Kisah Surifah Mengajar TK Sejak 2005: Tantangan, Kebahagiaan dan Kepuasan yang Tak Bisa Diungkap

SLEMAN — Di tengah dinamika dunia pendidikan, kisah Surifah menjadi bukti bahwa jalan pengabdian seorang guru tidak selalu berjalan lurus mengikuti disiplin ilmu yang ditempuh di bangku kuliah. Lulusan Sarjana Biologi dari Universitas Gadjah Mada ini justru menemukan panggilan hidupnya di ruang-ruang kelas anak usia dini.

Sejak 2005, Surifah mengabdikan diri sebagai pendidik di lingkungan KB-TK Islam Al Azhar Yogyakarta. Hingga 2026, lebih dari dua dekade ia bertahan, mendampingi generasi demi generasi anak-anak pada fase awal kehidupan mereka. Sekilas, pilihan ini tampak tidak linear dengan latar belakang keilmuannya di bidang Biologi. Namun, justru di situlah letak keunikan sekaligus kekuatannya.

Sebagai lulusan non-kependidikan, Surifah melengkapi dirinya dengan mengikuti program Akta IV—sertifikasi yang pada masanya menjadi syarat penting bagi sarjana untuk dapat mengajar. Melalui program tersebut, ia tidak hanya dibekali kemampuan pedagogik, tetapi juga memahami cara menyampaikan materi secara efektif sesuai karakter peserta didik. Akta IV menjadi jembatan yang menghubungkan keilmuan sains yang dimilikinya dengan dunia pendidikan.

Meski mengajar di tingkat taman kanak-kanak, latar belakang Biologi yang dimiliki Surifah tidak lantas terpinggirkan. Sebaliknya, pengetahuan tentang makhluk hidup, lingkungan, dan pola hidup sehat menjadi bekal berharga dalam menyusun pembelajaran yang kontekstual dan menyenangkan. Ia mengenalkan konsep dasar sains secara sederhana—melalui pengenalan hewan, tumbuhan, hingga kebiasaan menjaga kebersihan dan kesehatan.

Bagi Surifah, mengajar bukan sekadar transfer pengetahuan. Dunia pendidikan anak usia dini menuntut kesabaran, ketelatenan, serta kreativitas tinggi. Di situlah ia menemukan kecintaannya. Interaksi dengan anak-anak, menyaksikan perkembangan mereka dari hari ke hari, hingga menjadi bagian dari proses tumbuh kembang mereka, menghadirkan kepuasan batin yang sulit diungkapkan.

“Saya sangat senang dan menikmati mengajar di taman kanak-kanak,” ujar Surifah saat ditemui di ruang kelasnya, belum lama ini.

Perjalanan panjang selama lebih dari 20 tahun menjadi bukti bahwa pilihan tersebut bukanlah kebetulan. Di tengah perubahan sistem pendidikan yang kini menekankan linearitas dan sertifikasi formal seperti Pendidikan Profesi Guru (PPG), pengalaman dan dedikasi Surifah tetap menjadi modal utama yang tak ternilai.

Awal Perjalanan

Surifah menceritakan, setelah lulus dari Universitas Gadjah Mada pada 2002 dan meraih Akta IV dari Universitas Ahmad Dahlan pada 2004, ia menemukan sebuah iklan lowongan guru di Sekolah Islam Al Azhar Yogyakarta pada 2005. Tanpa ragu, ia langsung menyiapkan berkas lamaran dan mengikuti proses seleksi.

Beberapa hari setelah mengirim lamaran, namanya tercantum dalam pengumuman sebagai peserta yang lolos seleksi administrasi. Tahapan berikutnya pun tidak mudah. Ia harus bersaing dengan ratusan pelamar dalam tes tertulis yang digelar di Gedung Asrama Haji Ring Road Utara, Yogyakarta.

Selain tes tertulis, seleksi juga meliputi tes psikologi, micro teaching, serta wawancara yang melibatkan para dosen dari Universitas Negeri Yogyakarta dan praktisi pendidikan, termasuk Kepala KB-TK Islam Al Azhar 31 Yogyakarta, Suhartini MPd.

