AYWS – Keberhasilan pembelajaran Alquran tidak hanya ditentukan oleh metode yang digunakan, tetapi terutama oleh kualitas guru yang mengajarkannya. Keikhlasan, kesabaran, dan keteladanan seorang pendidik dinilai menjadi fondasi utama dalam membentuk generasi yang mencintai Alquran.

Pesan tersebut mengemuka dalam Pendidikan dan Latihan (Diklat) Guru Tahfidz yang diselenggarakan SD Islam Al Azhar 31 Yogyakarta di Auditorium Al Hafidh Kampus 1 Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS), Rabu (8/7/2026). Kegiatan yang menghadirkan Trainer Tilawati Pusat itu menjadi bagian dari upaya meningkatkan kompetensi guru dalam mengelola pembelajaran Alquran yang lebih efektif, terukur, dan menyenangkan.

Wakil Ketua Bidang Keagamaan Badan Pengelola Pelaksana Harian (BPPH) Al Azhar Yogyakarta World Schools, Dr. Yogi E. Ginanjar, mengatakan berbagai metode pembelajaran Al-Qur’an terus berkembang dan memberikan banyak pilihan bagi lembaga pendidikan. Namun, menurutnya, keberhasilan proses pembelajaran pada akhirnya tetap bergantung pada sosok guru yang mendampingi peserta didik.

“Dalam pembelajaran Alquran, metode memang memiliki peran yang sangat penting. Namun, yang lebih menentukan keberhasilan adalah kualitas guru itu sendiri, mulai dari keikhlasan, kesabaran, hingga keteladanan yang ditunjukkan dalam kesehariannya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, seorang guru Alquran tidak hanya bertugas mengajarkan cara membaca dan menghafal ayat-ayat suci, tetapi juga membimbing peserta didik agar mampu mencintai Alquran serta menjadikannya sebagai pedoman hidup. Oleh karena itu, kompetensi pedagogis perlu berjalan beriringan dengan kualitas akhlak dan spiritual seorang pendidik.

Menurut Yogi, metode pembelajaran seperti Tilawati, Umi, Wafa, Usmani, maupun berbagai metode lainnya memiliki karakteristik dan keunggulan masing-masing. Seluruh metode tersebut dapat memberikan hasil yang optimal apabila diterapkan oleh guru yang memahami kebutuhan peserta didik sekaligus mampu menciptakan suasana belajar yang nyaman.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa proses pendidikan Alquran merupakan perjalanan bertahap. Tahapan tersebut dimulai dari qira’ah, yakni membiasakan peserta didik membaca Alquran. Selanjutnya meningkat menjadi tilawah, yaitu membaca dengan penghayatan dan pemahaman yang lebih baik terhadap kandungan ayat.

Setelah itu, peserta didik diarahkan menuju tahfidz, yakni menghafal Alquran sebagai bentuk menjaga kalamullah, kemudian meningkat pada tahap tafsir untuk memahami makna dan pesan yang terkandung dalam setiap ayat.

“Tujuan akhirnya bukan sekadar mampu membaca atau menghafal Alquran, tetapi menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Ketika nilai-nilai Alquran telah hidup dalam perilaku seseorang, di situlah pendidikan mencapai makna yang sesungguhnya,” katanya.

Pembelajaran yang Menyenangkan

Sementara itu, Trainer Tilawati Pusat, Ustadz Muhammad Hasan Zamzami, S.Ag., mengatakan masih banyak lembaga pendidikan yang telah melaksanakan pembelajaran Alquran dengan baik, namun belum memiliki sistem pembelajaran yang terstruktur dan kurikulum yang jelas.

Melalui pelatihan tersebut, para peserta dibimbing menyusun perencanaan pembelajaran, menetapkan target capaian, serta mengimplementasikan metode pembelajaran aktif yang dapat diterapkan di sekolah masing-masing.

Menurutnya, pembelajaran tahfidz seharusnya berlangsung dalam suasana yang menyenangkan dan tidak memberikan tekanan kepada peserta didik. Kurikulum maupun target hafalan perlu disusun secara realistis sesuai kemampuan setiap anak agar proses belajar dapat berlangsung secara bertahap dan berkelanjutan.

Selain itu, Trainer Tilawati Pusat juga membuka ruang pendampingan bagi para guru setelah pelatihan selesai sehingga implementasi program dapat terus dikawal dan dievaluasi.

Tingkatkan Kompetensi Guru

Kepala Satuan Pendidikan SD Islam Al Azhar 31 Yogyakarta, Ardian Sinta Budiyono, mengatakan Diklat Guru Tahfidz merupakan bagian dari komitmen sekolah untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran taklim melalui penguatan kapasitas para guru.

Ia berharap seluruh peserta dapat memanfaatkan pelatihan tersebut untuk memperkaya wawasan, meningkatkan kompetensi profesional, serta memperbaiki praktik pembelajaran di kelas.

“Dengan pembelajaran yang semakin berkualitas, guru tidak hanya mentransfer ilmu kepada peserta didik, tetapi juga membentuk karakter, menanamkan nilai-nilai keislaman, serta membimbing mereka menjadi generasi Qur’ani yang berakhlak mulia,” ujarnya.

Melalui penguatan kompetensi guru secara berkelanjutan, SD Islam Al Azhar 31 Yogyakarta berharap kualitas pembelajaran Alquran di lingkungan Al Azhar Yogyakarta World Schools terus meningkat sehingga mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cakap membaca dan menghafal Alquran, tetapi juga memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari. (Chaidir)