Setelah melalui seluruh rangkaian seleksi, nama Surifah akhirnya dinyatakan lolos bersama sejumlah kandidat lainnya. Saat itu nama-nama yang terncantum selain Surifah, yaitu Dewi Astuti, Iyut Ayudya, Ruli Kamelia Hapsari, Fifi, dan Eri. Mereka Adalah kelompok guru. Sedangkan dari kelompok nonguru diantaranya Ema dan Yudi. Mereka kemudian diwajibkan mengikuti pelatihan dan magang sebagai bagian dari proses pembentukan guru.

Untuk itu, Surifah bersama rekan-rekannya dikirim ke TK Islam Al Azhar Jaka Permai di Bekasi—sebuah program dari Yayasan Pesantren Islam Al Azhar sebagai induk lembaga pendidikan Al Azhar di Indonesia.

“Di sana kami mengikuti pendidikan sekaligus magang sebagai pendidik taman kanak-kanak selama satu setengah bulan, dari Mei hingga Juni 2005,” kenangnya.

Hari Pertama dan Perjalanan Panjang

Sekembalinya ke Yogyakarta, Surifah bersama tim mulai mempersiapkan operasional pembelajaran di sekolah baru. Menjelang hari pertama masuk pada 18 Juli 2005, seluruh guru dan pegawai sibuk menyiapkan ruang kelas dan berbagai kebutuhan belajar.

Namun, pengalaman hari pertama mengajar menjadi momen yang tak terlupakan. “Kaget juga, anak-anak banyak yang menangis,” ujarnya sambil tersenyum mengenang.

Pada tahun pertama, total murid tercatat 63 anak. Namun, seiring waktu, kepercayaan masyarakat terus meningkat. Tahun ajaran 2006/2007 jumlah siswa melonjak menjadi 113 anak, dan pada 2012/2013 mencapai puncaknya dengan 209 siswa.

Perkembangan ini turut diiringi dengan ekspansi lembaga. Yayasan terus membangun unit-unit sekolah baru hingga pada 2026 telah berkembang menjadi puluhan unit di wilayah Sleman, Bantul, dan Wonosari.

Pada 2011, saat KB-TK Islam Al Azhar 38 Bantul didirikan, Surifah dipercaya untuk turut membantu mengajar di sana. “Tahun pertama jumlah muridnya hanya lima anak,” tuturnya.

Terus Belajar dan Mengabdi

Di tengah kesibukannya mengajar, Surifah terus meningkatkan kapasitas diri. Ia melanjutkan studi di Universitas Terbuka dengan mengambil jurusan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan lulus pada 2016. Perjalanan kariernya pun terus berlanjut, berpindah tugas antara unit sekolah sesuai kebutuhan yayasan, hingga akhirnya kembali mengajar di KB-TK Islam Al Azhar 38 Bantul pada 2023.

Selama bertahun-tahun mengajar, Surifah mengaku banyak belajar dari beragam karakter anak dan orang tua. “Saya orangnya selalu ingin tahu. Dari berbagai karakter itu, saya banyak belajar. Yang penting, sebagai guru kita harus selalu memperbarui pengetahuan agar bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman,” katanya.

Lebih dari itu, ada kepuasan batin yang menjadi alasan utama ia tetap bertahan. “Kepuasan itu tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Tapi saya sangat senang berada di dunia TK,” tambahnya.

Sosok di Balik Perkembangan

Di balik pesatnya perkembangan sekolah-sekolah Al Azhar di Yogyakarta—yang kini dikenal dengan nama Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS)—Surifah menilai ada peran penting sosok pemimpin yayasan. Ia menyebut Hafidh Asrom sebagai figur visioner yang memiliki gagasan besar dalam mengembangkan pendidikan.

“Pak Hafidh itu visioner. Banyak pemikirannya yang tidak terduga dan yang tak terpikiran oleh banyak orang. Beliau juga sangat baik, ibadahnya kuat, dan peduli terhadap seluruh karyawan,” ungkap Surifah.

Kisah Surifah menegaskan bahwa latar belakang pendidikan bukan satu-satunya penentu arah hidup seseorang. Dengan ketekunan, kemauan belajar, dan ketulusan dalam mengabdi, seseorang dapat menemukan makna sejati dalam profesinya. Dalam hal ini, Surifah telah membuktikan bahwa seorang sarjana Biologi pun dapat menjadi guru taman kanak-kanak yang berdedikasi, sekaligus menghadirkan sentuhan sains dalam dunia anak-anak. (Chaidir)